Showing posts with label CERPEN. Show all posts
Showing posts with label CERPEN. Show all posts

Monday, 16 March 2015

Cerpen: Cinta, Sudahlah Aku...




      

     Mega hitam mulai menutupi kota. Super mendung. Hujan deras akan segera turun.

   “Taksi!! Taksi!!” teriak seorang gadis, tapi semua taksi yang terlihat tak ada yang mau berhenti. Berulangkali tangan kirinya diangkat ke depan mukanya, lalu melihat jam tangannya. Tak sabar.

    “Ah sial, rupanya semua orang sedang menggunakan taksi sore ini,” keluhnya.

Tampak dari kejauhan sebuah taksi tiba-tiba berhenti di depannya. Hatinya menjadi tenang. Anvita Avi mulai masuk dan duduk. Menghembuskan nafas lega.

    “Ayo jalan Pak,” perintahnya. Anehnya, taksi itu tak segera berjalan hingga tiba-tiba seorang laki-laki berpostur tinggi, berkacamata hitam besar, dan berkemeja putih rapi masuk dan menutup pintu. Taksi segera berjalan. Hujan deras turun lebat.

      Selang beberapa detik...

    “Habis jemput anaknya dari kuliah ya Pak?” tanya pria berbau wangi ini, lalu tersenyum ke Anvita. Anvita hanya tersenyum dengan mencoba memahami keadaan yang sedang terjadi ini. Entah kenapa, ia tidak mempertanyakan, mungkin karena di luar sudah hujan.

   “Haa, anaknya. Anak siapa Pak Roy?” komentarnya, lalu menoleh ke belakang. Tak mengenal.

   “Nona siapa?” tanya Roy heran kini. Anvita tersenyum.

   “Lho saya yang masuk pertama kali di taksi ini,” ucap Anvita membela diri.

  “Tapi saya yang pesan dan langganan taksi ini setiap hari,” Roy merasa benar. Waktu seolah terhenti. Ada sebuah kesalahpahaman yang sedang terjadi.

**
      Selang beberapa hari. Di ruangan front office sebuah kantor.

   “Sudah-sudah tak usah dibahas yang kemarin. Lupakan saja,” ucap Roy merasa malu. Dia tak menyangka reporter radio yang diundang khusus untuk meliput acara pembukaan cabang supemarketnya yang baru adalah Anvita Avi. Radio tempat Anvita bekerja memang yang paling terkenal di kota ini. Tak hanya didengarkan kaum muda, tapi seluruh lapisan masyarakat.

   “Memang saya yang salah. Ketika itu aku ada siaran dan harus memaksa taksi itu berbelok ke arah tempatku bekerja hingga kita bertengkar soal arah jalan,” jelasnya mencari jalan terbaik.

   “Mari ikut saya untuk berkeliling di supermarket saya yang baru,”ajaknya kini.

   “Tolong nanti yang ditekankan adalah bahwa produk-produk yang dijual merupakan produk dengan kualitas nomor satu dan murah,”pesannya lalu berkeliling melihat lokasi foodcourt yang rencananya akan menyediakan menu-menu vegetarian dan berbahan organik.

** 
    “Boleh dibilang kau ini sudah pacaran dengannya,” ucap Rani menegaskan ketika melihat rekannya ini sering jalan berdua dengan Roy, pengusaha muda yang saat ini sedang menekuni dunia supermarket.

     “Ah kamu, pertemuan-pertemuan itu kan dalam rangka kerjasama bisnis dengan radio kita. Kita harus melayani klien dengan baik dong,” sanggah Avanti meski isi hatinya memang begitu senang ketika membahas tentang banyak pertemuan yang dilakukannya dengan Roy.

    “Masak pertemuan bisnis dengan sering makan malam, sekali-kali nonton bioskop, lalu makan siang bareng. Aku sampai lupa menghitungnya,” suara tak percaya Rani sambil mengitung dengan jari-jarinya yang tak cukup untuk menghitung. Avi hanya menjulurkan ujung lidahnya karena kehabisan kata-kata untuk berkomentar.

    “Kalau aku sih mau saja. Lajang, muda, pengusaha, dan kaya. Sikat saja Vi,”komentarnya.

    “Auuuw, sakit tahu!!” suara Rani kesakitan karena lengannya dicubit Avi keras.

*
      Kini Avi sedang on air...

   “Selamat sore menjelang malam para pendengar tercinta. Apa kabar, pasti kabar baik untuk semuanya. Kali ini, topik yang akan kita bahas selama dua jam ke depan adalah tentang jatuh cinta. Siapa yang tak pernah jatuh cinta. Silakan cerita apa saja, yang happy-happy boleh dan yang sedih-sedih juga boleh. Terserah. Yuk ceritakan pengalamanmu dengan menelepon di nomor biasa, 989555. Kami tunggu ya,” Avi menekan tombol play untuk memutar sebuah lagu.

     Lagu yang diputar mulai habis dan operator mulai memberi tanda untuk segera siaran lagi.

    “Ayo siapa yang mau sharing cerita tentang pengalaman jatuh cintamu. Yuk segera telepon,” suara Via memancing para pendengarnya. Suara dering telepon pun berbunyi.

    “Halo dengan siapa ini,” tanya Via antusias.

    “Dengan R, panggil saja R,” jawab seseorang yang menelepon dengan gayanya yang misterius.

   “Oke R, yuk ceritakan kisah cintamu,” katanya menyilakan. Avi merasa tidak asing dengan suara ini, tapi dia belum meyakini jika itu suaranya.

   “Akhir-akhir ini, aku sedang dekat dengan seseorang. Perjumpaan kami pun tak disangka seolah ini memang sudah menjadi jalan hidupku. Aku tak tahu apakah ini disebut cinta atau bukan. Aku hanya merasa nyaman saja dengannya. Matanya seperti matahari bagiku, ada sinar yang memancar meneduhkanku apalagi parasnya. Aku hanya ingin bersamanya, berbagi waktu dengannya. Tak ada yang lain. Hanya ingin menemaninya hingga akhir masa kalau boleh. Yang ingin kutanyakan kepada penyiar dan para pendengar, apa yang harus kulakukan. Demikian, terima kasih,” lalu terdengar suara telepon terputus.

    “Ayoo siapa yang memberi saran untuk cerita cinta R tadi,” tanya Via kepada pendengarnya. Tak sampai beberapa detik telepon berbunyi. Terus berdering dengan penelepon yang berbeda.

    “Itu cinta. Itu artinya cinta. Segera tembak saja kalau aku,” komentar dari seorang pendengar.

   “Sudah R, katakan saja kau mencintainya. Ditolak urusan nanti,”saran dari pendengar lain.

    “Itu cinta sejatimu, ayo lamar dia R,” suara memaksa dari pendengar lain.

Kini siaran radio justru diisi oleh banyak saran dari puluhan pendengar yang menyarakan untuk si R segera menyatakan, mengungkapkan cintanya. Lima menit menjelang siaran selesai, telepon berdering lagi.

    “Halo dengan siapakah ini. Ini adalah penelepon terakhir di siaran ini ya,” tanya Via memastikan agar tak ada yang menelepon lagi.

   “Ini dengan R tadi. Bolehkan saya sedikit berkomentar dengan tanggapan-tanggapan tadi,” meminta izin.

   “Karena kamu telah menjadi bintang radio di sore ini. Kamu diijinkan. Silakan,” ucap Via memperbolehkan.

    “Terima kasih buat para pendengar yang sudah memberikan saran tadi. Minggu besok aku akan menyatakannya dengan segala konsekuensinya. Terima kasih banyak atas saran-sarannya. Terima kasih,” suara telepon ditutup dan acara ini diakhiri dengan lagu romantis Right Here Waiting dari Richard Marx.

    “Buruan pindah gih. Acaraku sudah mau mulai nih,” usir Rani kepada Avanti karena akan segera on air dengan acara yang berbeda. Avanti segera berdiri meninggalkan ruangan siaran.

   “Avi tunggu! Aku lupa. Baca tulisanku di kertas ini ya. Kamu akan terkejut,” panggil Rani menghentikan langkah Rani yang katanya juga ingin segera pulang.

*

    Hati Avanti tiba-tiba mulai resah malam ini. Jantungnya berdebar-debar, sangat kencang ketika melihat tulisan yang ditulis Rani. Rasa dingin sehabis mandi tiba-tiba hilang seketika. Wajahnya tiba-tiba terlihat pucat di cermin tapi bukan karena sakit. Ada rasa kegembiraan yang besar di dadanya. Akankah hal itu akan segera terjadi.

Tulisannya:

Kau tahu Vi, siapakah R yang tadi menelepon. Itu adalah nomor Roy. Aku tahu karena nomor-nomor hp klien bisnis tercatat di database radio kita. Mampus kamu, besok Minggu akan ditembak Roy. Selamat ya dan semoga itu kamu...Hahahaha (ketawa ala iblis)

    Rasa lelah dan kantuk yang tadi terasa kuat kini hilang. Avanti menjadi resah di tempat tidurnya dengan kening sedikit berkeringat. Avanti pasti tidak akan bisa tidur nyenyak hingga hari Minggu terlewati. Kini kedua matanya hanya menatap langit yang berbintang banyak seolah meminta restu dan jawaban dari langit.

** 


   “Jadi makan kan?” tanya Roy dan Anvita mengangguk setuju.

    “Tak terasa kita sudah dua minggu jadian. Tidak sangka ya?” tanya Roy setelah menjemput Anvita selesai siaran dari stasiun radionya.

   “Entah kenapa tanpamu sedetik pun. Aku juga merasa sepi Roy,” tanganya merangkul Roy yang sedang menyetir.

   “Ya beginilah cinta, yang aku paling suka dari cinta. Bahagia,” komentar Roy sambil melirik Anvita. Mobil berbelok. Menuju ke cafe langganan yang sering mereka datangi akhir-akhir ini.

    “Terima kasih sudah menemaniku dengan hari-hari yang menakjubkan Vi,” ucapan terima kasih Roy setelah selesai makan dengan mengecup kening Anvita. Alunan musik instrumen piano dengan lagu First Love sungguh pas menemani mereka malam ini.

  “Aku juga berterima kasih karena kau sudah membuatku menjadi berarti. Aku tak mau kehilanganmu Roy,” ucap Anvita lalu memeluk Roy erat. Telepon seluler Roy tiba-tiba berdering. Roy tampak serius berbicara dengan si penelepon. Anvita justru semakin menikmati hubungan mereka hingga malam ini. Tak ada kekecewaan, hanya kegembiraan yang ada.

**

   Pagi-pagi benar, Roy menuju bandara. Dia telah dijemput dengan pesawat jet pribadinya. Sebuah surat dititipkan ke pegawainya, sebuah surat untuk Anvita. Roy tidak mau menelepon karena akan membuatnya khawatir. Tampak Roy juga dilema antara memilih orangtuanya atau Anvita.

   Selang beberapa jam, surat tersebut telah sampai di tangan Anvita. Kedua matanya mulai menitikan air mata karena kini ada jarak dan waktu yang akan memisahkannya dengan Roy. Berat sungguh rasa hati dari Anvita yang sebetulnya ingin selalu berjumpa dengan Roy.

   Dari belakang Rani memeluknya dan memberikan tisu. Roy rupanya menyusul orang tuanya ke Rusia, Moskow. Orangtuanya pun sudah bukan lagi berkebangsaan Indonesia karena Ayahnya memang orang Rusia dan Ibunya juga sudah resmi menjadi warga negara Rusia tahun kemarin. Ibunya ternyata sakit keras, stroke dengan komplikasi hati dan jantung.

     “Kalau sudah jodoh tidak akan lari kemana Vi, tenang,” katanya menenangkan rekannya ini.

**

     Sudah seminggu ini, belum ada kabar dari Roy. SMS dan telepon tidak ada. Saat ditelepon, nomor HP selalu di luar jangkuan. Anvita mengisi kerinduannya dengan mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi berdua. Yang tertinggal seolah hanya kenangan. Anvita seolah-olah merasa Roy selalu dan masih ada di dekatnya. Anvita terus bertahan karena kenangan ini. Kini Anvita sedang duduk di cafe yang sering mereka kunjungi untuk makan malam.

    Sebuah no hp bukan dari provider Indonesia tiba-tiba masuk ke telepon seluler Anvita.

    “Roy!!” panggil gembira Anvita dengan senyum ceria. Dalam beberapa detik, Kedua mata Anvita menangis. Bibirnya tersedu-sedu tak bisa menahan kesedihan ini. Berulangkali, Anvita hanya menjawabnya dengan “Jangan Roy”, “Kembalilah ke sini Roy”, dan “Aku tak mau Roy”

    “Maafkan aku Vi, ini memang tidak mudah. Kalau aku memang tak kembali, tolong cari saja laki-laki lain saja. Aku tahu ini memang tidak mudah. Maafkan aku,” sambungan telepon terputus. Rupanya aset bisnis di Indonesia keluarga Roy dijual untuk pengobatan Ibunya di Rusia. Alhasil, tak ada yang bisa dilakukan lagi di Indonesia selain di Rusia.

   Anvita tampak terus menangis dan terpuruk di salah satu bangku cafe. Membeku dengan kesedihannya. Kenyataan pahit tak bisa ditolaknya meski cinta masih begitu membuainya.

***

Monday, 16 February 2015

"Cerita-cerita yang Tidak Pernah Pulang" karangan ImperialJathee


Banyak cerita yang menarik di dalamnya baik cerita pendek maupun cerita mininya, misal May yang harus merasakan lika-liku kehidupan cintanya di dunia maya dalam “Bintang Timur di dalam Blogku & Stuttgart”, Laki-laki yang harus menerima kekalahan karena tidak mendapatkan cintanya dalam “Laki-laki Kalah”, hingga kisah tentang suami yang memiliki banyak nilai merah dalam “Suami dengan Raport Merah”.

Dunia memang punya banyak cerita. Dari yang cerita penuh cinta, cinta tanpa syarat, perselingkuhan, penantian, rasa nasionalisme, bahkan korupsi melengkapi buku kumpulan “Cerita-cerita yang Tak pernah Pulang”. Terus, bagaimana dengan perjalanan kisahmu? Mungkin ada dari sekian kisah di dalam buku ini yang mirip atau bahkan benar-benar terjadi seperti yang kamu alami seperti dalam buku kumpulan cerita ini? 

Ayo segera baca cerita pendek dan cerita mini yang menarik dalam buku kumpulan cerita ini!


Salah cerita mini di buku kumpulan cerita "Cerita-cerita yang Tidak Pernah Pulang" :

Kalau Aku...Kalau Aku
“Sebenarnya apa yang kamu rasakan saat bersamaku Jeng?”

“Apa ya Mas?” katanya malu-malu.

“Kalau aku sedang malang, apa yang kamu rasakan?”

“Bahagia Mas.”

“Kalau aku sedang untung?”

“Bahagia Mas.”

“Kok sama jawabannya.”

“Ya, mau apa lagi Mas.”

“Kalau aku sakit, apa kau bahagia juga?”

“Bahagia Mas.”

“Maksudmu?” matanya melotot sedikit.

“Bahagia bisa merawatmu Mas. Gitu.”

“Syukurlah, hehehehe,”komentar suaminya lega, mengelus dada.

“Kalau aku banyak utang, masih bahagia?”

“Bahagia juga Mas.”

“Loh, kenapa?” suaminya heran.

“Bahagia bisa hidup susah dengan Mas,”balasnya.

“Kau memang istri yang baik Jeng,”pujinya.

“Lalu, kalau aku punya istri lagi?”tanyanya masih menguji.

“Bahagia Mas,”jawabnya.

“Haaa, betul itu, “ucapnya ragu.

“Kalau Mas bahagia, aku juga ikut bahagia Mas,”jelasnya dengan senyum.

“Kalau aku,”dipotong cepat oleh istrinya.

“Pokoknya bahagia Mas, jangan khawatir,”jelas istrinya menggoda.

“Baiklah, aku takkan bertanya lagi.”

***

Identitas Buku

Judul : CERITA-CERITA YANG TAK PERNAH PULANG

Penulis : Imperial Jathee

Penerbit : Penerbit Din's

ISBN : 978-602-336-037-6

Tebal : vi + 220 halaman

Bisa pesan di inbox di FB Penerbit Din,s klik https://www.facebook.com/penerbit.dins?fref=nf








Monday, 26 May 2014

Cerpen: Pengakuan -AntonChekov-

Pengakuan
-Anton Chekov-
Cuaca cerah hari itu. Aku seperti seorang sopir taksi yang mendapat sekeping uang emas yang diberikan tanpa sengaja oleh penumpangnya. Aku ingin tertawa, menangis dan berdoa. Aku berada di sorga ke tujuh: aku baru diangkat menjadi bendahara kantor ! Tapi bukan karena itu aku jadi gembira luar biasa, bukan pula karena tanganku kini bisa menggenggam sesuatu – aku bukan pencuri dan aku siap menghancurkan siapapun yang mengatakan bahwa aku suatu ketika aku pasti menjadi pencuri. Aku bersuka cita atas promosi dan kenaikan gaji yang tak banyak, itu saja. Tidak lebih. Dan aku juga merasa gembira untuk alasan yang lain : begitu juga bendahara, tiba-tiba aku merasa seperti memakai kaca mata berwarna merah mawar.
Dalam seketika semua orang tampak begitu berubah. Astaga ! Semua orang tampak berkembang. Yang buruk jadi tampan. Yang jahat kini baik: yang sombong jadi begitu rendah hati, yang ketus kini ramah. Rasanya mataku ini baru saja dibukakan dan tampak olehku bahwa sebenarnya semua orang itu indah, dan baru sekarang aku menyadari akan adanya sifat tak terduga yang tersimpan dalam setiap pribadi.
“Aneh,” kataku pada diri sendiri, “Mungkin sesuatu telah terjadi pada mereka, atau mungkin aku yang telah begitu tolol hingga tidak melihat sifat-sifat itu sebelumnya. Betapa ramahnya setiap orang!”
Pada hari kenaikan pangkat itu, bahkan ZN Kazusof berubah. Ia seorang direktur, seorang yang angkuh, pongah, seorang yang merasa dirinya terlalu tinggi untuk memperhatikan hal-hal kecil. Dia menghampiriku dan – apa yang telah terjadi padanya? – tersenyum ramah dan menepuk-nepuk punggungku.
“Kau ini masih terlalu muda untuk bersombong diri, anakku. Itu sikap yang tak bisa dimaafkan!” katanya.
“Mengapa kau tak pernah mampir ke tampat kami? Wah, kau ini memalukan sekali, anak-anak muda yang datang ke rumah kami dan di sana segalanya selalu menyenangkan. Putri-putriku selalu menanyakan engkau : ‘Mengapa Gregory Kuzmich tidak di undang kemari, Papa? Dia begitu baik! Tapi mungkinkah aku mengajaknya? Hm, akan kucoba, kataku pada mereka. Akan kutanyakan padanya. Nah, jangan mencari perkara yang bisa memecat dirimu sendiri, anakku. Datanglah.”
Luar biasa! Apa yang telah terjadi padanya ? Apa dia telah kehilangan akal sehatnya ?
Biasanya, dia seperti raksasa garang, dan sekarang, lihatlah ! Ketika aku pulang pada hari itu, aku terperanjat: Mama tidak menyediakan dua macam lauk seperti biasanya. Malam itu ada empat ! Untuk minum teh di sore hari ada roti putih dan selai. Hari berikutnya, empat macam lauk dan selai lagi. Ketika tamu datang berkunjung, kami minum coklat. Hari ketiga begitu lagi.
“Mama,” kataku, “Apa yang telah terjadi dengan engkau? Untuk apa semua kemewahan ini, Mama sayang? Mama kan tahu, gajiku tidak jadi dua kali lipat. Kenaikannya tidak seberapa.”
Mama memandangku dengan wajah keheranan, “Hm ! Memangnya apa yang kau harapkan bakal terjadi atas uang itu – ditabung?”
Hanya Tuhan yang tahu apa yang sedang merasuki mereka. Papa memesan mantel bulu, membeli topi baru, merawat diri dengan air mineral, dan mulai makan anggur – pada musim salju ! Dalam waktu beberapa hari, aku menerima surat dari saudara laki-lakiku. Saudaraku yang satu ini tidak pernah bisa akur denganku. Kami berpisah karena perbedaan pandangan hidup: ia menganggap aku ini parasit yang egois, tidak mau berkorban dan karena alasan ini menganggap hina diriku.
Dalam suratnya ia menulis : Adikku sayang, aku mencintaimu dan kau tak dapat bayangkan seperti apa hebatnya penderitaan yang menyiksaku akibat pertengkaran kita dulu. Mari kita perbaiki segalanya. Mari saling ulurkan tangan dan biarkan damai berjaya ! Aku memohon dengan sangat kepadamu. Sambil menanti surat darimu, kukirim peluk cium untukmu dari kakakmu yang tercinta dan tersayang. Yevlampy. Duhai kakakku sayang. Aku menjawab suratnya dan menyatakan bahwa aku sangat mencintainya dan sangat bahagia.
Dalam waktu seminggu, aku telah menerima telegram.
Terimakasih. Bahagia. Kirimkan 100 rubel. Penting. Salam untukmu. Yevlampy
Aku kirimkan 100 rubel. Bahkan dia pun berubah. Dia tidak mencintaiku. Suatu ketika, waktu aku memberanikan diri memberi isyarat tentang betapa kacaunya hatiku ini, ia menuduhku lancang dan tertawa keras-keras di hadapanku. Ketika bertemu denganku seminggu setelah promosiku, ia menampakkan lesung pipitnya, tersenyum dan tampak canggung.
“Apa yang terjadi denganmu?” tanyanya sambil menatapku.
“Kau jadi sangat tampan. Kapan kau lakukan ini semua?”
 Lalu, “Ayo kita dansa. . ..”
 Dalam sebulan, ia telah memberiku seorang mertua.
Aku telah jadi begitu tampan ! Ketika uang dibutuhkan untuk pesta pernikahan, aku mengambil 300 rubel dari peti kas. Mengapa tidak, kalau kau pasti akan mengembalikannya begitu habis menerima gaji? Pada saat yang sama aku mengambil 100 rubel untuk Kaszusov. Ia minta pinjaman dan aku tak mungkin menolaknya. Ia roda utama di kantor dan bisa memecat siapa pun dengan sekali angkat bicara. Seminggu sebelum penangkapan, di usulkan agar aku membuat pesta. Perduli setan, biar mereka minum dan makan dengan rakus kalau memang itu yang mereka inginkan. Aku tak menghitung jumlah tamu malam itu. Tapi aku ingat bahwa delapan kamarku penuh dengan kerumunan manusia : tua dan muda. Semua ada di sana, juga mereka yang mampu memaksa Kazusov untuk menekuk lututnya. Putri-putri – yang tertua telah menjadi milikku – dalam pakaian yang gemerlap; bunga-bunga yang mereka kenakan di sekujur tubuh mereka membuat aku harus membayar 1000 rubel.
Pesta itu meriah sekali dengan kerlip lampu kristal, musik yang memekakkan telinga dan champagne yang melimpah ruah. Ada toast-toast singkat : seorang wartawan mempersembahkan ode untukku dengan sebuah balada.
“Di Rusia ini kita tidak tahu bagaimana kita harus menghargai orang seperti Gregory Kuzmich!” teriak Kazusov sehabis santap malam, “Memalukkan! Rusia patut dikasihani!”
Mereka berteriak-teriak, menyanjung dan menciumku, berbisik-bisik di balik punggungku. Dengan jari, mereka mendorong hidung mereka ke arahku, mendesah, “Ia mencuri uang itu. Bajingan!” mereka berbisik dan menyeringai dengki. Tetapi desahan dan seringai itu tidak menghalangi mereka untuk makan, minum dan bersenang-senang. Tidak ada serigala atau orang sakit gula yang makan seperti mereka.
Istriku, bermandikan emas dan permata, datang menghampiriku dan berbisik, “Mereka bilang kau mencuri kas. Kalau itu benar, aku ingatkan kau, aku tidak mau lagi hidup dengan seorang pencuri. Aku akan pergi !” dan ia merapikan gaunnya yang 5.000 rubel itu.
 Biar setan menggenggam mereka ! Malam itu Kazusov mendapat 5.000 rubel dari aku. Yevlampy mengambil jumlah yang sama. “Kalau ada yang mereka bisikan tentang kau itu benar,” kata saudaraku yang beradab itu, sambil mengantongi uang tersebut, “Awas ! Aku tidak mau jadi kakak seorang pencuri!”
Setelah pesta dansa selesai kubawa mereka ke luar kota dengan troika. Kami selesai pukul enam pagi. Lelah oleh anggur dan perempuan-perempuan. Mereka menumbangkan tubuh di kereta. Ketika siap untuk pulang, mereka meneriakan ucapan perpisahan, “Besok ada inspeksi! Merci!”
Bapak dan Ibu yang budiman, aku tertangkap, atau untuk lebih jelasnya: kemarin aku dihormati dan dihargai oleh segala pihak. Hari ini aku seorang bajingan, dan pencuri. Menangislah keras-keras sekarang, kecamlah aku, sebarkan berita, adili dan tanyakan semuanya, singkirkan aku, tulislah editorial dan lempari aku batu, hanya tolonglah – Jangan semua, jangan semua orang!

Fin

Cerpen Anak: "Laika, Akhirnya Suka Makan Pisang"

    
(sumber foto: pinterest)

     “Cobalah satu sisir pisang dulu,” perintah Ibunya sambil menyetrika baju sekolahnya.
     “Malas Bu,” balasnya sambil terus mewarnai buku gambarnya.
     “Kenapa dari dulu kau tak suka pisang?” suara Ibunya selalu penasaran dengan anak perempuannya ini.
     “Rasanya lembek Bu, lengket, hieeek,” nada suara begitu jijik.
     “Itu bagus untuk kesehatanmu Laika,” nasehat Ibunya.
     “Sudah Bu, aku tak suka pisang,” Ibunya kini berhenti menyetrika setelah mendengar suaranya terasa kesal.
      “Kalau kau makan satu pisang, nanti Ibu belikan sepatu baru,” Ibunya terus menggoda.
      “Ah Ibu membuatku bingung, tapi sepatuku kan masih bagus. Ah, tidak apa-apa tidak punya sepatu baru,” jawabnya tak tergiur dengan tawaran Ibunya.
      “Kau sibuk sekali, sedang mengerjakan apa Laika?”
      “Tugas mewarnai dari Bu Lisa, besok dinilai Bu,” jelasnya lalu membuat Ibunya tak ingin menggoda lagi anak perempuannya ini.
**
      Bu Lisa kini sedang menerangkan tentang buah-buahan. Tema ini dibahas setelah pelajaran tentang sayur-sayuran selesai kemarin. Beberapa gambar buah telah siapkan untuk peraga.
      “Anak-anak apakah kalian suka buah-buahan?” sambil tangan kanannya menyembunyikan satu gambar buah di belakang punggungnya. Laika asyik memperhatikan.
      “Sukaaaa Bu!!” jawab serentak dari muridnya.
      “Buah apa yang kalian suka?”
      “Semangka Bu!!” jawab Johan yang duduk di belakang Laika.
      “Kenapa kau suka semangka Johan?”
      “Rasanya manis apalagi warnanya yang berwarna merah, enaaak Bu,” jelasnya mantap.
      “Kalau kamu Nuri suka buah apa?” sahabat yang berjejeran dengan Laika kebingungan.
       “Satu saja kamu sebut Nuri,” karena tak ada jawaban dari yang ditanya ini.
       “Semua suka sih Bu, bagaimana kalau nanas saja,” suara Nuri kini memilih sebuah nama buah. Setelah bertanya pada beberapa murid, kini pandangan Bu Lisa melihat ke arah Laika.
        “Sekarang Ibu mau tanya, buah apakah ini Laika?” ditunjukkannya kini sebuah gambar buah di depan kelas.
         “Pi..pi..pisang Bu,”jawabnya dengan agak ragu.
         “Kenapa kamu tak yakin Laika?” nada Bu Lisa penasaran.
         “Dia kan tak suka pisang Bu,” Nuri menyahut begitu saja. Teman-temannya tertawa.
        “Baiklah, kalau begitu buah apa yang kalian tidak suka?” kini Bu Lisa mengambil sebuah buku dan pulpen, lalu mencatat buah apa saja yang tidak disukai muridnya. Kini, murid-muridnya yang berjumlah lima belas anak ini ditanyai satu per satu.
         “Setelah Bu Guru mencatat satu per satu buah apa yang kalian tidak suka, tugas di rumah untuk dibawa ke sekolah adalah membawa satu buah yang kalian tidak suka, yaaa!!” kini terdengar bel sekolah berbunyi dengan diiringi nada kekecewaan dari banyak murid.
        “Jangan lupa besok harus bawa ya anak-anak,” Bu Lisa memperingatkannya lagi.
**
        “Bu, pisang yang kemarin masih?” tanya Laika yang membuat Ibunya menjadi tiba-tiba terbatuk saat sedang sibuk merajang sayuran.
        “Apa Ibu tak salah dengar Laika?”
       “Tidak salah Bu, masih kan pisangnya?”
       “Coba kau buka lemari dapur itu, masih ada nggak?” Laika kini membuka lemari dapur.
       “Yah, habis Bu. Belinya di mana Bu?”  Ibunya kini tersenyum saat mendengarnya.
       “Kau ingin memakan pisang kan Laika?”
       “Yee, Ibu salah. Ini tugas dari Bu Lisa untuk dibawa ke sekolah kok,” bantahnya.
       “Ya sudah nanti tunggu Ayahmu pulang ya. Biar diantar ke toko buah di depan komplek,” kini Laika masuk kamar untuk menunggu ayahnya pulang dari bekerja.
*
        Setelah didapat dengan susah payah, Laika kini sudah merasa tenang karena sudah memenuhi tugas dari Bu Lisa. Nuri muncul dari pintu, lalu menuju bangkunya.
        “Kau sudah bawa Ka,” tanya Nuri di sebelahnya. Laika lalu menunjukkan benda yang dibungkus koran dari dalam laci.
         “Apa itu?” Nuri melihat bungkusan yang begitu tak rapi dan gemuk.
        “Ini pisang Ri,” jelasnya pelan-pelan.
        Kini Bu Lisa telah masuk kelas dan mulai menanyakan apakah sudah membawa buah yang ditugaskan kemarin, lalu diperintah untuk membukanya di atas meja. Ekspresi raut muka lucu dari murid-murid Bu Lisa mulai tampak beraneka ragam.  Ada yang merasa eneg, tak suka, sedikit jijik dengan buah yang tak sukainya, termasuk Laika.
        “Apakah kalian mau memakannya sekarang?” tanya Bu Lisa yang membuat murid sekelasnya serentak menjawab tidak. Setelah berulangkali ditanyakan, mereka tetap tak mau.
        “Baiklah, daripada buah itu mubazir. Berikanlah buah yang kamu tidak sukai itu kepada temanmu yang suka,” perintah yang menyenangkan muridnya ini. Seisi kelas kini bertukar buah dengan buah yang setidaknya tidak dibenci. Riuh kelas begitu terdengar dari luar.
**
       Hari Rabu ini, akan diadakan karyawisata di sebuah kebun binatang yang ada di kota. Bu Lisa memberikan tugas kepada masing-masing muridnya.
       “Anak-anak, tugas kalian nanti, pilihlah salah satu binatang yang kalian sukai, lalu besok diceritakan di depan kelas ya?” perintah Bu Lisa dengan begitu jelas.
       “Ya Buu,” jawab begitu mereka begitu senang. Kini, mereka keluar kelas satu per satu dengan begitu rapi berbaris. Oh iya, hari ini Laika tidak didampingi Ibunya, tapi dititipkan kepada Ibu Nuri.
*
       Setelah satu jam perjalanan, para murid kini berkeliling ke area kebun binatang dengan didampingi orang tua masing-masing, kecuali Laika setelah disepakati tempat pertemuan terakhir untuk berkumpul. Ada yang bergerombol. Ada pula yang sendiri-sendiri.
       “Jerapah binatang yang lucu ya?” tanya Nuri kepada Laika.
       “Kau akan memilih jerapah Ri?” Laika menyimpulkan.
       “Ya, setelah berputar-putar tadi. Lihat lehernya, panjang sekali. Apalagi warnanya, bagus,” komentar Nuri memuji jerapah.
      “Oh iya, kalau kamu memilih apa?” Tanya Nuri menanyakan binatang yang dipilih Laika.
       “Aku belum tahu. Bagiku, binatang-binatang yang sudah kita lihat tadi belum ada yang menarik,” jelasnya dengan arah mata yang menoleh ke kanan dan ke kiri, seolah mencari jika ada binatang yang menarik. Setelah terus berjalan, sampailah mereka di depan pondokan yang tampak begitu ramai. Laika dan Nuri segera bergegas ke sana.
     “Nah ini, binatang seperti inilah yang menarik Ri,” komentarnya kepada orang utan yang bisa bertepuk tangan dan berhitung, lalu ada seekor yang sedang memakai kacamata hitam.
     “Iya betul lucu sekali binatang ini,” lalu sang penjaga hewan ini pun memberikan tantangan kepada para murid yang menonton. Tantangannya adalah selama lima menit duduk dengan lima orang utan yang sedang asyik dengan kesibukannya. Beberapa orangutan ini sudah jinak lho. Kini, Laika memberanikan diri. Tanpa diduga, penjaga memberikan pisang yang kulit ujungnya sudah dikupas kepada orang utan. Laika terkejut melihat ini, tapi apa daya seluruh temannya berteriak, “Makan!..Makan!...Makan!” karena orangutan ini ingin menyuapi Laika dengan pisangnya. Dengan perasaan ragu-ragu dan tak suka, akhirnya Laika pasrah, lalu memakan pisang itu. Setengah dari pisang habis dimakan Laika. Hadiahnya adalah boneka orangutan yang cukup besar untuk dibawa pulang. Semua temannya bersorak-sorai.
      “Setelah dirasakan lama-lama, rasa pisang ternyata enak juga ya Ri,” komentar Laika saat perjalanan pulang.
           “Nah tuh, kamu mulai suka makan pisang kan?”

       “Pulang nanti, aku akan makan pisang lagi kok Ri,” janjinya kini. Nuri pun senang bertepuk tangan karena Laika sudah tak benci lagi dengan pisang. Dengan erat, Laika kini terus memeluk boneka orangutannya yang begitu disukainya.
***

Thursday, 30 January 2014

Bet (Taruhan) -Anton Chekov-

Saat itu malam musim gugur yang gelap. Seorang bankir tua berjalan mondarmandir di ruang kerjanya terkenang pesta yang diselenggarakannya pada musim gugur lima belas tahun silam. Banyak orang pandai yang hadir dan percakapanpercakapan yang menarik di sana.
Di antara halhal yang mereka perbincangkan adalah masalah hukuman mati. Para tamu, tidak sedikit di antaranya adalah para sarjana dan jurnalis, sebagian besar tidak setuju atas pelaksanaan hukuman tersebut. Mereka menganggap hal itu sebagai suatu bentuk hukuman yang sudah kuno, tidak cocok untuk negara kristen dan amoral. Sebagian dari mereka berpendapat bahwa hukuman mati hendaknya diganti saja dengan hukuman penjara seumur hidup secara universal.
“Aku tak sependapat dengan kalian,” kata sang tuan rumah. “Aku sendiri belum pernah mengalami hukuman mati atau penjara seumur hidup, tapi bila kita boleh mengambil pertimbangan berdasarkan kenyataan yang sebenarnya, menurut pendapatku hukuman mati lebih bermoral dan lebih manusiawi daripada penjara. Eksekusi langsung membunuh, sedang penjara seumur hidup membunuh perlahanlahan. Siapakah algojo yang lebih manusiawi, orang yang membunuhmu dalam beberapa detik ataukah seseorang yang mencabut nyawamu selama bertahuntahun?” “Keduanya samasama amoral,” ujar seorang tamu, “karena tujuan keduanya sama, mengambil kehidupan. Negara bukan Tuhan. Ia tak punya hak untuk mengambil apa yang tak dapat diberikannya kembali.”
Di antara mereka terdapat seorang pengacara muda yang berusia sekitar dua puluh lima tahun. Ketika dimintai pendapatnya, ia berkata:
“Hukuman mati dan penjara seumur hidup samasama amoral, tapi kalau aku disuruh memilih di antara keduanya, aku pasti memilih yang kedua. Bagaimanapun juga, hidup lebih baik daripada tidak hidup sama sekali.”
Terjadilah perdebatan yang seru. Sang bankir yang saat itu masih muda dan temperamental tibatiba naik pitam, ia menggebrak meja dan berteriak kepada pengacara muda tadi:
“Bohong! Aku berani bertaruh dua juta kau takkan betah tinggal di sel walau hanya untuk lima tahun saja!”
“Kalau kau serius,” sahut sang pengacara, “aku bertaruh akan bertahan bukan hanya selama lima, tapi lima belas tahun.”
“Lima belas tahun. Jadi!” seru sang bankir. “Tuantuan, aku mempertaruhkan dua juta!”
“Setuju. Kau bertaruh dengan dua juta, aku dengan kebebasanku,” kata sang pengacara.
Maka taruhan itu jadilah. Sang bankir yang saat itu memiliki banyak uang tak dapat mengendalikan dirinya. Selama makan malam ia berkata kepada sang pengacara dengan canda:
“Sadarlah sebelum terlalu terlambat, anak muda. Dua juta tak ada artinya bagiku, namun kau akan kehilangan tiga atau empat tahun terbaik dalam hidupmu. Kubilang tiga atau empat, karena kau takkan kuat bertahan lebih lama lagi. Juga jangan lupa, hai orang malang, bahwa sukarela lebih berat daripada melaksanakan hukuman penjara sesungguhnya. Pikiran bahwa kau punya hak untuk membebaskan dirimu kapan saja, akan mengacaukan seluruh kehidupanmu di dalam sel. Aku kasihan padamu.”
Dan kini sang bankir berjalan mondarmandir mengenang ini semua dan bertanya pada dirinya sendiri:
“Kenapa kulakukan taruhan ini? Apa manfaatnya? Si pengacara itu kehilangan lima belas tahun kehidupannya dan aku membuang dua juta. Apakah ini akan meyakinkan masyarakat bahwa hukuman mati lebih buruk atau lebih baik daripada penjara seumur hidup? Tidak, tidak! Semua ini kesiasiaan belaka. Di pihakku itu sematamata akibat pikiran mendadak dari seorang yang kaya raya; sedang bagi si pengacara, sematamata karena kerakusan akan harta.”
Ia mengenang lebih jauh tentang apa yang terjadi setelah pesta malam itu. Diputuskan bahwa sang pengacara harus menjalani masa kurungannya di bawah pengawasan yang sangat ketat di sebuah paviliun yang terletak di kebun milik sang bankir. Juga telah disepakati bahwa selama masa itu ia akan kehilangan hak untuk melintasi ambang pintu, melihat kehidupan masyarakat, mendengar suarasuara manusia, dan menerima surat serta koran. Ia diijinkan memiliki sebuah alat musik, membaca bukubuku, menulis surat, minum anggur dan menghisap tembakau. Berdasar kesepakatan ia bisa berkomunikasi dengan dunia luar, namun hanya dengan keheningan, melalui sebuah jendela kecil yang khusus dibangun untuk itu.
Semua kesepakatan itu telah tertulis secara rinci, yang membuat masa kurungan itu amat sangat sunyi dan terasing, dan sang pengacara diwajibkan untuk tinggal tepat selama lima belas tahun mulai dari pukul dua belas pada tanggal 14 November 1870 sampai dengan pukul dua belas tanggal 14 November 1885. Sedikit saja ia melakukan pelanggaran atas syaratsyarat tadi, melepaskan diri walau hanya kurang dua menit dari waktunya, membebaskan sang bankir untuk membayarnya dua juta.
Selama tahun pertamanya di penjara, sang pengacara, sepanjang kesimpulan yang dapat ditarik dari catatancatatan kecilnya, sangat menderita karena kesendirian dan kesepian. Siang malam dari kamarnya terdengar suara piano. Ia menolak anggur dan tembakau. “Anggur,” tulisnya, “membangkitkan keinginankeinginan yang merupakan musuh utama bagi seorang tahanan, lagi pula tak ada yang lebih membosankan daripada minum anggur yang baik jika sendirian, sedangkan tembakau mengotori udara di kamarnya.”
Selama tahun pertama itu sang pengacara mendapat kiriman bukubuku tentang para tokoh, novelnovel kisah percintaan yang rumit, ceritacerita kejahatan dan fantasi, komedi, dan sebagainya.
Pada tahun kedua tidak terdengar lagi suara piano dan sang pengacara hanya meminta sastra Yunani dan Romawi kuno. Dalam tahun kelima suara musik kembali terdengar dan sang tahanan meminta anggur. Orangorang yang mengawasinya mengatakan bahwa dalam waktu setahun itu ia hanya makan, minum dan berbaring saja di ranjangnya. Ia sering menguap dan bicara sendiri sambil marahmarah. Ia tidak lagi membaca buku. Terkadang di malam hari ia duduk sambil menulis. Ia menulis dalam waktu lama kemudian merobekrobek semuanya di pagi hari. Lebih dari sekali terdengar ia menangis.
Dalam pertengahan tahun keenam, sang tahanan mulai mempelajari bahasabahasa, filsafat dan sejarah dengan penuh semangat. Ia menekuni bidangbidang ini dengan laparnya sehingga sang bankir bersusah payah mencari waktu untuk memenuhi kebutuhan bukubukunya. Dalam masa empat tahun telah sekitar enam ratus volume yang dibeli atas permintaannya.
Ketika gairah itu surut, sang bankir menerima surat berikut ini dari sang tahanan:
“Sipirku yang baik, kutulis barisbaris ini dalam enam bahasa. Tunjukkanlah kepada para ahli. Biar mereka membacanya. Jika mereka tak menemukan satu kesalahanpun, kuminta kau memerintahkan orangmu melepas tembakan di kebun. Dengan keributan itu, aku akan tahu bahwa usahaku selama ini tidaklah siasia. Para cendekiawan dari segala masa dan negeri berbicara dalam bahasabahasa yang berbeda, namun dalam diri mereka semua menyala semangat yang sama. Oh, seandainya kau tahu betapa bahagianya aku kini karena telah mengerti bahasabahasa mereka!”
Keinginan sang tahanan pun terpenuhi. Dua tembakan dilepas di kebun atas perintah sang bankir.
Selanjutnya, setelah tahun ke sepuluh, sang pengacara duduk tak bergeming di depan mejanya dan hanya membaca Kitab Perjanjian Baru. Sang bankir merasa heran bahwa seorang pria yang selama empat tahun telah menguasai enam ratus volume ilmu pengetahuan, akan menghabiskan hampir satu tahun hanya untuk membaca sebuah buku saja, yang mudah dipahami dan sama sekali tidak tebal. Perjanjian Baru itu kemudian digantikan dengan sejarah agamaagama dan teologi.
Selama dua tahun terakhir dari masa kurungannya sang tahanan dengan edanedanan membaca luar biasa banyak. Sekarang ia menekuni ilmuilmu alam, kemudian melahap karyakarya Byron dan Shakespeare. Ia mengirim catatancatatan kecil minta dikirimi dalam waktu yang bersamaan sebuah buku tentang kimia, sebuah textbook tentang kedokteran, sebuah novel, dan beberapa risalah filsafat atau teologi. Ia membacanya seakanakan sedang berenang di lautan di antara kepingankepingan kapal pecah, dan dalam perjuangan menyelamatkan nyawanya ia mencengkeram kepingkeping itu satu per satu dengan bersemangat.
Sang bankir mengenang semua ini dan berpikir:
“Pukul dua belas besok ia memperoleh kebebasannya. Berdasar kesepakatan, aku nanti harus membayarnya dua juta. Kalau kubayar, tamatlah riwayatku. Aku bangkrut selamanya….”
Lima belas tahun silam uangnya berjutajuta, tapi sekarang ia bahkan takut bertanya kepada dirinya sendiri manakah yang lebih banyak dimilikinya, uang ataukah hutang. Berjudi di pasar modal, spekulasi yang beresiko, dan kesembronoan yang tidak dapat dihilangkannya bahkan sampai tuanya, perlahanlahan telah mengantar bisnisnya kepada kehancuran. Dan pengusaha yang dulu pemberani, penuh percaya diri dan angkuh itu kini telah berubah menjadi seorang bankir biasa yang gemetar setiap kali terjadi fluktuasi harga di pasar.
“Taruhan terkutuk itu,” bisik pria tua tadi sambil memegangi kepalanya dalam keputusasaan. “Kenapa orang itu tidak mati saja? Umurnya baru empat puluh tahun. Ia akan membawa pergi sampai recehan terakhirku serta mengakhiri semuanya; pernikahanku, hidupku yang enak ini, perjudian di bursa saham, dan aku akan kelihatan seperti seorang kere yang iri dan mendengar katakata yang sama darinya setiap hari: ‘Aku berhutang budi padamu untuk kebahagiaan hidupku. Biarlah aku menolongmu.’ Tidak, itu terlalu banyak! Satusatunya cara melepaskan diri dari kebangkrutan dan aib adalah pria itu harus mati.”
Jam baru saja berdentang menunjukkan pukul tiga. Sang bankir menyimaknya. Di rumah itu semua orang sudah tidur, dan yang terdengar hanyalah bunyi pepohonan beku yang menderuderu di luar jendela. Dengan berusaha agar tidak menimbulkan suara, ia mengeluarkan kunci pintu yang tidak pernah dibuka selama lima belas tahun dari peti besinya kemudian mengantongi di mantelnya lalu keluar dari rumah. Di kebun suasananya gelap dan dingin. Saat itu sedang hujan. Ada kabut dan hembusan angin yang menderuderu, membuat pepohonan tidak bisa diam. Meskipun telah memaksakan matanya, sang bankir tetap tak dapat melihat tanah, patungpatung putih, paviliun ataupun pepohonan di kebun itu. Ketika sedang mendekati paviliun, ia memanggilmanggil sang pengawas dua kali. Namun tak ada jawaban. Agaknya sang pengawas telah mencari perlindungan dari cuaca buruk dan kini sedang tertidur di dapur atau rumah kaca.
“Kalau aku punya keberanian untuk menjalankan niatku,” pikir lakilaki tua itu, “kecurigaan pertama kali akan ditujukan kepada si pengawas.”
Di dalam kegelapan ia merabaraba mencari jalan dan pintu kemudian memasuki aula paviliun. Selanjutnya ia meneruskan langkahnya melewati sebuah celah sempit dan menyalakan sebatang korek api. Tak ada seorangpun di sana. Terlihat dipan tanpa seprei dan selimut serta sebuah kompor besi samarsamar di sudut ruangan. Segel yang tertempel di pintu masuk kamar tahananpun masih utuh.
Ketika koreknya mati, pria tua itu, yang gemetaran karena gejolak di dalam dirinya, mengintip lewat jendela kecil. Di kamar tahanan terdapat sebatang lilin yang menyala remangremang. Sang tahanan duduk sendirian di depan meja. Hanya punggung, rambut dan kedua belah tangannya saja yang nampak. Bukubuku yang terbuka berserakan di atas meja, kedua kursi, dan karpet di dekat meja.
Lima menit berlalu dan sang tahanan tak sekalipun menoleh. Lima belas tahun dalam kurungan telah mengajarkannya untuk duduk tak bergeming. Sang bankir mengetukngetuk jendela dengan jarin­ya, tapi sang tahanan tidak melakukan sebuah gerakanpun sebagai tanggapan. Lalu sang bankir dengan hatihati merobek segel pintu dan memasukkan kunci ke lubangnya. Lubang kunci yang berkarat mengeluarkan suara serak dan pintu pun berderit. Sang bankir mengharap segera mendengar seruan kaget dan bunyi langkahlangkah. Tiga menit berlalu dan suasana tetap hening di dalam, sebagaimana sebelumnya. Iapun memutuskan untuk masuk.
Pria itu duduk di depan meja, tidak seperti manusia biasa. Nampak mirip tengkorak terbalut kulit yang berambut gondrong keriting seperti perempuan dan berewokan. Wajahnya kuning pucat karena tak pernah tersentuh sinar matahari, kedua belah pipinya kempot, punggungnya panjang dan kecil, dan tangannya yang dipakai untuk menopangkan kepalanya sangat kurus dan lemah sehingga menyedihkan sekali bagi yang melihatnya. Rambutnya sudah beruban, dan tak seorangpun yang melihat sekilas ke wajah tua yang peot itu akan percaya bahwa ia baru berusia empat puluh tahun. Di atas meja, di depan kepalanya yang tertunduk, tergeletak secarik kertas yang berisi tulisan tangan yang kecilkecil.
“Manusia malang,” batin sang bankir, “dia sedang tertidur dan barangkali sedang melihat uang jutaan dalam mimpinya. Aku tinggal mengangkat dan melempar benda setengah mati ini ke atas dipan, membekapnya sebentar dengan bantal, dan otopsi yang paling teliti sekalipun tak akan menemukan sebab kematian yang tidak wajar. Tapi, pertamatama, mari kita baca apa yang telah ditulisnya di sini”.
Sang bankirpun mengambil kertas itu dan membacanya:
“Besok pukul dua belas tengah malam aku akan memperoleh kebebasanku dan hak untuk bergaul dengan masyarakat. Namun sebelum kutinggalkan ruangan ini dan melihat cahaya matahari, kupikir aku perlu menyampaikan beberapa patah kata kepadamu. Dengan nurani yang jernih dan Tuhan sebagai saksinya, kunyatakan kepadamu bahwa aku memandang hina kebebasan, kehidupan, kesehatan, dan semua yang disebut oleh bukubukumu sebagai rahmat di dunia ini.”
“Selama lima belas tahun aku dengan rajin telah mempelajari kehidupan duniawi. Memang benar, aku tidak melihat dunia maupun orangorang, tapi dalam bukubukumu aku meminum anggur yang wangi, menyanyikan lagulagu, berburu rusa dan babi hutan di rimba, mencintai wanitawanita….”
“Dan wanitawanita cantik, selembut awan, yang diciptakan oleh sihir kejeniusan para pujangga, mengunjungiku di malam hari dan membisikkan dongengdongeng yang menakjubkan, membuat aku mabuk kepayang.”
“Dalam bukubukumu aku mendaki puncak Elbruz dan Mont Blanc dan dari sana menyaksikan bagaimana matahari terbit di pagi hari, dan ketika senjanya menutupi langit, samudera, dan punggung pegunungan dengan warna lembayung keemasan. Dari sana kulihat betapa di atasku kilat berkilauan membelah awan, kulihat hutanhutan yang hijau, ladangladang, sungaisungai, danaudanau, kotakota, kudengar nyanyian sirene dan permainan pipapipa Pan, kusentuh sayap iblisiblis cantik yang terbang mendatangiku untuk berbicara tentang Tuhan…. Dalam bukubukumu kuterjunkan diriku ke dalam jurang tanpa dasar, membuat berbagai keajaiban, membakar kotakota sampai rata dengan tanah, mengajarkan agamaagama baru, menaklukkan seluruh negara….”
“Bukubukumu memberiku kebijaksanaan. Semua pemikiran manusia yang tak jemujemunya diciptakan selama berabadabad telah terkumpul di dalam otakku yang kecil. Aku tahu bahwa aku lebih pandai darimu dalam segala hal.”
“Dan aku memandang hina bukubukumu, memandang hina semua rahmat duniawi dan kebijakan. Semua itu hampa, lemah, dan khayali bagai bayangbayang. Sekalipun engkau hebat, bijaksana, dan tampan, kelak kematian akan menghapuskanmu dari muka bumi seperti tikus di bawah tanah. Dan keturunan, sejarah serta monumen kejeniusanmu akan menjadi ampas beku yang habis terbakar bersama bola bumi ini.”
“Engkau sinting, dan menyusuri jalan yang salah. Engkau menukar kesejatian dengan kepalsuan dan kecantikan dengan keburukan. Kau akan heran bila pohon apel dan jeruk menghasilkan kodok dan kadal, bukannya buah. Dan jika bungabunga mawar mengeluarkan bau keringat kuda. Demikian pula aku heran padamu yang telah menukar sorga dengan dunia. Aku tak ingin memahamimu.”
“Kutunjukkan padamu kejijikanku atas cara hidupmu, kutolak dua juta itu yang pernah kuimpikan sebagai sorga, dan yang kini kuanggap hina. Aku cabut hakku atasnya, aku akan keluar dari sini lima menit sebelum waktunya, dengan demikian akan batallah persetujuan itu.”
Setelah membacanya, sang bankir meletakkan kembali kertas tersebut di atas meja, dikecupnya kepala orang asing itu, dan iapun mulai menangis. Ia keluar dari paviliun itu. Tak pernah sebelumnya, bahkan juga setelah mengalami kerugian besar di bursa saham, ia merasa begitu jijik kepada dirinya sendiri seperti sekarang ini. Setelah tiba di rumah, ia membaringkan tubuhnya di atas dipan, tapi gejolak batin dan air mata menahannya untuk tidur selama beberapa saat.
Pada paginya sang pengawas yang malang mendatanginya dengan berlarilari dan melaporkan bahwa mereka telah melihat pria yang tinggal di paviliun itu memanjat jendela dan turun ke kebun. Ia telah pergi ke pintu gerbang dan menghilang. Sang bankir segera pergi bersama para pembantunya ke paviliun tadi dan mendapatkan tahanannya telah melepaskan diri. Untuk menghindari desasdesus yang tak diinginkan ia mengambil surat yang berisi pernyataan penolakan itu dari atas meja dan setelah kembali ke rumah menyimpannya di peti besinya.

Fin

Saturday, 2 November 2013

Cerpen bagus: Marno dan Jane ^_^

Seribu Kunang-kunang di Manhattan
-Umar Kayam-

Mereka duduk bermalas-malasan di sofa. Marno dengan segelas scotch dan Jane dengan segelas martini. Mereka sama-sama memandang ke luar jendela.
“Bulan itu ungu, Marno.”
“Kau tetap hendak memaksaku untuk percaya itu ?”
“Ya, tentu saja, Kekasihku. Ayolah akui. Itu ungu, bukan?”
“Kalau bulan itu ungu, apa pula warna langit dan mendungnya itu?”
“Oh, aku tidak ambil pusing tentang langit dan mendung. Bulan itu ungu! Ungu! Ayolah, bilang, ungu!”
“Kuning keemasan!”
“Setan! Besok aku bawa kau ke dokter mata.”
Marno berdiri, pergi ke dapur untuk menambah air serta es ke dalam gelasnya, lalu dia duduk kembali di sofa di samping Jane. Kepalanya sudah terasa tidak betapa enak.
“Marno, Sayang.”
“Ya, Jane.”
“Bagaimana Alaska sekarang?”
“Alaska? Bagaimana aku tahu. Aku belum pernah ke sana.”
“Maksudku hawanya pada saat ini.”
“Oh, aku kira tidak sedingin seperti biasanya. Bukankah di sana ada summer juga seperti di sini?”
“Mungkin juga. Aku tidak pernah berapa kuat dalam ilmu bumi. Gambaranku tentang Alaska adalah satu padang yang amat l-u-a-s dengan salju, salju dan salju.Lalu di sana-sini rumah-rumah orang Eskimo bergunduk-gunduk seperti es krim panili.”
“Aku kira sebaiknya kau jadi penyair, Jane. Baru sekarang aku mendengar perumpamaan yang begitu puitis. Rumah Eskimo sepeti es krim panili.”
“Tommy, suamiku, bekas suamiku, suamiku, kautahu …. Eh, maukah kau membikinkan aku segelas ….. ah, kau tidak pernah bisa bikin martini. Bukankah kau selalu bingung, martini itu campuran gin dan vermouth atau gin dan bourbon? Oooooh, aku harus bikin sendiri lagi ini …. Uuuuuup ….”
Dengan susah payah Jane berdiri dan dengan berhati-hati berjalan ke dapur. Suara gelas dan botol beradu, terdengar berdentang-dentang.
Dari dapur, “bekas suamiku, kautahu ….. Marno, Darling.”
“Ya, ada apa dengan dia?”
“Aku merasa dia ada di Alaska sekarang.”
Pelan-pelan Jane berjalan kembali ke sofa, kali ini duduknya mepet Marno.
“Di Alaska. Coba bayangkan, di Alaska.”
“Tapi Minggu yang lalu kaubilang dia ada di Texas atau di Kansas. atau mungkin di Arkansas.”
“Aku bilang, aku me-ra-sa Tommy berada di Alaska.”
“Oh.”
“Mungkin juga dia tidak di mana-mana.”
Marno berdiri, berjalan menuju ke radio lalu memutar knopnya. Diputar-putarnya beberapa kali knop itu hingga mengeluarkan campuran suara-suara yang aneh. Potongan-potongan lagu yang tidak tentu serta suara orang yang tercekik-cekik. Kemudian dimatikannya radio itu dan dia duduk kembali di sofa.
“Marno, Manisku.”
“Ya, Jane.”
“Bukankah di Alaska, ya, ada adat menyuguhkan istri kepada tamu?”
“Ya, aku pernah mendengar orang Eskimo dahulu punya adat-istiadat begitu. Tapi aku tidak tahu pasti apakah itu betul atau karangan guru antropologi saja.”
“Aku harap itu betul. Sungguh, Darling, aku serius. Aku harap itu betul.”
“Kenapa?”
“Sebab, seee-bab aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan di Alaska. Aku tidak maaau.”
“Tetapi bukankah belum tentu Tommy berada di Alaska dan belum tentu pula sekarang Alaska dingin.”
Jane memegang kepala Marno dan dihadapkannya muka Marno ke mukanya. Mata Jane memandang Marno tajam-tajam.
“Tetapi aku tidak mau Tommy kesepian dan kedinginan! Maukah kau?”
Marno diam sebentar. Kemudian ditepuk-tepuknya tangan Jane.
“Sudah tentu tidak, Jane, sudah tentu tidak.”
“Kau anak yang manis, Marno.”
Marno mulai memasang rokok lalu pergi berdiri di dekat jendela. Langit bersih malam itu, kecuali di sekitar bulan. Beberapa awan menggerombol di sekeliling bulan hingga cahaya bulan jadi suram karenanya. Dilongokknannya kepalanya ke bawah dan satu belantara pencakar langit tertidur di bawahnya. Sinar bulan yang lembut itu membuat seakan-akan bangunan-bangunan itu tertidur dalam kedinginan. Rasa senyap dan kosong tiba-tiba terasa merangkak ke dalam tubuhnya.
“Marno.”
“Ya, Jane.”
“Aku ingat Tommy pernah mengirimi aku sebuah boneka Indian yang cantik dari Oklahoma City beberapa tahun yang lalu. Sudahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”
“Aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”
“Oh.”
Jane menghirup martini-nya empat hingga lima kali dengan pelan-pelan. Dia sendiri tidak tahu sudah gelas yang keberapa martini dipegangya itu.
Lagi pula tidak seorang pun yang memedulikan.
“Eh, kau tahu, Marno?”
“Apa?”
“Empire State Building sudah dijual.”
“Ya, aku membaca hal itu di New York Times.”
“Bisakah kau membayangkan punya gedung yang tertinggi di dunia?”
“Tidak. Bisakah kau?”
“Bisa, bisa.”
“Bagaimana?”
“Oh, tak tahulah. Tadi aku kira bisa menemukan pikiran-pikiran yang cabul dan lucu. Tapi sekarang tahulah ….”
Lampu-lampu yang berkelipan di belantara pencakar langit yang kelihatan dari jendela mengingatkan Marno pada ratusan kunang-kunang yang suka bertabur malam-malam di sawah embahnya di desa.
“Oh, kalau saja …..”
“Kalau saja apa, Kekasihku?”
“Kalau saja ada suara jangkrik mengerik dan beberapa katak menyanyi dari luar sana.”
“Lantas?”
“Tidak apa-apa. Itu kan membuat aku lebih senang sedikit.”
“Kau anak desa yang sentimental!”
“Biar!”
Marno terkejut karena kata “biar” itu terdengar keras sekali keluarnya.
“Maaf, Jane. Aku kira scotch yang membuat itu.”
“Tidak, Sayang. Kau merasa tersinggung. Maaf.”
Marno mengangkat bahunya karena dia tidak tahu apa lagi yang mesti diperbuat dengan maaf yang berbalas maaf itu.
Sebuah pesawat jet terdengar mendesau keras lewat di atas bangunan apartemen Jane.
“Jet keparat!”
Jane mengutuk sambil berjalan terhuyung ke dapur. Dari kamar itu Marno mendengar Jane keras-keras membuka kran air. Kemudian dilihatnya Jane kembali, mukanya basah, di tangannya segelas air es.
“Aku merasa segar sedikit.”
Jane merebahkan badannya di sofa, matanya dipejamkan, tapi kakinya disepak-sepakkannya ke atas. Lirih-lirih dia mulai menyanyi : deep blue sea, baby, deep blue sea, deep blue sea, baby, deep blue sea ……
“Pernahkah kau punya keinginan, lebih-lebih dalam musim panas begini, untuk telanjang lalu membiarkan badanmu tenggelam dalaaammm sekali di dasar laut yang teduh itu, tetapi tidak mati dan kau bisa memandang badanmu yang tergeletak itu dari dalam sebuah sampan?”
“He? Oh, maafkan aku kurang menangkap kalimatmu yang panjang itu. Bagaimana lagi, Jane?”
“Oh, lupakan saja. Aku Cuma ngomong saja. Deep blue sea, baby, deep blue, deep blue sea, baby, deep blue sea ….”
“Marno.”
“Ya.”
“Kita belum pernah jalan-jalan ke Central Park Zoo, ya?”
“Belum, tapi kita sudah sering jalan-jalan ke Park-nya.”
“Dalam perkawinan kami yang satu tahun delapan bulan tambah sebelas hari itu, Tommy pernah mengajakku sekali ke Central Park Zoo. Ha, aku ingat kami berdebat di muka kandang kera. Tommy bilang chimpansee adalah kera yang paling dekat kepada manusia, aku bilang gorilla. Tommy mengatakan bahwa sarjana-sarjana sudah membuat penyelidikan yang mendalam tentang hal itu, tetapi aku tetap menyangkalnya karena gorilla yang ada di muka kami mengingatkan aku pada penjaga lift kantor Tommy. Pernahkah aku ceritakan hal ini kepadamu?”
“Oh, aku kira sudah, Jane. Sudah beberapa kali.”
“Oh, Marno, semua ceritaku sudah kau dengar semua. Aku membosankan, ya, Marno? Mem-bo-san-kan.”
Marno tidak menjawab karena tiba-tiba saja dia merasa seakan-akan istrinya ada di dekat-dekat dia di Manhattan malam itu. Adakah penjelasannya bagaimana satu bayang-bayang yang terpisah beribu-ribu kilometer bisa muncul begitu pendek?
“Ayolah, Marno. Kalau kau jujur tentulah kau akan mengatakan bahwa aku sudah membosankan. Cerita yang itu-itu saja yang kau dengar tiap kita ketemu. Membosankan, ya? Mem-bo-san-kan!”
“Tapi tidak semua ceritamu pernah aku dengar. Memang beberapa ceritamu sudah beberapa kali aku dengar.”
“Bukan beberapa, Sayang. Sebagian besar.”
“Baiklah, taruhlah sebagian terbesar sudah aku dengar.”
“Aku membosankan jadinya.”
Marno diam tidak mencoba meneruskan. Disedotnya rokoknya dalam-dalam, lalu dihembuskannya lagi asapnya lewat mulut dan hidungnya.
“Tapi Marno, bukankah aku harus berbicara? Apa lagi yang bisa kukerjakan kalau aku berhenti bicara? Aku kira Manhattan tinggal tinggal lagi kau dan aku yang punya. Apalah jadinya kalau salah seorang pemilik pulau ini jadi capek berbicara? Kalau dua orang terdampar di satu pulau, mereka akan terus berbicara sampai kapal tiba, bukan?”
Jane memejamkan matanya dengan dadanya lurus-lurus telentang di sofa. Sebuah bantal terletak di dadanya. Kemudian dengan tiba-tiba dia bangun, berdiri sebentar, lalu duduk kembali di sofa.
“Marno, kemarilah, duduk.”
“Kenapa? Bukankah sejak sore aku duduk terus di situ.”
“Kemarilah, duduk.”
“Aku sedang enak di jendela sini, Jane. Ada beribu kunang-kunang di sana.”
“Kunang-kunang?”
“Ya.”
“Bagaimana rupa kunang-kunang itu? Aku belum pernah lihat.”
“Mereka adalah lampu suar kecil-kecil sebesar noktah.”
“Begitu kecil?”
“Ya. Tetapi kalau ada beribu kunang-kunang hinggap di pohon pinggir jalan, itu bagaimana?”
“Pohon itu akan jadi pohon-hari-natal.”
“Ya, pohon-hari-natal.”
Marno diam lalu memasang rokok sebatang lagi. Mukanya terus menghadap ke luar jendela lagi, menatap ke satu arah yang jauh entah ke mana.
“Marno, waktu kau masih kecil ….. Marno, kau mendengarkan aku, kan?”
“Ya.”
“Waktu kau masih kecil, pernahkah kau punya mainan kekasih?”
“Mainan kekasih?”
“Mainan yang begitu kau kasihi hingga ke mana pun kau pergi selalu harus ikut?”
“Aku tidak ingat lagi, Jane. Aku ingat sesudah aku agak besar, aku suka main-main dengan kerbau kakekku, si Jilamprang.”
“Itu bukan mainan, itu piaraan.”
“Piaraan bukankah untuk mainan juga?”
“Tidak selalu. Mainan yang paling aku kasihi dahulu adalah Uncle Tom.”
“Siapa dia?”
“Dia boneka hitam yang jelek sekali rupanya. Tetapi aku tidak akan pernah bisa tidur bila Uncle Tom tidak ada di sampingku.”
“Oh, itu hal yang normal saja, aku kira. Anakku juga begitu. Punya anakku anjing-anjingan bernama Fifie.”
“Tetapi aku baru berpisah dengan Uncle Tom sesudah aku ketemu Tommy di High School. Aku kira, aku ingin Uncle Tom ada di dekat-dekatku lagi sekarang.”
Diraihnya bantal yang ada di sampingnya, kemudian digosok-gosokkannya pipinya pada bantal itu. Lalu tiba-tiba dilemparkannya lagi bantal itu ke sofa dan dia memandang kepala Marno yang masih bersandar di jendela.
“Marno, Sayang.”
“Ya.”
“Aku kira cerita itu belum pernah kaudengar, bukan ?”
“Belum, Jane.”
“Bukankah itu ajaib? Bagaimana aku sampai lupa menceritakan itu sebelumnya.”
Marno tersenyum
“Aku tidak tahu, Jane.”
“Tahukah kau? Sejak sore tadi baru sekarang kau tersenyum. Mengapa?”
Marno tersenyum
“Aku tidak tahu, Jane. Sungguh.”
Sekarang Jane ikut tersenyum.
“Oh, ya, Marno, manisku. Kau harus berterima kasih kepadaku. Aku telah menepati janjiku.”
“Apakah itu, Jane?”
“Piyama. Aku telah belikan kau piyama, tadi. Ukuranmu medium-large, kan? Tunggu, ya ……”
Dan Jane, seperti seekor kijang yang mendapatkan kembali kekuatannya sesudah terlalu lama berteduh, melompat-lompat masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dengan wajah berseri dia keluar kembali dengan sebuah bungkusan di tangan.
“Aku harap kausuka pilihanku.”
Dibukanya bungkusan itu dan dibeberkannya piyama itu di dadanya.
“Kausuka dengan pilihanku ini?”
“Ini piyama yang cantik, Jane.”
“Akan kau pakai saja malam ini. Aku kira sekarang sudah cukup malam untuk berganti dengan piyama.”
Marno memandang piyama yang ada di tangannya dengan keraguan.
“Jane.”
“Ya, Sayang.”
“Eh, aku belum tahu apakah aku akan tidur di sini malam ini.”
“Oh? Kau banyak kerja?”
“Eh, tidak seberapa sesungguhnya. Cuma tak tahulah ….”
”Kaumerasa tidak enak badan?”
“Aku baik-baik saja. Aku …. eh, tak tahulah, Jane.”
“Aku harap aku mengerti, Sayang. Aku tak akan bertanya lagi.”
“Terima kasih, Jane.”
“Terserahlah. Cuma aku kira, aku tak akan membawanya pulang.”
“Oh”.
Pelan-pelan dibungkusnya kembali piyama itu lalu dibawanya masuk ke dalam kamarnya. Pelan-pelan Jane keluar kembali dari kamarnya.
“Aku kira, aku pergi saja sekarang, Jane.”
“Kau akan menelpon aku hari-hari ini, kan?”
‘Tentu, Jane.”
“Kapan, aku bisa mengharapkan itu?
“Eh, aku belum tahu lagi, Jane. Segera aku kira.”
“Kautahu nomorku kan? Eldorado”
“Aku tahu, Jane.”
Kemudian pelan-pelan diciumnya dahi Jane, seperti dahi itu terbuat dari porselin. Lalu menghilanglah Marno di balik pintu, langkahnya terdengar sebentar dari dalam kamar turun tangga.
Di kamarnya, di tempat tidur sesudah minum beberapa butir obat tidur, Jane merasa bantalnya basah.

Fin