Showing posts with label Goresan Pena. Show all posts
Showing posts with label Goresan Pena. Show all posts

Monday, 27 November 2017

Kedasih, Sosok Wanita Jawa Rekaan yang Istimewa

Tokoh Kedasih dalam novel “Njai Kedasih” memiliki karakter tersendiri, misal ia bisa melihat mata lelaki yang hanya melihat kemolekan tubuhnya dan tidak tulus hatinya sehingga tak mudah takluk dengan rayuan laki-laki yang tertarik pada dirinya. Ia memang pernah memiliki suami beberapa kali, tapi raib dipisahkan maut hingga terusir dari kampungnya karena dianggap membawa kutukan.
Kedasih juga memiliki latar pendidikan yang lumayan, meski hanya sampai tingkat HIS (setara dengan SMP) sehingga ia bisa membuat heran kepada orang-orang Eropa yang ingin merendahkannya. Ia bukan wanita pada umumnya.



Kedasih juga wanita mandiri, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, meski hanya berjualan kain batik di Pasar Senen, Batavia. Kedasih hidup berdua dengan Mbok Min, orang yang dipercayai Ibunda Kedasih untuk menemaninya. Ibundanya memang tak tega melihat Kedasih pergi sendirian.

Kedasih juga tidak seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah. Ia tak menjual harga dirinya, seperti Nyai Dasima yang selingkuh dengan Baba Samioen, karangan G. Francis. Selain itu, Kedasih meski sudah janda tak suka main serong dengan laki-laki lain atau melayani godaan Raden Sewoyo yang sering nakal, seperti sosok Nyai Saipa yang serong dengan jongosnya si Tjonat, karangan F.D.J. Pangemanann. Hatinya lebih memilih menunggu seorang laki-laki yang akan resmi menjadi suaminya kelak. Kedasih, nyai yang setia.

Harapan Kedasih untuk menemukan laki-laki yang tepat terwujud ketika dirinya bertemu di trem dengan Tuan Heidel, Insinyur Kereta Api yang bermata biru. Hubungan keduanya pun berlanjut hingga Kedasih sering mampir ke Stasiun Beos. Mereka berdua memutuskan ke arah yang lebih serius. Apakah mereka menikah, baca novel Njai Kedasih ya.

Ketika Jepang datang, suaminya membantu KNIL mempertahankan Pulau Jawa. Selama perang berlangsung, mereka hanya berhubungan melalui surat. Hingga sampai suatu waktu tak ada lagi surat datang dari Heidel. Apakah Suaminya ini akan kembali? Dengan begitu sedih, Kedasih berjanji untuk terus menunggunya.


Novel “Njai Kedasih” pun pernah diteliti dalam sebuah skripsi. Dalam skripsinya untuk meraih Sarjana Pendidikan dari Universitas Jember, Yunita Nur Fadilah menyebut kajian poskolonial dipakainya untuk telaah mendalam tentang perlawanan terjajah terhadap kolonialisme. Pada novel Njai Kedasih karya Imperial Jathee, ada bentuk praktik kolonialisme Belanda yang di dalamnya mengandung dominasi kepemimpinan (hegemoni) yang dilakukan tanpa paksaan, tapi sebenarnya menyebabkan ketidakadilan bagi pribumi. Ketidakadilan yang diterima pribumi misalnya sebutan Nyai bagi wanita pribumi identik sebagai gundik atau istri simpanan dari Tuan Belanda.


Namun, Nyai Kedasih walaupun mendapat sebutan Nyai tidak menjadi gundik dari Tuan Belanda, Heidel. Sebagai wanita pribumi, ia juga mempertahankan budaya dengan mengenakan kebaya dalam kesehariannya dan juga memiliki keberanian untuk melawan dominasi yang berhubungan dengan kehidupan sosial pribumi. Ketidakadilan yang diterima Nyai Kedasih membuatnya melakukan peniruan (mimikri) bahasa. Melalui mimikri bahasa, Nyai Kedasih dapat menunjukkan eksistensinya sebagai pribumi dan dapat mengacaukan identitas Belanda. Nyai Kedasih yang mendapat pandangan rendah dari Nyonya Ruth (wanita Belanda) berani untuk membantah dan juga melakukan perlawanan (resistensi) fisik. Novel “Njai Kedasih” ini bisa didapatkan di andipublisher.com.


Tuesday, 14 November 2017

Novel "Anak-anak Kampus", Kehilangan yang Menghidupkan #5

Jelang tahun 2018, saya luncurkan novel yang kelima. Novel terbaru ini diberi judul “Anak-anak Kampus” (disingkat: AAK). Ya, cerita ini memang 100 persen mengangkat kisah anak-anak kampus Jogja dan mengambil latar kota Jogja. Kegelisahan di masa kuliah coba direkakan dalam cerita novel AAK, termasuk keprihatinan terhadap masih tingginya buta huruf di daerah lereng Gunung Merapi. Novel ini jelas berbeda dengan novel-novel untuk usia young adult lainnya yang terkadang ceritanya terlalu “menye-menye”, melulu tentang kegombalan cinta yang klise.



Diceritakan, satu kisah anak-anak kampus yang mencoba mencari makna kehidupan. Castel, mahasiswa akhir jurusan Antropologi dari sebuah kampus Jogja, tergerak hatinya ketika banyak membaca artikel surat kabar yang memberitakan banyaknya buta huruf di kawasan lereng Gunung Merapi. Gara-gara berita itu, Castel memilih untuk sekalian melakukan penelitian perseorangan, sekaligus melakukan kegiatan sosial dengan unit kemahasiswaan antropologi untuk berperan serta. Tak lupa juga mengajak kawannya Kusuma dan adik-adik angkatan bawah untuk berperan, seperti Kikani dan Tarissa.

Berikut salah satu kutipan dari tokoh Castel dalam novel AAK : “Dari data yang aku dapatkan, wajar saja, kalau Indonesia dalam jajaran negara di dunia termasuk dalam daftar 34 negara yang memiliki penduduk dengan buta huruf tinggi dan berada pada peringkat tujuh setelah China, India dan Bangladesh. Aku kira jumlah penyumbang terbanyak pasti didominasi oleh penduduk dari lereng-lereng gunung di seluruh negeri ini yang belum tersentuh pendidikan. Ya salah satu contohnya, seperti di Lereng-lereng Merapi ini.”

Selain mengangkat rasa kepedulian sosial memberantas buta huruf dan bertemu sosok Wadi, anak lereng Merapi yang sering dicap masyarakat sekitar sebagai Tarsan Lereng, cerita ini juga menawarkan cerita tragis dari hilangnya sebuah pesawat terbang komersil hingga mempengaruhi kehidupan salah tokoh dalam cerita ini, Kikani. Castel pun menempatkan secara istimewa gadis ini di hatinya. Tetes air mata pun turut mengalir di antara gelak tawa anak-anak kampus ini.

Karena tak bisa menerima kenyataan, Kikani lari dari rumah hingga ditemukan dehidrasi dan sakit di sebuah padang ilalang di sisi lereng Merapi, sebuah tempat yang juga istimewa untuk Castel. Hari demi hari, Castel tak putus asa untuk membuat Kikani bisa kembali seperti semula. Apakah usaha Castel untuk mengubah keadaan berhasil? Arus bumi memang seringkali memaksa manusia, yang mau tak mau harus menerimanya dengan tegar dan penuh harapan. Baca sampai akhir cerita ini! Novel kece ini bisa didapatkan di website www.leutikaprio.com.


Sinopsis panjang "Anak-anak Kampus"



Castel, mahasiswa akhir dari jurusan anthropologi, tergerak hatinya ketika membaca artikel surat kabar yang memberitakan banyaknya buta huruf di lereng Gunung Merapi. Gara-gara berita itu, Castel memilih untuk sekalian melakukan penelitian perseorangan, sekaligus melakukan kegiatan sosial untuk mengajak jurusannya dan unit kemahasiswaan antropologi berperan serta. Tak lupa juga mengajak adik-adik angkatannya berperan serta. Dengan sobatnya Kusuma yang gemar main yoyo, Castel mencoba mewujudkan keinginannya itu, yakni menyelesaikan tugas akhirnya dan membantu pemberantasan huruf di lereng-lereng Merapi.

Castel hidup dengan Paman dan Bibinya yang sama-sama dipanggil Marko. Merekalah yang menjaga Castel saat menempuh pendidikan di Jogja. Saat melakukan penelitian perseorangan, Castel banyak berkenalan dengan penduduk asli, kebiasaan, tradisi lereng Merapi. Hal yang istimewa, Castel dapat mengetahui jika di jaman era digital ini masih ada seorang anak yang hidupnya seperti tarsan atau “anak lutung” panggilan orang lereng terhadap Wadi, nama aslinya. Castel pun tergerak untuk membantunya. Sebelumnya, saat Castel berburu target-target foto unik di Pasar Bringharjo, ia berkenalan dengan tukang Bendi dan Delman bernama Sodiman. Di bab berikutnya, Pak Sodiman ini ternyata memiliki hubungan dengan Wadi, anak lutung tersebut. Hal tersebut tak diduga oleh Castel. 

Di sisi lain, munculah kehadiran sosok model yang bernama Kikani. Mulanya, model ini pernah menekuni bidangnya di Ibukota, meski hanya menjadi model sehari di agensi Lawalata. Di Jogja, Kikani diterima di sebuah agensi model yang dipimpin oleh Bu Jenitri. Di agensi ini, dirinya berkenalan dengan Puspita dan Sadewa, fotografer agensi. Bu Jenitri ternyata memiliki kehidupan yang sungguh tragis, suaminya hilang saat mengalami kecelakaan kapal laut. Dengan Sadewa pun, Kikani semakin dekat dan mulai jatuh hati dengan tukang foto ini.

Seiring waktu, Castel bertemu dengan Kikani saat keduanya sedang menikmati suasana taman Kaliurang. Uniknya, meski telah mengobrol, tapi belum saling mengetahui nama masing-masing. Akhirnya, mereka dipertemukan lagi di sebuah cafeteria yang khusus menjual es krim dan coffe. Kali ini, mereka saling bertukar nama. Semenjak itu, Castel memang menaruh hati dengan Kikani dan terus bertemu dengan Kikani. Dia antara hubungan keduanya yang sedang penjajakan, juga muncul Tarissa yang juga menaruh hati dengan Castel. Beberapa perseteruan terjadi di antara ketiganya.

Karir model dari Kikani yang cukup lumayan pun harus terhenti ketika agensi Bu Jenitri pindah ke ibukota. Selain kekecewaan itu, Kikani harus menerima kenyataan bahwa Sadewa yang diharapkan bisa menjadi tambatan hatinya malah berhubungan dan bakal menjadi pasangan hidup Bu Jenitri. Setelah agensinya pindah, Kikani menjadi menganggur alias model bangkrut, kata Pamannya Kromo. Nasib baik berpihak kepada Kikani. Saat berjalan-jalan di Malioboro, Kikani tak disangka masuk ke sebuah butik milik Bibi Marko. Kikani pun ditawari untuk menjadi modelnya. Castel pun terkejut saat Kikani muncul di catwalk pada acara peragaan busana batik Bibinya. Castel diminta Bibi Marko untuk memotret desain-desain bajunya yang dipakai para model. Prestasi tertinggi, Kikani menyabet gelar “Prada Java” dari ajang bergengsi di ibukota. Kebaya berbahan batik yang desainnya dari Kikani sendiri, juga turut andil dengan gelarnya ini. 

Suatu kali, Kikani terasa menjauh dengan Castel. Atas saran Kusuma, Castel secara bergantian (dengan pemain yoyo ini), memata-matai keseharian Kikani hingga di depan rumahnya. Namun, setelah yakin tak ada laki-laki lain di hati Kikani, Castel memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang sudah lama terpendam. Suatu kali, keduanya berpiknik bersama di sebuah padang ilalang dan rumput luas di sekitar lereng Merapi. 

Apakah usaha Castel untuk menyatakan perasaan cintanya berhasil? Baca sampai akhir cerita ini! 

Friday, 26 May 2017

(Terbit Mei 2017) Novel Etnogika, Membuka Sisi Menarik dari Profesi Ahli Etnografi atau Etnografer


Pengantar
Apa itu etnografer? Etnografer adalah praktisi ilmu etnografi, tentunya. Lalu pertanyaan beriktunya, apa itu etnografi? Berasal dari antropologi, etnografi adalah metode riset yang menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berusaha meneliti sehingga mengetahui kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu. Karena alasan itu, metode etnografi kini mulai dilirik dunia bisnis untuk mencoba mengungkapkan keinginan konsumen yang paling dalam, yang tidak bisa diperoleh dari metode riset konsumen seperti pada umumnya, misal survey.

Etnografi memberi dunia bisnis, sebuah alat untuk melihat ke dalam perkembangan budaya yang sedang in saat ini, atau faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berinteraksi dengan produk-produk seperti bir, pasta gigi, asuransi, rumah, atau benda elektronik. 

Para etnografer ini akan tertarik bila melihat seseorang yang mengatakan suka minuman sehat, tapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah, misalnya. Seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska, “Ethnography is a way to get up close and personal with consumers”.

Di dunia teknologi, perusahaan komputer raksasa Intel menjadi salah satu perusahaan yang telah lama memanfaatkan etnografi untuk menciptakan inovasi baru, misal mengirim etnografer untuk meneliti sebuah daerah tertentu untuk menetukan jenis komputer apa yang tepat untuk kawasan itu.

Dalam novel Etnogika, tokoh yang bernama Meswari pun dikirim sebuah perusahaan komputer raksasa untuk mengunjungi desa-desa di India selama dua tahun. Melalui penelitiannya ini, Meswari menemukan bahwa banyak warnet-warnet yang didirikan di desa-desa di India. Ia pun menemukan bahwa di desa-desa itu listrik sering padam (kadang sampai berhari-hari). Selain itu, jalan-jalan desa masih banyak yang belum diaspal. Berbekal pengetahuan tersebut, perusahaan computer raksasa itu meluncurkan sebuah komputer dengan inovasi khusus. Untuk cerita lebih komplitnya, silakan baca novel Etnogika.

Sinopsis Novel Etnogika
Namaku Meswari, putri satu-satunya dari seorang Papa bernama Francho. Kini Aku menekuni studi atau kuliah di jurusan Antropologi, khususnya Etnologi. Entah kenapa, aku merasa bahwa dari masa kuliah ini pengalaman atau kisah hidupku yang menarik saling bermunculan. Kuarungi masa-masa kuliah dengan seorang teman, yaitu bernama Monita. Dengan karibku ini, kujalani waktu demi waktu sebagai seorang mahasiswa.

Seiring waktu, tanpa kurencana, aku bisa menginjakkan kedua kaki di India. Di negara Hindu ini, aku menggunakan keahlian sesuai bidang ilmuku untuk penelitian. Keherananku adalah aku ditugaskan oleh salah satu sebuah perusahaan PC terbesar di dunia untuk meneliti bentuk komputer sepeprti apakah yang cocok bila dipasarkan di salah satu daerah di India. Di India ini, aku mengenal dengan Miss Mahessh, seorang wanita India, utusan dari cabang perusahaanku di India untuk menemaniku. Dia bercerita banyak tentang kemajuan negaranya.

Sepulang dari india, tiba-tiba aku dihadapkan dengan persoalan besar, yaitu tentang penolakan sekelompok masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di pesisir. Dampak penambangan itu mengusik beberapa petani yang telah menikmati pedasnya cabe dan manisnya melon. Gara-gara persoalan ini, aku juga menemukan seseorang yang bisa sangat berarti dalam alur kehidupanku, yaitu Guruh. Situasi dari kami yang masing-masing bertentangan dan berbeda terkadang membuat kami tak begitu kompak. Inilah kisah-kasihku yang kadang begitu tawarnya, begitu manis, sangat membahagiakan, bahkan terkadang beberapa kejadian terasa membanggakan.

Data Buku

Judul: Etnogika 
Pengarang: Imperial Jathee 
Halaman : 234 Cetakan : I, 2017
Ukuran : 12.5 X 19 cm
ISBN : 9786028556750
Penerbit: Kaki Langit Kencana/PrenadaMedia
Harga :Rp. 50.000 

Bisa dipesan di http://www.prenadamedia.com atau klik http://www.prenadamedia.com/produk.html?id=Etnogika



Tuesday, 25 October 2016

Novel "Impala-impala Hindia" Terbit Okt 2016 (Pergerakan,Perlawanan, Romansa)

Dulu, novel tebal ini sebetulnya pernah dinyatakan "DITERIMA" akan diterbitkan oleh salah satu penerbit Jogja sekitar tahun 2010-an, tapi hasilnya di-PHP. Kenapa saya menjadi korban PHP karena saya waktu itu bukanlah tipe orang yang suka ribet, riwil, dan mau repot untuk terus mengejar tentang kapan terbitnya dan menuntut ini itu karena pada dasarnya, saya sudah sangat percaya waktu itu. Penerbitnya saat ini masih ada dan eksis lho. Pernah ditanyakan beberapa kali tentang kapan terbitnya, tapi responnya nihil. Ketika itu, saya sudah begitu senang mendengarnya karena sebetulnya naskah novel ini, dalam perjalanan dunia menulis saya, menjadi yang pertama diterima oleh penerbit. Naskah ini dinyatakan diterima melalui sebuah email. Fatalnya, emailnya konfirmasi diterima itu saya sudah hapus sehingga tidak bisa saya jadikan bukti, bahkan dulu itu pernah ditelepon orang dari penerbit itu, apakah mau jual putus. Saya katakan tidak! Seriring waktu, saya terus menunggu hingga tahun 2016 ini, tapi tidak ada kabar sama sekali dan follow up dari sana. Surat Perjanjian Penerbitan pun tak kunjung datang.


Naskah novel ini sebetulnya mendahului ada sebelum naskah dua novel yang sudah diterbitkan tahun 2012 dan 2015, tapi malah mendapat giliran terbit di tahun 2016 ini. Kalau boleh cerita, dulu ketika menulis naskah novel "Impala-impala Hindia" ini, saya mencicilnya setiap hari, minimal 5-10 halaman. Saya fokus ke komitmen untuk menyelesaikan cerita ini. Saya selalu tulis cerita setelah habis pulang kerja, bahkan hari Minggu, saya tulis kalau ada waktu. Ditulis hampir setahun lebih dari tahun 2009-2010 hingga saya tawarkan ke sebuah penerbit dan hasilnya di-PHP hingga saya terbitkan sendiri secara indie. Beberapa buku referensi dan blusukan di internet tentunya mengawali/mengantar saya untuk menulis novel tebal ini.

Kenapa, saya memilih diterbitkan secara indie karena tidak mungkin di-PHP. Tentunya, bisa terbit cepat dengan kualitas cetakan yang tak kalah bagus, bahkan lebih hasilnya. Banyak penulis mungkin ingin diterbitkan secara mayor/massal, tapi dalam perjalanan perziarahan saya dalam menulis, itu bukan sebuah pilihan mutlak. Masih banyak jalan. Dengan indie, saya bisa menuangkan ambisi saya yang idealis untuk sebuah novel. Demikian, celoteh saya.

Sinopsis:

Akulah Maon, anak seorang pekerja rendahan di jawatan kereta api Modjokerto. Ayahku bernama Prawiro Atmodjo. Beliaulah yang selalu mengharapkan agar aku, anak laki-laki satu-satunya bisa mengenyam bangku sekolah. Bapakkulah yang setiap siang dan malam selalu bekerja keras demi membiayai keperluan sekolahku. 

Kehidupan semasa kecilku meski terasa sedikit, tapi cukup karena pada tahun 1907, aku bisa diterima menjadi salah satu murid di Tweede Klas (sekolah bumiputera atau pribumi kelas dua) lalu menyelesaikannya meski di belakang itu semua ada peran seseorang Tuan Belanda yang aku ketahui sangat menaruh perhatian pada Bapakku. Selain itu, aku adalah pribumi kecil yang sungguh bukan priyayi, tetapi bisa mendapatkan sertifikat Klein Abtenaar sehingga bisa menjadi juru tulis di Stasiun Surabaya. 

Lika-liku hidupku sangat dipengaruhi oleh dua orang besar yang akan terus kukagumi hingga akhir hayatku. Dua orang itu bernama Tuan Tjokro dan Tuan Sneev. Tuan-tuan inilah yang berjasa membuka pikiranku sehingga bisa melihat permasalahan-permasalahan pelik atas bangsaku. 

Di Surabaya yang gerah, aku juga mengenal sesosok perempuan yang sangat meneduhkan saat berada di dekatnya. Dialah Rianne, sang Sabana Hatiku, seorang perempuan totok Belanda bermata jeli. 

Namun, takdir telah berkata lain kepadaku. Kekuatan besar di depanku begitu sulit ditaklukan… 

“Pantang mencari kenikmatan dan kesenangan hidup dari membonceng pada sebuah kekuasaan” 
-Maon-

Identitas Buku
Kategori: Novel (fiksi)
ISBN:978-602-3092-09-3
Judul: impala-impala Hindia
Penulis: Imperial Jathee
Ukuran/Hlm:16x23/818
Edisi: I/1st Published
Tahun Terbit:2016
Harga:200k

Novel sejarah ini bisa kamu order di www.bukuindie.com/ WA: 081215169225
Klik https://www.bukuindie.com/p/impala-impala-hindia/


Wednesday, 1 July 2015

Pengaturan Undo di GMAIL

Seringkali, kita mengirim email yang salah atau ke alamat email yang bukan seharusnya. Saat ini, Gmail memiliki fasilitas undo emailmu. Berikut ini, langkah-langkah pengaturannya,yaitu:

1. Masuk ke email Gmailmu. Pilih Settings.


2. Klik Setting.



3. Cari Undo Send. Centang dan atur durasi waktu untuk undo emailmu.



4. Klik Save Changes yang berada di posisi bawah sendiri.



Selamat Mencoba!




Jangan-jangan Kita Korban Proxy War di Jejaring Sosial (Sebuah Perang Modern)


Kali ini, dari Calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, kita akan belajar sedikit tentang ‘proxy war karena beliaulah yang mendalami ‘proxy war’ dan pernah membuat makalah dengan tema tersebut. Intinya, ini adalah perang antara dua pihak yang tidak saling berhadap-hadapan, tapi menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan musuhnya. Pihak ketiga menurut Jenderal Gatot bisa berupa LSM, partai politik, ormas dll, tapi menurut penulis, pihak ketiga bisa juga lho sebuah akun di jejaring sosial. Penjelasan simpelnya, Anda sangat ingin menghajar seseorang, tapi seseorang itu lebih kuat dari Anda, terus Anda membayar Agung Hercules untuk menghajarnya dengan barbelnya.

Yuk kita lihat perkembangan teknologi komunikasi saat ini dan hubungannya dengan ‘proxy war’:

Nah, di tengah cepatnya arus revolusi teknologi komunikasi, ternyata juga berdampak pada tradisi kepenulisan. Kalau dulu orang lebih suka menulis opininya di sebuah koran atau majalahnya agar pendapatnya dibaca banyak orang, kini tak perlu repot-repot karena jejaring sosial adalah kuncinya. Semakin kontroversial konten yang di-upload, kemungkinan akan semakin banyak yang baca dan share. Hasilnya, Anda akan populer lalu bisa berbisnis dengan modal akun yang sudah terkenal. Kelahiran akun-akun anonim pun tak lepas dari pengaruh canggihnya internet ini. Revolusi komunikasi yang diciptakan teknologi internet, telah menciptakan ruang-ruang alternatif baru di luar dunia yang nyata dan penuh aturan. Kalau kita masih ingat, akun anonim seperti Trio Macan 2000 begitu sangat memanfaatkan ruang dunia maya yang saat ini begitu efektif. Akun ini begitu ingin mengubah mindset atau memprovokasi masyarakat untuk tidak memilih calon presiden tertentu saat itu atau gemar membuka aib pejabat tertentu, padahal belum tentu kebenarannya. Untuk itulah kita tidak perlu heran jika banyak status FB atau Twitter yang menggiring follower-nya agar mengikuti pendapatnya atau ideologinya.
Sifat demokratis dunia cyber juga menghancurkan tembok hukum yang begitu mengikat di dunia nyata, yang hanya mengenal dua kategori saja, yatu benar dan salah. Jika sebuah akun FB atau Twitter melanggar hukum di dunia maya, pemilik akun pun bisa saja langsung beralibi jika akunnya dibajak atau disangkal bukan miliknya, contoh ketika foto bugil Pamela Safitri terekpos, lalu dikonfirmasi saja oleh pemiliknya jika akunnya dibajak. Pilihan inilah jawaban kenapa banyak orang suka membuat akun di jejaring sosial daripada berteriak-teriak pakai TOA di pasar atau terminal, hehe. Selain itu, kran untuk menulis di dunia cyber memang terbuka begitu lebar, tanpa takut dengan admin dari jejaring sosial tersebut. Pernahkah kita mendengar pemilik akun FB atau Twitter di-banned adminnya meski berisi hasutan dan fitnah, jarang sekali kan?
Jangan-jangan akun apapun itu yang beredar di sekitar kita, baik itu FB maupun Twitter yang sangat kontroversial akhir-akhir ini, merupakan pihak ketiga yang digunakan pihak-pihak yang sebetulnya masih berseteru (siapapun itu di negeri kita), misal akun-akun bernuansa Islam seperti FB Jonru atau akun twitter dari Felix Siauw, Hafidz Ary. Hati seseorang tentu tidak bisa diduga kan? Dengan sumber daya keuangan dan pengaruhnya, seseorang tentu masih ingin terus mengalahkan musuhnya meski di dunia luar (media) mereka sering bertemu, makan bersama, dan tersenyum satu antara yang lain. Kalau menurut penulis, kita sebagai pihak yang tidak berseteru sebaiknya diam saja biarkan mereka berseteru sendiri. Ini hanyalah pendapat saya saja lho kalau pun tidak meyakinkan, mohon dimaafkan. Merdeka!

Friday, 5 June 2015

Iseng Eksis di Wattpad #Juni2015

Jaman ini siapapun bisa menjadi penulis. Siapa bilang susah, mudah kok! Tak perlu kriteria yang bertele-tele (misal nilai market, apakah masuk trend, apakah masuk selera editor atau penerbit, dll). Kamu bisa menjadi penulis detik ini juga. Coba kamu buka  www.wattpad.com.  Kamu dapat membuat akun gratis untuk mulai menulis di wattpad. Dengan modal email, kamu sudah menjadi calon penulis jika sudah membuat akun. 

Wattpad adalah komunitas online bagi para penulis. Artinya, yang membaca tulisanmu itu adalah para penulis juga. Fungsinya tidak jauh berbeda dengan blogger. Pemilik akun wattpad nantinya akan dapat memposting naskah novel, puisi, dan cerita pendek dalam berbagai genre. Pengguna juga dapat memberikan sebuah komentar dan voting pada setiap bacaan. Wattpad juga memiliki kemampuan untuk dibaca di komputer, android, atau tablet pembacanya. Simpelkan?

Intinya, di Wattpad, kamu bisa menjadi penyair, cerpenis, dan novelis. Akhirnya, tulisanmu itu bisa dibaca oleh banyak orang. Komentar, kritikan, atau masukan diterima saja. Kalau mendapat pujian, itu bonus. Nggak perlu berpikir ribet ini dan itu, ya kan?

Untuk itu, bagi kamu penulis yang idealis? Suka mengekspresikan tulisan menurut kemauanmu? Tak mau ada aturan yang membelenggu tulisanmu? Tulis dan upload saat ini juga di Wattpad.

Ayo siapa yang tertarik menulis di Wattpad? Asyik lho!



Tuesday, 5 May 2015

Cerita Pendek "Cinta, Sudahlah Aku" di Antologi "Kasih Tak Sampai" - Buku Sembilan

Yaay, meskipun tidak menjadi juara, cerpenku ada di buku kumpulan cerpen "Kasih Tak Sampai" - Buku Sembilan. 
Terima kasih Nulisbuku Jika tertarik, bisa klik link ini 
http://nulisbuku.com/books/view_book/7329/kasih-tak-sampai-buku-sembilan













Monday, 4 May 2015

Yang pertama, E-sertifikat Untukku dari Iseng Ikut Lomba Puisi

4/5/2015

Dunia selalu berkembang ke depan dengan perubahannya. Well, awal bulan Mei ini ada yang menarik, meski puisinya tidak menang. Baru kali ini dapat sertifikat dalam bentuk softcopy atau e-sertifikat, bukan hardcopy dalam bentuk kertas ^^


Monday, 16 March 2015

Cerpen: Cinta, Sudahlah Aku...




      

     Mega hitam mulai menutupi kota. Super mendung. Hujan deras akan segera turun.

   “Taksi!! Taksi!!” teriak seorang gadis, tapi semua taksi yang terlihat tak ada yang mau berhenti. Berulangkali tangan kirinya diangkat ke depan mukanya, lalu melihat jam tangannya. Tak sabar.

    “Ah sial, rupanya semua orang sedang menggunakan taksi sore ini,” keluhnya.

Tampak dari kejauhan sebuah taksi tiba-tiba berhenti di depannya. Hatinya menjadi tenang. Anvita Avi mulai masuk dan duduk. Menghembuskan nafas lega.

    “Ayo jalan Pak,” perintahnya. Anehnya, taksi itu tak segera berjalan hingga tiba-tiba seorang laki-laki berpostur tinggi, berkacamata hitam besar, dan berkemeja putih rapi masuk dan menutup pintu. Taksi segera berjalan. Hujan deras turun lebat.

      Selang beberapa detik...

    “Habis jemput anaknya dari kuliah ya Pak?” tanya pria berbau wangi ini, lalu tersenyum ke Anvita. Anvita hanya tersenyum dengan mencoba memahami keadaan yang sedang terjadi ini. Entah kenapa, ia tidak mempertanyakan, mungkin karena di luar sudah hujan.

   “Haa, anaknya. Anak siapa Pak Roy?” komentarnya, lalu menoleh ke belakang. Tak mengenal.

   “Nona siapa?” tanya Roy heran kini. Anvita tersenyum.

   “Lho saya yang masuk pertama kali di taksi ini,” ucap Anvita membela diri.

  “Tapi saya yang pesan dan langganan taksi ini setiap hari,” Roy merasa benar. Waktu seolah terhenti. Ada sebuah kesalahpahaman yang sedang terjadi.

**
      Selang beberapa hari. Di ruangan front office sebuah kantor.

   “Sudah-sudah tak usah dibahas yang kemarin. Lupakan saja,” ucap Roy merasa malu. Dia tak menyangka reporter radio yang diundang khusus untuk meliput acara pembukaan cabang supemarketnya yang baru adalah Anvita Avi. Radio tempat Anvita bekerja memang yang paling terkenal di kota ini. Tak hanya didengarkan kaum muda, tapi seluruh lapisan masyarakat.

   “Memang saya yang salah. Ketika itu aku ada siaran dan harus memaksa taksi itu berbelok ke arah tempatku bekerja hingga kita bertengkar soal arah jalan,” jelasnya mencari jalan terbaik.

   “Mari ikut saya untuk berkeliling di supermarket saya yang baru,”ajaknya kini.

   “Tolong nanti yang ditekankan adalah bahwa produk-produk yang dijual merupakan produk dengan kualitas nomor satu dan murah,”pesannya lalu berkeliling melihat lokasi foodcourt yang rencananya akan menyediakan menu-menu vegetarian dan berbahan organik.

** 
    “Boleh dibilang kau ini sudah pacaran dengannya,” ucap Rani menegaskan ketika melihat rekannya ini sering jalan berdua dengan Roy, pengusaha muda yang saat ini sedang menekuni dunia supermarket.

     “Ah kamu, pertemuan-pertemuan itu kan dalam rangka kerjasama bisnis dengan radio kita. Kita harus melayani klien dengan baik dong,” sanggah Avanti meski isi hatinya memang begitu senang ketika membahas tentang banyak pertemuan yang dilakukannya dengan Roy.

    “Masak pertemuan bisnis dengan sering makan malam, sekali-kali nonton bioskop, lalu makan siang bareng. Aku sampai lupa menghitungnya,” suara tak percaya Rani sambil mengitung dengan jari-jarinya yang tak cukup untuk menghitung. Avi hanya menjulurkan ujung lidahnya karena kehabisan kata-kata untuk berkomentar.

    “Kalau aku sih mau saja. Lajang, muda, pengusaha, dan kaya. Sikat saja Vi,”komentarnya.

    “Auuuw, sakit tahu!!” suara Rani kesakitan karena lengannya dicubit Avi keras.

*
      Kini Avi sedang on air...

   “Selamat sore menjelang malam para pendengar tercinta. Apa kabar, pasti kabar baik untuk semuanya. Kali ini, topik yang akan kita bahas selama dua jam ke depan adalah tentang jatuh cinta. Siapa yang tak pernah jatuh cinta. Silakan cerita apa saja, yang happy-happy boleh dan yang sedih-sedih juga boleh. Terserah. Yuk ceritakan pengalamanmu dengan menelepon di nomor biasa, 989555. Kami tunggu ya,” Avi menekan tombol play untuk memutar sebuah lagu.

     Lagu yang diputar mulai habis dan operator mulai memberi tanda untuk segera siaran lagi.

    “Ayo siapa yang mau sharing cerita tentang pengalaman jatuh cintamu. Yuk segera telepon,” suara Via memancing para pendengarnya. Suara dering telepon pun berbunyi.

    “Halo dengan siapa ini,” tanya Via antusias.

    “Dengan R, panggil saja R,” jawab seseorang yang menelepon dengan gayanya yang misterius.

   “Oke R, yuk ceritakan kisah cintamu,” katanya menyilakan. Avi merasa tidak asing dengan suara ini, tapi dia belum meyakini jika itu suaranya.

   “Akhir-akhir ini, aku sedang dekat dengan seseorang. Perjumpaan kami pun tak disangka seolah ini memang sudah menjadi jalan hidupku. Aku tak tahu apakah ini disebut cinta atau bukan. Aku hanya merasa nyaman saja dengannya. Matanya seperti matahari bagiku, ada sinar yang memancar meneduhkanku apalagi parasnya. Aku hanya ingin bersamanya, berbagi waktu dengannya. Tak ada yang lain. Hanya ingin menemaninya hingga akhir masa kalau boleh. Yang ingin kutanyakan kepada penyiar dan para pendengar, apa yang harus kulakukan. Demikian, terima kasih,” lalu terdengar suara telepon terputus.

    “Ayoo siapa yang memberi saran untuk cerita cinta R tadi,” tanya Via kepada pendengarnya. Tak sampai beberapa detik telepon berbunyi. Terus berdering dengan penelepon yang berbeda.

    “Itu cinta. Itu artinya cinta. Segera tembak saja kalau aku,” komentar dari seorang pendengar.

   “Sudah R, katakan saja kau mencintainya. Ditolak urusan nanti,”saran dari pendengar lain.

    “Itu cinta sejatimu, ayo lamar dia R,” suara memaksa dari pendengar lain.

Kini siaran radio justru diisi oleh banyak saran dari puluhan pendengar yang menyarakan untuk si R segera menyatakan, mengungkapkan cintanya. Lima menit menjelang siaran selesai, telepon berdering lagi.

    “Halo dengan siapakah ini. Ini adalah penelepon terakhir di siaran ini ya,” tanya Via memastikan agar tak ada yang menelepon lagi.

   “Ini dengan R tadi. Bolehkan saya sedikit berkomentar dengan tanggapan-tanggapan tadi,” meminta izin.

   “Karena kamu telah menjadi bintang radio di sore ini. Kamu diijinkan. Silakan,” ucap Via memperbolehkan.

    “Terima kasih buat para pendengar yang sudah memberikan saran tadi. Minggu besok aku akan menyatakannya dengan segala konsekuensinya. Terima kasih banyak atas saran-sarannya. Terima kasih,” suara telepon ditutup dan acara ini diakhiri dengan lagu romantis Right Here Waiting dari Richard Marx.

    “Buruan pindah gih. Acaraku sudah mau mulai nih,” usir Rani kepada Avanti karena akan segera on air dengan acara yang berbeda. Avanti segera berdiri meninggalkan ruangan siaran.

   “Avi tunggu! Aku lupa. Baca tulisanku di kertas ini ya. Kamu akan terkejut,” panggil Rani menghentikan langkah Rani yang katanya juga ingin segera pulang.

*

    Hati Avanti tiba-tiba mulai resah malam ini. Jantungnya berdebar-debar, sangat kencang ketika melihat tulisan yang ditulis Rani. Rasa dingin sehabis mandi tiba-tiba hilang seketika. Wajahnya tiba-tiba terlihat pucat di cermin tapi bukan karena sakit. Ada rasa kegembiraan yang besar di dadanya. Akankah hal itu akan segera terjadi.

Tulisannya:

Kau tahu Vi, siapakah R yang tadi menelepon. Itu adalah nomor Roy. Aku tahu karena nomor-nomor hp klien bisnis tercatat di database radio kita. Mampus kamu, besok Minggu akan ditembak Roy. Selamat ya dan semoga itu kamu...Hahahaha (ketawa ala iblis)

    Rasa lelah dan kantuk yang tadi terasa kuat kini hilang. Avanti menjadi resah di tempat tidurnya dengan kening sedikit berkeringat. Avanti pasti tidak akan bisa tidur nyenyak hingga hari Minggu terlewati. Kini kedua matanya hanya menatap langit yang berbintang banyak seolah meminta restu dan jawaban dari langit.

** 


   “Jadi makan kan?” tanya Roy dan Anvita mengangguk setuju.

    “Tak terasa kita sudah dua minggu jadian. Tidak sangka ya?” tanya Roy setelah menjemput Anvita selesai siaran dari stasiun radionya.

   “Entah kenapa tanpamu sedetik pun. Aku juga merasa sepi Roy,” tanganya merangkul Roy yang sedang menyetir.

   “Ya beginilah cinta, yang aku paling suka dari cinta. Bahagia,” komentar Roy sambil melirik Anvita. Mobil berbelok. Menuju ke cafe langganan yang sering mereka datangi akhir-akhir ini.

    “Terima kasih sudah menemaniku dengan hari-hari yang menakjubkan Vi,” ucapan terima kasih Roy setelah selesai makan dengan mengecup kening Anvita. Alunan musik instrumen piano dengan lagu First Love sungguh pas menemani mereka malam ini.

  “Aku juga berterima kasih karena kau sudah membuatku menjadi berarti. Aku tak mau kehilanganmu Roy,” ucap Anvita lalu memeluk Roy erat. Telepon seluler Roy tiba-tiba berdering. Roy tampak serius berbicara dengan si penelepon. Anvita justru semakin menikmati hubungan mereka hingga malam ini. Tak ada kekecewaan, hanya kegembiraan yang ada.

**

   Pagi-pagi benar, Roy menuju bandara. Dia telah dijemput dengan pesawat jet pribadinya. Sebuah surat dititipkan ke pegawainya, sebuah surat untuk Anvita. Roy tidak mau menelepon karena akan membuatnya khawatir. Tampak Roy juga dilema antara memilih orangtuanya atau Anvita.

   Selang beberapa jam, surat tersebut telah sampai di tangan Anvita. Kedua matanya mulai menitikan air mata karena kini ada jarak dan waktu yang akan memisahkannya dengan Roy. Berat sungguh rasa hati dari Anvita yang sebetulnya ingin selalu berjumpa dengan Roy.

   Dari belakang Rani memeluknya dan memberikan tisu. Roy rupanya menyusul orang tuanya ke Rusia, Moskow. Orangtuanya pun sudah bukan lagi berkebangsaan Indonesia karena Ayahnya memang orang Rusia dan Ibunya juga sudah resmi menjadi warga negara Rusia tahun kemarin. Ibunya ternyata sakit keras, stroke dengan komplikasi hati dan jantung.

     “Kalau sudah jodoh tidak akan lari kemana Vi, tenang,” katanya menenangkan rekannya ini.

**

     Sudah seminggu ini, belum ada kabar dari Roy. SMS dan telepon tidak ada. Saat ditelepon, nomor HP selalu di luar jangkuan. Anvita mengisi kerinduannya dengan mengunjungi tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi berdua. Yang tertinggal seolah hanya kenangan. Anvita seolah-olah merasa Roy selalu dan masih ada di dekatnya. Anvita terus bertahan karena kenangan ini. Kini Anvita sedang duduk di cafe yang sering mereka kunjungi untuk makan malam.

    Sebuah no hp bukan dari provider Indonesia tiba-tiba masuk ke telepon seluler Anvita.

    “Roy!!” panggil gembira Anvita dengan senyum ceria. Dalam beberapa detik, Kedua mata Anvita menangis. Bibirnya tersedu-sedu tak bisa menahan kesedihan ini. Berulangkali, Anvita hanya menjawabnya dengan “Jangan Roy”, “Kembalilah ke sini Roy”, dan “Aku tak mau Roy”

    “Maafkan aku Vi, ini memang tidak mudah. Kalau aku memang tak kembali, tolong cari saja laki-laki lain saja. Aku tahu ini memang tidak mudah. Maafkan aku,” sambungan telepon terputus. Rupanya aset bisnis di Indonesia keluarga Roy dijual untuk pengobatan Ibunya di Rusia. Alhasil, tak ada yang bisa dilakukan lagi di Indonesia selain di Rusia.

   Anvita tampak terus menangis dan terpuruk di salah satu bangku cafe. Membeku dengan kesedihannya. Kenyataan pahit tak bisa ditolaknya meski cinta masih begitu membuainya.

***

Monday, 9 March 2015

Membangun dan Membangun...

Membangun dan membangun. Inilah proses yang kita lihat begitu nyata di sekitar kita. Pada dasarnya, semua orang di dunia ini sedang membangun. Bisa dipastikan bahwa tak ada yang tidak membangun. Apapun itu orangnya pasti sedang membangun. Beberapa membangun mimpinya sesuai dengan keinginannya. Segelintir membangun harapan setelah bangunan harapan mereka runtuh. Untuk itu, apapun keadaannya pasti sedang membangun meski harus memulai membangun lagi dari awal.
Tak terkecuali yang sedang menulis ini. Dia juga sedang membangun banyak hal. Membangun tidak harus sesuatu yang besar atau fenomenal. Bangunlah apa yang ada di depanmu. Kalau suka menulis, apapun itu tulisanmu, bangunlah tulisanmu. Setidaknya sampai selesai. Kalau pun itu tak berarti buat orang lain, tulislah yang berarti buatmu. Kalau itu puisi, tempelkan di tembok kamarmu, selesai! Apapun itu yang dibangun dengan niat baik pasti tidak akan sia-sia. Penulis meyakini hal tersebut.
Kita semua pasti memiliki mimpi Tak mungkin tak punya mimpi meski itu anak TK atau sekedar hal yang sederhana. Manusia memang hidup dari mimpi yang mereka bangun. Mereka rela menghabiskan waktu dan materi untuk mewujudkan mimpinya ini. Inilah yang disebut membangun.
Ayo bangunlah mimpimu apapun  itu.


Monday, 16 February 2015

"Cerita-cerita yang Tidak Pernah Pulang" karangan ImperialJathee


Banyak cerita yang menarik di dalamnya baik cerita pendek maupun cerita mininya, misal May yang harus merasakan lika-liku kehidupan cintanya di dunia maya dalam “Bintang Timur di dalam Blogku & Stuttgart”, Laki-laki yang harus menerima kekalahan karena tidak mendapatkan cintanya dalam “Laki-laki Kalah”, hingga kisah tentang suami yang memiliki banyak nilai merah dalam “Suami dengan Raport Merah”.

Dunia memang punya banyak cerita. Dari yang cerita penuh cinta, cinta tanpa syarat, perselingkuhan, penantian, rasa nasionalisme, bahkan korupsi melengkapi buku kumpulan “Cerita-cerita yang Tak pernah Pulang”. Terus, bagaimana dengan perjalanan kisahmu? Mungkin ada dari sekian kisah di dalam buku ini yang mirip atau bahkan benar-benar terjadi seperti yang kamu alami seperti dalam buku kumpulan cerita ini? 

Ayo segera baca cerita pendek dan cerita mini yang menarik dalam buku kumpulan cerita ini!


Salah cerita mini di buku kumpulan cerita "Cerita-cerita yang Tidak Pernah Pulang" :

Kalau Aku...Kalau Aku
“Sebenarnya apa yang kamu rasakan saat bersamaku Jeng?”

“Apa ya Mas?” katanya malu-malu.

“Kalau aku sedang malang, apa yang kamu rasakan?”

“Bahagia Mas.”

“Kalau aku sedang untung?”

“Bahagia Mas.”

“Kok sama jawabannya.”

“Ya, mau apa lagi Mas.”

“Kalau aku sakit, apa kau bahagia juga?”

“Bahagia Mas.”

“Maksudmu?” matanya melotot sedikit.

“Bahagia bisa merawatmu Mas. Gitu.”

“Syukurlah, hehehehe,”komentar suaminya lega, mengelus dada.

“Kalau aku banyak utang, masih bahagia?”

“Bahagia juga Mas.”

“Loh, kenapa?” suaminya heran.

“Bahagia bisa hidup susah dengan Mas,”balasnya.

“Kau memang istri yang baik Jeng,”pujinya.

“Lalu, kalau aku punya istri lagi?”tanyanya masih menguji.

“Bahagia Mas,”jawabnya.

“Haaa, betul itu, “ucapnya ragu.

“Kalau Mas bahagia, aku juga ikut bahagia Mas,”jelasnya dengan senyum.

“Kalau aku,”dipotong cepat oleh istrinya.

“Pokoknya bahagia Mas, jangan khawatir,”jelas istrinya menggoda.

“Baiklah, aku takkan bertanya lagi.”

***

Identitas Buku

Judul : CERITA-CERITA YANG TAK PERNAH PULANG

Penulis : Imperial Jathee

Penerbit : Penerbit Din's

ISBN : 978-602-336-037-6

Tebal : vi + 220 halaman

Bisa pesan di inbox di FB Penerbit Din,s klik https://www.facebook.com/penerbit.dins?fref=nf








Monday, 9 February 2015

Poster Promosi Buatan Sendiri untuk Novel "Anak-anak Minyak"

Latar tempat cerita ini bernama Pangkalan Brandan. Sebuah nama daerah yang memang terdengar asing di telinga kita, tapi memiliki nilai sejarah yang harus diketahui banyak orang semasa Pemerintahan Kolonial Belanda karena penghasil minyak bumi atau emas hitam pertama di Hindia. Han,s, kelahiran Gorontalo, memiliki sebuah pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya di Pangkalan Brandan dan kota Medan, Sumatera Utara. Latar belakang cerita ini adalah era jaman Hindia Belanda.


**


Julico

Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s. 

Han,s 

Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu. 

Tuan Pierre 

Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini. 

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s. Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya? Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya. Yuk segera baca saja novel ini…






















Wednesday, 4 February 2015

Buku "13 Poin Menulis Cerita Pendek", Pasti Bisa Menulis Cerpen



"Kalau nulis dari dalam hati, yang namanya ide tulisan akan jalan terus," Fira Basuki.

Ya dari hati, menulis memang harus didasari oleh keinginan hati. Kekuatan hati yang kuat dan tekad yang membaja akan membuat tulisanmu memiliki taji. Jika menulis hanya untuk coba-coba, tulisanmu tentu tak akan maksimal. Untuk itu, yakinkan hatimu saat akan menulis, cieeh!

Menulis kini memang begitu dekat dengan ranah gaya hidup anak muda. Buktinya, maraknya bakat menulis dengan spontanitas yang menarik, lalu ter-upload melalui tulisan-tulisan pendek yang bertebaran di blog, jejaring sosial, dan lain sebagainya. Teknologi seolah memfasilitasi manusia untuk menulis. Sebagian besar pun menyukai menulis fiksi.

Menulis fiksi itu memang gampang lho. Tak percaya. Kalau kamu sedang bercerita atau berkhayal dengan temanmu, lalu merasa itu sungguh-sungguh nyata terjadi, artinya kamu punya bakat sebagai pencerita. Fiksi adalah cerita rekaan, yang di dalamnya kamu boleh memasukkan segala kemungkinan. Tentunya, kemungkinan-kemungkinan itu harus disertai dengan bekal pengetahuan yang cukup agar ceritamu benar-benar nyata. Banyak membaca tentu menjadi solusinya.

Saya menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadi selama dua tahun lebih menjadi editor akuisi. Harapan saya, semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini, setidaknya dapat memberikan referensi yang berarti bagi para calon penulis cerita pendek di Republik Indonesia ini.




Cari di toko buku terdekat atau bisa dipesan di http://andipublisher.com/

Monday, 26 January 2015

Novel "Anak-anak Minyak", Cerita Murid H.B.S Menemukan Cinta dan Menolak Ketidakadilan di Hindia




Kutipan dari novel "Anak-anak Minyak" tentang kekaguman Han,s terhadap Julico:

Kini kupegang jari-jari tangannya. Kurasakan begitu halus dengan kuku yang begitu berwarna putih. Kami berdua mulai bercerita tentang Brandan lagi, tentang pasirnya yang putih dan debur halus ombak yang biru dengan buihnya. Dulu, Julico bertanya tentang siapa penemu minyak bumi pertama kali di Brandan kepadaku. Aku tak bisa menjawab. Jawabnya yaitu Tuan Aeliko Janszoon Zijlker. Orang yang tak pernah kukenal, tapi menjadi kuketahui gara-gara Julico. Entah, seperti apa rupanya.
**
Karena latar belakangnya Papanya yang di B.P.M, Han,s pernah diajak ke pesta-pesta dari perusahaan minyak tersebut. Suatu kali, ada tamu di B.P.M, yaitu Tuan Pierre dari Prancis. Tak ada maksud tertentu, ia mengajak jalan-jalan ke Deli hingga merasa prihatin dengan keadaan buruh perkebunan di sana. Han,s menuliskan sebuah essai tentang keadaan di Deli. Ia sampai diberi teguran oleh Ibu Gurunya, Karel dan Direktur sekolahnya, Tuan Russel gara-gara essai ini. Gara-gara esainya ini, kota Medan menjadi goncang karena para gerilyawan menjadi begitu geram dengan perlakuan para mandor perkebunan di Deli.

Julico
Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s.

Han,s
Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu.

Tuan Pierre
Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini.

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s. Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya? Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya. Yuk segera baca saja novel ini…

Friday, 23 January 2015

Novel "Anak-anak Minyak", Cerita Murid H.B.S Mengenal Indonesia (Terbit Januari 2015)

Kini kupegang jari-jari tangannya. Kurasakan begitu halus dengan kuku yang begitu berwarna putih. Kami berdua mulai bercerita tentang Brandan lagi, tentang pasirnya yang putih dan debur halus ombak yang biru dengan buihnya. Dulu, Julico bertanya tentang siapa penemu minyak bumi pertama kali di Brandan kepadaku. Aku tak bisa menjawab. Jawabnya yaitu Tuan Aeliko Janszoon Zijlker. Orang yang tak pernah kukenal, tapi menjadi kuketahui gara-gara Julico. Entah, seperti apa rupanya. Indonesia adalah nama bangsaku, bukan Hindia.



Latar tempat cerita ini bernama Pangkalan Brandan. Sebuah nama daerah yang memang terdengar asing di telinga kita, tapi memiliki nilai sejarah yang harus diketahui banyak orang semasa Pemerintahan Kolonial Belanda karena penghasil minyak bumi atau emas hitam pertama di Hindia.

Han,s, kelahiran Gorontalo, memiliki sebuah pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya di Pangkalan Brandan dan kota Medan, Sumatera Utara. Latar belakang cerita ini adalah era jaman Hindia Belanda.

Papanya, seorang kerani perusahaan minyak Belanda, yaitu B.P.M. Karena itu, Han,s dapat merasakan pendidikan yang cukup, yaitu H.B.S di kota Medan.

Pengalamannya yang menarik terjadi dari Pangkalan Brandan hingga Medan. Ia begitu tertarik dengan alamnya. Ia mempunyai tiga kawan di H.B.S, yaitu Thamrin, Rustam, dan Yohan. Ia juga berkenalan dengan gadis cantik, yaitu Julico dan Lauren,s Kakaknya, seorang Belanda. Dengan tukang cukur, Pak Wursito dari Jawa, ia juga berkenalan. Pak Bilson, seorang pekerja B.P.M, memberikannya banyak info tentang Jong Bataks dan pergerakkan lainnya.

Karena latar belakangnya Papanya yang di B.P.M, Han,s pernah diajak ke pesta-pesta dari perusahaan minyak tersebut. Suatu kali, ada tamu di B.P.M, yaitu Tuan Pierre dari Prancis. Tak ada maksud tertentu, ia mengajak jalan-jalan ke Deli hingga merasa prihatin dengan keadaan buruh perkebunan di sana. Han,s menuliskan sebuah essai tentang keadaan di Deli. Ia sampai diberi teguran oleh Ibu Gurunya, Karel dan Direktur sekolahnya, Tuan Russel gara-gara essai ini.

Gara-gara esainya ini, kota Medan menjadi goncang karena para gerilyawan menjadi begitu geram dengan perlakuan para mandor perkebunan di Deli.

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s.

Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya?

Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya.

Yuk segera baca saja novel ini…




Julico, anak perempuan dari pejabat penting perusahaan minyak Belanda
Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s.

Han,s, murid H.B.S dan anak laki-laki dari seorang kerani perusahaan minyak Belanda
Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu.

Tuan Pierre, seorang insinyur dari Prancis yang bekerja di perusahaan minyak Belanda
Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini.

Penulis                 : ImperialJathee

Judul                    : Anak-anak Minyak

ISBN                    : 978-979-29-4698-7

Ukuran                 : 13 x 19

Jumlah Halaman : iv + 428

Penerbit               : Sheila, Penerbit Andi