Showing posts with label Celoteh Penulis. Show all posts
Showing posts with label Celoteh Penulis. Show all posts

Monday, 27 November 2017

Kedasih, Sosok Wanita Jawa Rekaan yang Istimewa

Tokoh Kedasih dalam novel “Njai Kedasih” memiliki karakter tersendiri, misal ia bisa melihat mata lelaki yang hanya melihat kemolekan tubuhnya dan tidak tulus hatinya sehingga tak mudah takluk dengan rayuan laki-laki yang tertarik pada dirinya. Ia memang pernah memiliki suami beberapa kali, tapi raib dipisahkan maut hingga terusir dari kampungnya karena dianggap membawa kutukan.
Kedasih juga memiliki latar pendidikan yang lumayan, meski hanya sampai tingkat HIS (setara dengan SMP) sehingga ia bisa membuat heran kepada orang-orang Eropa yang ingin merendahkannya. Ia bukan wanita pada umumnya.



Kedasih juga wanita mandiri, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, meski hanya berjualan kain batik di Pasar Senen, Batavia. Kedasih hidup berdua dengan Mbok Min, orang yang dipercayai Ibunda Kedasih untuk menemaninya. Ibundanya memang tak tega melihat Kedasih pergi sendirian.

Kedasih juga tidak seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah. Ia tak menjual harga dirinya, seperti Nyai Dasima yang selingkuh dengan Baba Samioen, karangan G. Francis. Selain itu, Kedasih meski sudah janda tak suka main serong dengan laki-laki lain atau melayani godaan Raden Sewoyo yang sering nakal, seperti sosok Nyai Saipa yang serong dengan jongosnya si Tjonat, karangan F.D.J. Pangemanann. Hatinya lebih memilih menunggu seorang laki-laki yang akan resmi menjadi suaminya kelak. Kedasih, nyai yang setia.

Harapan Kedasih untuk menemukan laki-laki yang tepat terwujud ketika dirinya bertemu di trem dengan Tuan Heidel, Insinyur Kereta Api yang bermata biru. Hubungan keduanya pun berlanjut hingga Kedasih sering mampir ke Stasiun Beos. Mereka berdua memutuskan ke arah yang lebih serius. Apakah mereka menikah, baca novel Njai Kedasih ya.

Ketika Jepang datang, suaminya membantu KNIL mempertahankan Pulau Jawa. Selama perang berlangsung, mereka hanya berhubungan melalui surat. Hingga sampai suatu waktu tak ada lagi surat datang dari Heidel. Apakah Suaminya ini akan kembali? Dengan begitu sedih, Kedasih berjanji untuk terus menunggunya.


Novel “Njai Kedasih” pun pernah diteliti dalam sebuah skripsi. Dalam skripsinya untuk meraih Sarjana Pendidikan dari Universitas Jember, Yunita Nur Fadilah menyebut kajian poskolonial dipakainya untuk telaah mendalam tentang perlawanan terjajah terhadap kolonialisme. Pada novel Njai Kedasih karya Imperial Jathee, ada bentuk praktik kolonialisme Belanda yang di dalamnya mengandung dominasi kepemimpinan (hegemoni) yang dilakukan tanpa paksaan, tapi sebenarnya menyebabkan ketidakadilan bagi pribumi. Ketidakadilan yang diterima pribumi misalnya sebutan Nyai bagi wanita pribumi identik sebagai gundik atau istri simpanan dari Tuan Belanda.


Namun, Nyai Kedasih walaupun mendapat sebutan Nyai tidak menjadi gundik dari Tuan Belanda, Heidel. Sebagai wanita pribumi, ia juga mempertahankan budaya dengan mengenakan kebaya dalam kesehariannya dan juga memiliki keberanian untuk melawan dominasi yang berhubungan dengan kehidupan sosial pribumi. Ketidakadilan yang diterima Nyai Kedasih membuatnya melakukan peniruan (mimikri) bahasa. Melalui mimikri bahasa, Nyai Kedasih dapat menunjukkan eksistensinya sebagai pribumi dan dapat mengacaukan identitas Belanda. Nyai Kedasih yang mendapat pandangan rendah dari Nyonya Ruth (wanita Belanda) berani untuk membantah dan juga melakukan perlawanan (resistensi) fisik. Novel “Njai Kedasih” ini bisa didapatkan di andipublisher.com.


Tuesday, 14 November 2017

Novel "Anak-anak Kampus", Kehilangan yang Menghidupkan #5

Jelang tahun 2018, saya luncurkan novel yang kelima. Novel terbaru ini diberi judul “Anak-anak Kampus” (disingkat: AAK). Ya, cerita ini memang 100 persen mengangkat kisah anak-anak kampus Jogja dan mengambil latar kota Jogja. Kegelisahan di masa kuliah coba direkakan dalam cerita novel AAK, termasuk keprihatinan terhadap masih tingginya buta huruf di daerah lereng Gunung Merapi. Novel ini jelas berbeda dengan novel-novel untuk usia young adult lainnya yang terkadang ceritanya terlalu “menye-menye”, melulu tentang kegombalan cinta yang klise.



Diceritakan, satu kisah anak-anak kampus yang mencoba mencari makna kehidupan. Castel, mahasiswa akhir jurusan Antropologi dari sebuah kampus Jogja, tergerak hatinya ketika banyak membaca artikel surat kabar yang memberitakan banyaknya buta huruf di kawasan lereng Gunung Merapi. Gara-gara berita itu, Castel memilih untuk sekalian melakukan penelitian perseorangan, sekaligus melakukan kegiatan sosial dengan unit kemahasiswaan antropologi untuk berperan serta. Tak lupa juga mengajak kawannya Kusuma dan adik-adik angkatan bawah untuk berperan, seperti Kikani dan Tarissa.

Berikut salah satu kutipan dari tokoh Castel dalam novel AAK : “Dari data yang aku dapatkan, wajar saja, kalau Indonesia dalam jajaran negara di dunia termasuk dalam daftar 34 negara yang memiliki penduduk dengan buta huruf tinggi dan berada pada peringkat tujuh setelah China, India dan Bangladesh. Aku kira jumlah penyumbang terbanyak pasti didominasi oleh penduduk dari lereng-lereng gunung di seluruh negeri ini yang belum tersentuh pendidikan. Ya salah satu contohnya, seperti di Lereng-lereng Merapi ini.”

Selain mengangkat rasa kepedulian sosial memberantas buta huruf dan bertemu sosok Wadi, anak lereng Merapi yang sering dicap masyarakat sekitar sebagai Tarsan Lereng, cerita ini juga menawarkan cerita tragis dari hilangnya sebuah pesawat terbang komersil hingga mempengaruhi kehidupan salah tokoh dalam cerita ini, Kikani. Castel pun menempatkan secara istimewa gadis ini di hatinya. Tetes air mata pun turut mengalir di antara gelak tawa anak-anak kampus ini.

Karena tak bisa menerima kenyataan, Kikani lari dari rumah hingga ditemukan dehidrasi dan sakit di sebuah padang ilalang di sisi lereng Merapi, sebuah tempat yang juga istimewa untuk Castel. Hari demi hari, Castel tak putus asa untuk membuat Kikani bisa kembali seperti semula. Apakah usaha Castel untuk mengubah keadaan berhasil? Arus bumi memang seringkali memaksa manusia, yang mau tak mau harus menerimanya dengan tegar dan penuh harapan. Baca sampai akhir cerita ini! Novel kece ini bisa didapatkan di website www.leutikaprio.com.


Sinopsis panjang "Anak-anak Kampus"



Castel, mahasiswa akhir dari jurusan anthropologi, tergerak hatinya ketika membaca artikel surat kabar yang memberitakan banyaknya buta huruf di lereng Gunung Merapi. Gara-gara berita itu, Castel memilih untuk sekalian melakukan penelitian perseorangan, sekaligus melakukan kegiatan sosial untuk mengajak jurusannya dan unit kemahasiswaan antropologi berperan serta. Tak lupa juga mengajak adik-adik angkatannya berperan serta. Dengan sobatnya Kusuma yang gemar main yoyo, Castel mencoba mewujudkan keinginannya itu, yakni menyelesaikan tugas akhirnya dan membantu pemberantasan huruf di lereng-lereng Merapi.

Castel hidup dengan Paman dan Bibinya yang sama-sama dipanggil Marko. Merekalah yang menjaga Castel saat menempuh pendidikan di Jogja. Saat melakukan penelitian perseorangan, Castel banyak berkenalan dengan penduduk asli, kebiasaan, tradisi lereng Merapi. Hal yang istimewa, Castel dapat mengetahui jika di jaman era digital ini masih ada seorang anak yang hidupnya seperti tarsan atau “anak lutung” panggilan orang lereng terhadap Wadi, nama aslinya. Castel pun tergerak untuk membantunya. Sebelumnya, saat Castel berburu target-target foto unik di Pasar Bringharjo, ia berkenalan dengan tukang Bendi dan Delman bernama Sodiman. Di bab berikutnya, Pak Sodiman ini ternyata memiliki hubungan dengan Wadi, anak lutung tersebut. Hal tersebut tak diduga oleh Castel. 

Di sisi lain, munculah kehadiran sosok model yang bernama Kikani. Mulanya, model ini pernah menekuni bidangnya di Ibukota, meski hanya menjadi model sehari di agensi Lawalata. Di Jogja, Kikani diterima di sebuah agensi model yang dipimpin oleh Bu Jenitri. Di agensi ini, dirinya berkenalan dengan Puspita dan Sadewa, fotografer agensi. Bu Jenitri ternyata memiliki kehidupan yang sungguh tragis, suaminya hilang saat mengalami kecelakaan kapal laut. Dengan Sadewa pun, Kikani semakin dekat dan mulai jatuh hati dengan tukang foto ini.

Seiring waktu, Castel bertemu dengan Kikani saat keduanya sedang menikmati suasana taman Kaliurang. Uniknya, meski telah mengobrol, tapi belum saling mengetahui nama masing-masing. Akhirnya, mereka dipertemukan lagi di sebuah cafeteria yang khusus menjual es krim dan coffe. Kali ini, mereka saling bertukar nama. Semenjak itu, Castel memang menaruh hati dengan Kikani dan terus bertemu dengan Kikani. Dia antara hubungan keduanya yang sedang penjajakan, juga muncul Tarissa yang juga menaruh hati dengan Castel. Beberapa perseteruan terjadi di antara ketiganya.

Karir model dari Kikani yang cukup lumayan pun harus terhenti ketika agensi Bu Jenitri pindah ke ibukota. Selain kekecewaan itu, Kikani harus menerima kenyataan bahwa Sadewa yang diharapkan bisa menjadi tambatan hatinya malah berhubungan dan bakal menjadi pasangan hidup Bu Jenitri. Setelah agensinya pindah, Kikani menjadi menganggur alias model bangkrut, kata Pamannya Kromo. Nasib baik berpihak kepada Kikani. Saat berjalan-jalan di Malioboro, Kikani tak disangka masuk ke sebuah butik milik Bibi Marko. Kikani pun ditawari untuk menjadi modelnya. Castel pun terkejut saat Kikani muncul di catwalk pada acara peragaan busana batik Bibinya. Castel diminta Bibi Marko untuk memotret desain-desain bajunya yang dipakai para model. Prestasi tertinggi, Kikani menyabet gelar “Prada Java” dari ajang bergengsi di ibukota. Kebaya berbahan batik yang desainnya dari Kikani sendiri, juga turut andil dengan gelarnya ini. 

Suatu kali, Kikani terasa menjauh dengan Castel. Atas saran Kusuma, Castel secara bergantian (dengan pemain yoyo ini), memata-matai keseharian Kikani hingga di depan rumahnya. Namun, setelah yakin tak ada laki-laki lain di hati Kikani, Castel memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya yang sudah lama terpendam. Suatu kali, keduanya berpiknik bersama di sebuah padang ilalang dan rumput luas di sekitar lereng Merapi. 

Apakah usaha Castel untuk menyatakan perasaan cintanya berhasil? Baca sampai akhir cerita ini! 

Saturday, 14 October 2017

Novel Sejarah “Impala-impala Hindia” Diapresiasi PKBSBI,USD


Pusat Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia (PKBSBI) dan Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma (USD) sukses melaksanakan kegiatan dalam rangka kuliah umum bertajuk “Apresiasi Budaya terhadap Novel Impala-impala Hindia karya Imperial Jathee”, di ruang seminar auditorium Driyarkara, Kamis (12/10).

PKBSBI memang menjadi salah satu unit di USD dengan tugasnya mengembangkan penelitian bahasa, sastra, dan budaya Indonesia. Kegiatan apresiasi bahasa, sastra, dan budaya memang menjadi agenda rutin tahunannya untuk pengembangan dan penghargaan terhadap hasil budaya.

Dalam makalahnya, Dr Yoseph Yapi Taum meneliti novel Impala-impala Hindia dalam perspektif postkolonial Homi K BhaBha. Pembahasan dalam teori postkolonialnya mencakup: stereotipe, ambivalensi, mimikri, dan hibriditas. Untuk stereotipe, dalam masyarakat jajahan, ia menemukan kutub dikotomis seperti penjajah dan yang dijajah. Untuk ambivalensi, dalam masyarakat jajahan, tokoh Maon berdiri di dua kaki, satu sisi memperjuangkan hak asasi pribumi di sisi lain, bekerja untuk kepentingan Belanda. Untuk mimikri, dalam masyarakat jajahan, tokoh Prawiro Atmodjo pernah menirukan gaya bicara orang Belanda. Terakhir, untuk hibriditas, sebuah peniruan kebudayaan Belanda, tokoh Maon diceritakan memakai pakaian jas sebagai pakaian khas model Eropa.

Untuk makalah Septina Krismawati, SS, MA, ia menemukan adanya kebudayaan Jawa dalam novel Impala-impala Hindia. Dibuktikan penelitiannya di makalah dengan menyebut adanya filosofi Jawa seperti Cokro Manggilingan dan Gusti Kang Murbeng Dumadi. Selain itu, ditemukan bentuk-bentuk sapaan khas orang Jawa seperti pakde, paklik, mbok, le, dll. Yang paling dominan adalah banyaknya nama orang Jawa dalam novel yang ditelitinya.

Penulis novel Impala-impala Hindia yang hadir dalam apresiasi budaya itu pun menjelaskan alasan menulis novelnya karena ingin memiliki tokoh-tokoh monumental, misalnya seperti tokoh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, tokoh Lantip dalam Para Priyayi karya Umar Kayam, tokoh Minke dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan tokoh Teto dalam Burung-burung Manyar karya RomoMangun Wijaya. Keinginan itulah yang menjadi dasar untuk menulis novelnya setebal 818 halaman.

Sesi tanya jawab pun begitu meriah karena antusiasnya para mahasiswa Sastra Indonesia yang begitu tertarik dengan acara rutin PKBSBI USD ini. Di akhir acara, penghargaan dan door prize diberikan kepada peserta dan para pengisi acara Apresiasi Budaya dari PKBSBI ini.

Friday, 26 May 2017

(Terbit Mei 2017) Novel Etnogika, Membuka Sisi Menarik dari Profesi Ahli Etnografi atau Etnografer


Pengantar
Apa itu etnografer? Etnografer adalah praktisi ilmu etnografi, tentunya. Lalu pertanyaan beriktunya, apa itu etnografi? Berasal dari antropologi, etnografi adalah metode riset yang menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berusaha meneliti sehingga mengetahui kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu. Karena alasan itu, metode etnografi kini mulai dilirik dunia bisnis untuk mencoba mengungkapkan keinginan konsumen yang paling dalam, yang tidak bisa diperoleh dari metode riset konsumen seperti pada umumnya, misal survey.

Etnografi memberi dunia bisnis, sebuah alat untuk melihat ke dalam perkembangan budaya yang sedang in saat ini, atau faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berinteraksi dengan produk-produk seperti bir, pasta gigi, asuransi, rumah, atau benda elektronik. 

Para etnografer ini akan tertarik bila melihat seseorang yang mengatakan suka minuman sehat, tapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah, misalnya. Seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska, “Ethnography is a way to get up close and personal with consumers”.

Di dunia teknologi, perusahaan komputer raksasa Intel menjadi salah satu perusahaan yang telah lama memanfaatkan etnografi untuk menciptakan inovasi baru, misal mengirim etnografer untuk meneliti sebuah daerah tertentu untuk menetukan jenis komputer apa yang tepat untuk kawasan itu.

Dalam novel Etnogika, tokoh yang bernama Meswari pun dikirim sebuah perusahaan komputer raksasa untuk mengunjungi desa-desa di India selama dua tahun. Melalui penelitiannya ini, Meswari menemukan bahwa banyak warnet-warnet yang didirikan di desa-desa di India. Ia pun menemukan bahwa di desa-desa itu listrik sering padam (kadang sampai berhari-hari). Selain itu, jalan-jalan desa masih banyak yang belum diaspal. Berbekal pengetahuan tersebut, perusahaan computer raksasa itu meluncurkan sebuah komputer dengan inovasi khusus. Untuk cerita lebih komplitnya, silakan baca novel Etnogika.

Sinopsis Novel Etnogika
Namaku Meswari, putri satu-satunya dari seorang Papa bernama Francho. Kini Aku menekuni studi atau kuliah di jurusan Antropologi, khususnya Etnologi. Entah kenapa, aku merasa bahwa dari masa kuliah ini pengalaman atau kisah hidupku yang menarik saling bermunculan. Kuarungi masa-masa kuliah dengan seorang teman, yaitu bernama Monita. Dengan karibku ini, kujalani waktu demi waktu sebagai seorang mahasiswa.

Seiring waktu, tanpa kurencana, aku bisa menginjakkan kedua kaki di India. Di negara Hindu ini, aku menggunakan keahlian sesuai bidang ilmuku untuk penelitian. Keherananku adalah aku ditugaskan oleh salah satu sebuah perusahaan PC terbesar di dunia untuk meneliti bentuk komputer sepeprti apakah yang cocok bila dipasarkan di salah satu daerah di India. Di India ini, aku mengenal dengan Miss Mahessh, seorang wanita India, utusan dari cabang perusahaanku di India untuk menemaniku. Dia bercerita banyak tentang kemajuan negaranya.

Sepulang dari india, tiba-tiba aku dihadapkan dengan persoalan besar, yaitu tentang penolakan sekelompok masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di pesisir. Dampak penambangan itu mengusik beberapa petani yang telah menikmati pedasnya cabe dan manisnya melon. Gara-gara persoalan ini, aku juga menemukan seseorang yang bisa sangat berarti dalam alur kehidupanku, yaitu Guruh. Situasi dari kami yang masing-masing bertentangan dan berbeda terkadang membuat kami tak begitu kompak. Inilah kisah-kasihku yang kadang begitu tawarnya, begitu manis, sangat membahagiakan, bahkan terkadang beberapa kejadian terasa membanggakan.

Data Buku

Judul: Etnogika 
Pengarang: Imperial Jathee 
Halaman : 234 Cetakan : I, 2017
Ukuran : 12.5 X 19 cm
ISBN : 9786028556750
Penerbit: Kaki Langit Kencana/PrenadaMedia
Harga :Rp. 50.000 

Bisa dipesan di http://www.prenadamedia.com atau klik http://www.prenadamedia.com/produk.html?id=Etnogika



Tuesday, 25 October 2016

Novel "Impala-impala Hindia" Terbit Okt 2016 (Pergerakan,Perlawanan, Romansa)

Dulu, novel tebal ini sebetulnya pernah dinyatakan "DITERIMA" akan diterbitkan oleh salah satu penerbit Jogja sekitar tahun 2010-an, tapi hasilnya di-PHP. Kenapa saya menjadi korban PHP karena saya waktu itu bukanlah tipe orang yang suka ribet, riwil, dan mau repot untuk terus mengejar tentang kapan terbitnya dan menuntut ini itu karena pada dasarnya, saya sudah sangat percaya waktu itu. Penerbitnya saat ini masih ada dan eksis lho. Pernah ditanyakan beberapa kali tentang kapan terbitnya, tapi responnya nihil. Ketika itu, saya sudah begitu senang mendengarnya karena sebetulnya naskah novel ini, dalam perjalanan dunia menulis saya, menjadi yang pertama diterima oleh penerbit. Naskah ini dinyatakan diterima melalui sebuah email. Fatalnya, emailnya konfirmasi diterima itu saya sudah hapus sehingga tidak bisa saya jadikan bukti, bahkan dulu itu pernah ditelepon orang dari penerbit itu, apakah mau jual putus. Saya katakan tidak! Seriring waktu, saya terus menunggu hingga tahun 2016 ini, tapi tidak ada kabar sama sekali dan follow up dari sana. Surat Perjanjian Penerbitan pun tak kunjung datang.


Naskah novel ini sebetulnya mendahului ada sebelum naskah dua novel yang sudah diterbitkan tahun 2012 dan 2015, tapi malah mendapat giliran terbit di tahun 2016 ini. Kalau boleh cerita, dulu ketika menulis naskah novel "Impala-impala Hindia" ini, saya mencicilnya setiap hari, minimal 5-10 halaman. Saya fokus ke komitmen untuk menyelesaikan cerita ini. Saya selalu tulis cerita setelah habis pulang kerja, bahkan hari Minggu, saya tulis kalau ada waktu. Ditulis hampir setahun lebih dari tahun 2009-2010 hingga saya tawarkan ke sebuah penerbit dan hasilnya di-PHP hingga saya terbitkan sendiri secara indie. Beberapa buku referensi dan blusukan di internet tentunya mengawali/mengantar saya untuk menulis novel tebal ini.

Kenapa, saya memilih diterbitkan secara indie karena tidak mungkin di-PHP. Tentunya, bisa terbit cepat dengan kualitas cetakan yang tak kalah bagus, bahkan lebih hasilnya. Banyak penulis mungkin ingin diterbitkan secara mayor/massal, tapi dalam perjalanan perziarahan saya dalam menulis, itu bukan sebuah pilihan mutlak. Masih banyak jalan. Dengan indie, saya bisa menuangkan ambisi saya yang idealis untuk sebuah novel. Demikian, celoteh saya.

Sinopsis:

Akulah Maon, anak seorang pekerja rendahan di jawatan kereta api Modjokerto. Ayahku bernama Prawiro Atmodjo. Beliaulah yang selalu mengharapkan agar aku, anak laki-laki satu-satunya bisa mengenyam bangku sekolah. Bapakkulah yang setiap siang dan malam selalu bekerja keras demi membiayai keperluan sekolahku. 

Kehidupan semasa kecilku meski terasa sedikit, tapi cukup karena pada tahun 1907, aku bisa diterima menjadi salah satu murid di Tweede Klas (sekolah bumiputera atau pribumi kelas dua) lalu menyelesaikannya meski di belakang itu semua ada peran seseorang Tuan Belanda yang aku ketahui sangat menaruh perhatian pada Bapakku. Selain itu, aku adalah pribumi kecil yang sungguh bukan priyayi, tetapi bisa mendapatkan sertifikat Klein Abtenaar sehingga bisa menjadi juru tulis di Stasiun Surabaya. 

Lika-liku hidupku sangat dipengaruhi oleh dua orang besar yang akan terus kukagumi hingga akhir hayatku. Dua orang itu bernama Tuan Tjokro dan Tuan Sneev. Tuan-tuan inilah yang berjasa membuka pikiranku sehingga bisa melihat permasalahan-permasalahan pelik atas bangsaku. 

Di Surabaya yang gerah, aku juga mengenal sesosok perempuan yang sangat meneduhkan saat berada di dekatnya. Dialah Rianne, sang Sabana Hatiku, seorang perempuan totok Belanda bermata jeli. 

Namun, takdir telah berkata lain kepadaku. Kekuatan besar di depanku begitu sulit ditaklukan… 

“Pantang mencari kenikmatan dan kesenangan hidup dari membonceng pada sebuah kekuasaan” 
-Maon-

Identitas Buku
Kategori: Novel (fiksi)
ISBN:978-602-3092-09-3
Judul: impala-impala Hindia
Penulis: Imperial Jathee
Ukuran/Hlm:16x23/818
Edisi: I/1st Published
Tahun Terbit:2016
Harga:200k

Novel sejarah ini bisa kamu order di www.bukuindie.com/ WA: 081215169225
Klik https://www.bukuindie.com/p/impala-impala-hindia/


Wednesday, 1 July 2015

Pengaturan Undo di GMAIL

Seringkali, kita mengirim email yang salah atau ke alamat email yang bukan seharusnya. Saat ini, Gmail memiliki fasilitas undo emailmu. Berikut ini, langkah-langkah pengaturannya,yaitu:

1. Masuk ke email Gmailmu. Pilih Settings.


2. Klik Setting.



3. Cari Undo Send. Centang dan atur durasi waktu untuk undo emailmu.



4. Klik Save Changes yang berada di posisi bawah sendiri.



Selamat Mencoba!




Jangan-jangan Kita Korban Proxy War di Jejaring Sosial (Sebuah Perang Modern)


Kali ini, dari Calon Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, kita akan belajar sedikit tentang ‘proxy war karena beliaulah yang mendalami ‘proxy war’ dan pernah membuat makalah dengan tema tersebut. Intinya, ini adalah perang antara dua pihak yang tidak saling berhadap-hadapan, tapi menggunakan pihak ketiga untuk mengalahkan musuhnya. Pihak ketiga menurut Jenderal Gatot bisa berupa LSM, partai politik, ormas dll, tapi menurut penulis, pihak ketiga bisa juga lho sebuah akun di jejaring sosial. Penjelasan simpelnya, Anda sangat ingin menghajar seseorang, tapi seseorang itu lebih kuat dari Anda, terus Anda membayar Agung Hercules untuk menghajarnya dengan barbelnya.

Yuk kita lihat perkembangan teknologi komunikasi saat ini dan hubungannya dengan ‘proxy war’:

Nah, di tengah cepatnya arus revolusi teknologi komunikasi, ternyata juga berdampak pada tradisi kepenulisan. Kalau dulu orang lebih suka menulis opininya di sebuah koran atau majalahnya agar pendapatnya dibaca banyak orang, kini tak perlu repot-repot karena jejaring sosial adalah kuncinya. Semakin kontroversial konten yang di-upload, kemungkinan akan semakin banyak yang baca dan share. Hasilnya, Anda akan populer lalu bisa berbisnis dengan modal akun yang sudah terkenal. Kelahiran akun-akun anonim pun tak lepas dari pengaruh canggihnya internet ini. Revolusi komunikasi yang diciptakan teknologi internet, telah menciptakan ruang-ruang alternatif baru di luar dunia yang nyata dan penuh aturan. Kalau kita masih ingat, akun anonim seperti Trio Macan 2000 begitu sangat memanfaatkan ruang dunia maya yang saat ini begitu efektif. Akun ini begitu ingin mengubah mindset atau memprovokasi masyarakat untuk tidak memilih calon presiden tertentu saat itu atau gemar membuka aib pejabat tertentu, padahal belum tentu kebenarannya. Untuk itulah kita tidak perlu heran jika banyak status FB atau Twitter yang menggiring follower-nya agar mengikuti pendapatnya atau ideologinya.
Sifat demokratis dunia cyber juga menghancurkan tembok hukum yang begitu mengikat di dunia nyata, yang hanya mengenal dua kategori saja, yatu benar dan salah. Jika sebuah akun FB atau Twitter melanggar hukum di dunia maya, pemilik akun pun bisa saja langsung beralibi jika akunnya dibajak atau disangkal bukan miliknya, contoh ketika foto bugil Pamela Safitri terekpos, lalu dikonfirmasi saja oleh pemiliknya jika akunnya dibajak. Pilihan inilah jawaban kenapa banyak orang suka membuat akun di jejaring sosial daripada berteriak-teriak pakai TOA di pasar atau terminal, hehe. Selain itu, kran untuk menulis di dunia cyber memang terbuka begitu lebar, tanpa takut dengan admin dari jejaring sosial tersebut. Pernahkah kita mendengar pemilik akun FB atau Twitter di-banned adminnya meski berisi hasutan dan fitnah, jarang sekali kan?
Jangan-jangan akun apapun itu yang beredar di sekitar kita, baik itu FB maupun Twitter yang sangat kontroversial akhir-akhir ini, merupakan pihak ketiga yang digunakan pihak-pihak yang sebetulnya masih berseteru (siapapun itu di negeri kita), misal akun-akun bernuansa Islam seperti FB Jonru atau akun twitter dari Felix Siauw, Hafidz Ary. Hati seseorang tentu tidak bisa diduga kan? Dengan sumber daya keuangan dan pengaruhnya, seseorang tentu masih ingin terus mengalahkan musuhnya meski di dunia luar (media) mereka sering bertemu, makan bersama, dan tersenyum satu antara yang lain. Kalau menurut penulis, kita sebagai pihak yang tidak berseteru sebaiknya diam saja biarkan mereka berseteru sendiri. Ini hanyalah pendapat saya saja lho kalau pun tidak meyakinkan, mohon dimaafkan. Merdeka!

Friday, 5 June 2015

Iseng Eksis di Wattpad #Juni2015

Jaman ini siapapun bisa menjadi penulis. Siapa bilang susah, mudah kok! Tak perlu kriteria yang bertele-tele (misal nilai market, apakah masuk trend, apakah masuk selera editor atau penerbit, dll). Kamu bisa menjadi penulis detik ini juga. Coba kamu buka  www.wattpad.com.  Kamu dapat membuat akun gratis untuk mulai menulis di wattpad. Dengan modal email, kamu sudah menjadi calon penulis jika sudah membuat akun. 

Wattpad adalah komunitas online bagi para penulis. Artinya, yang membaca tulisanmu itu adalah para penulis juga. Fungsinya tidak jauh berbeda dengan blogger. Pemilik akun wattpad nantinya akan dapat memposting naskah novel, puisi, dan cerita pendek dalam berbagai genre. Pengguna juga dapat memberikan sebuah komentar dan voting pada setiap bacaan. Wattpad juga memiliki kemampuan untuk dibaca di komputer, android, atau tablet pembacanya. Simpelkan?

Intinya, di Wattpad, kamu bisa menjadi penyair, cerpenis, dan novelis. Akhirnya, tulisanmu itu bisa dibaca oleh banyak orang. Komentar, kritikan, atau masukan diterima saja. Kalau mendapat pujian, itu bonus. Nggak perlu berpikir ribet ini dan itu, ya kan?

Untuk itu, bagi kamu penulis yang idealis? Suka mengekspresikan tulisan menurut kemauanmu? Tak mau ada aturan yang membelenggu tulisanmu? Tulis dan upload saat ini juga di Wattpad.

Ayo siapa yang tertarik menulis di Wattpad? Asyik lho!



Monday, 4 May 2015

Yang pertama, E-sertifikat Untukku dari Iseng Ikut Lomba Puisi

4/5/2015

Dunia selalu berkembang ke depan dengan perubahannya. Well, awal bulan Mei ini ada yang menarik, meski puisinya tidak menang. Baru kali ini dapat sertifikat dalam bentuk softcopy atau e-sertifikat, bukan hardcopy dalam bentuk kertas ^^


Monday, 9 March 2015

Membangun dan Membangun...

Membangun dan membangun. Inilah proses yang kita lihat begitu nyata di sekitar kita. Pada dasarnya, semua orang di dunia ini sedang membangun. Bisa dipastikan bahwa tak ada yang tidak membangun. Apapun itu orangnya pasti sedang membangun. Beberapa membangun mimpinya sesuai dengan keinginannya. Segelintir membangun harapan setelah bangunan harapan mereka runtuh. Untuk itu, apapun keadaannya pasti sedang membangun meski harus memulai membangun lagi dari awal.
Tak terkecuali yang sedang menulis ini. Dia juga sedang membangun banyak hal. Membangun tidak harus sesuatu yang besar atau fenomenal. Bangunlah apa yang ada di depanmu. Kalau suka menulis, apapun itu tulisanmu, bangunlah tulisanmu. Setidaknya sampai selesai. Kalau pun itu tak berarti buat orang lain, tulislah yang berarti buatmu. Kalau itu puisi, tempelkan di tembok kamarmu, selesai! Apapun itu yang dibangun dengan niat baik pasti tidak akan sia-sia. Penulis meyakini hal tersebut.
Kita semua pasti memiliki mimpi Tak mungkin tak punya mimpi meski itu anak TK atau sekedar hal yang sederhana. Manusia memang hidup dari mimpi yang mereka bangun. Mereka rela menghabiskan waktu dan materi untuk mewujudkan mimpinya ini. Inilah yang disebut membangun.
Ayo bangunlah mimpimu apapun  itu.


Saturday, 28 February 2015

"Cinta, Sudahlah Aku" Tidak Juara, tapi Terpilih dari 1.025 Cerita Pendek yang Masuk di Proyek Menulis #KasihTakSampai ^^

Bagiku, cara menulis yang ampuh ya, menulis itu sendiri. Terus menulis. Seringkali, kita terjebak atau terfokus pada bagaimana cara atau teknis menulis. Ini memang tidak salah. Tapi tekad yang membaja dan keinginan dari hati yang kuat akan menentukan tulisanmu itu sendiri. Yang perlu diingat adalah tulisanmu itu harus tertulis secara alamiah sesuai rasa yang ada di hatimu. Kalau belum bisa tembus ke penerbit besar, misal Gramedia ya coba penerbit yang lain. Indie publishing juga tidak apa-apa. Penulis yang justru terfokus pada hal-hal yang lain di luar tulisannya sendiri, seringkali akan menghambat tulisannya sendiri. Tentu, kita juga harus menambah pengetahuan dengan banyak membaca karya orang lain atau berdiskusi dengan teman atau komunitas tentang tulisanmu.
Tulisan penulis itu seperti sidik jari. Sangat khas dan memiliki karakter tersendiri. Tulisanmu itu akan otentik. Tulisanmu tidak akan sama denga tulisan orang lain, baik teknis atau gaya tulisannya. Tips menulis ATM adalah yang begitu sering kita dengar. Meskipun terdengar klise, ATM ini sangat membantu kita untuk menulis. ATM adalah Amati, Tiru, Modifikasi.
Amatilah karya-karya penulis ternama atau penulis buku yang kamu sukai. Amati dan lihat cara penulisannya, misal teknis menulis dilaog dan narasi. Telitilah tentang komposisi narasi dan dialognya itu. Deskripsinya juga amatilah dan telitilah, misal gaya menulis kalimat per kalimat. Kamu pasti akan menemukan resepnya.
Tirulah teknis dan gaya tulisan penulis yang kamu sukai itu. Jika merasakan ada yang kurang cocok, buang saja. Ambil yang baik. Siapa tahu kombinasi ini akan membaut tulisanmu semakin enak dibaca.
Modifikasi tulisanmu itu secara terus-menerus dengan sari-sari teknis dan gaya tulisan dari penulis kesukaanmu itu. Seiring waktu, kamu akan merasakan rasa yang berbeda di tulisanmu itu. 
Jangan dianggap serius teori menulis yang kampungan ini ya. Tulis saja ceritamu sekarang. Go!!








Wednesday, 4 February 2015

Buku "13 Poin Menulis Cerita Pendek", Pasti Bisa Menulis Cerpen



"Kalau nulis dari dalam hati, yang namanya ide tulisan akan jalan terus," Fira Basuki.

Ya dari hati, menulis memang harus didasari oleh keinginan hati. Kekuatan hati yang kuat dan tekad yang membaja akan membuat tulisanmu memiliki taji. Jika menulis hanya untuk coba-coba, tulisanmu tentu tak akan maksimal. Untuk itu, yakinkan hatimu saat akan menulis, cieeh!

Menulis kini memang begitu dekat dengan ranah gaya hidup anak muda. Buktinya, maraknya bakat menulis dengan spontanitas yang menarik, lalu ter-upload melalui tulisan-tulisan pendek yang bertebaran di blog, jejaring sosial, dan lain sebagainya. Teknologi seolah memfasilitasi manusia untuk menulis. Sebagian besar pun menyukai menulis fiksi.

Menulis fiksi itu memang gampang lho. Tak percaya. Kalau kamu sedang bercerita atau berkhayal dengan temanmu, lalu merasa itu sungguh-sungguh nyata terjadi, artinya kamu punya bakat sebagai pencerita. Fiksi adalah cerita rekaan, yang di dalamnya kamu boleh memasukkan segala kemungkinan. Tentunya, kemungkinan-kemungkinan itu harus disertai dengan bekal pengetahuan yang cukup agar ceritamu benar-benar nyata. Banyak membaca tentu menjadi solusinya.

Saya menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadi selama dua tahun lebih menjadi editor akuisi. Harapan saya, semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini, setidaknya dapat memberikan referensi yang berarti bagi para calon penulis cerita pendek di Republik Indonesia ini.




Cari di toko buku terdekat atau bisa dipesan di http://andipublisher.com/

Monday, 26 January 2015

Novel "Anak-anak Minyak", Cerita Murid H.B.S Menemukan Cinta dan Menolak Ketidakadilan di Hindia




Kutipan dari novel "Anak-anak Minyak" tentang kekaguman Han,s terhadap Julico:

Kini kupegang jari-jari tangannya. Kurasakan begitu halus dengan kuku yang begitu berwarna putih. Kami berdua mulai bercerita tentang Brandan lagi, tentang pasirnya yang putih dan debur halus ombak yang biru dengan buihnya. Dulu, Julico bertanya tentang siapa penemu minyak bumi pertama kali di Brandan kepadaku. Aku tak bisa menjawab. Jawabnya yaitu Tuan Aeliko Janszoon Zijlker. Orang yang tak pernah kukenal, tapi menjadi kuketahui gara-gara Julico. Entah, seperti apa rupanya.
**
Karena latar belakangnya Papanya yang di B.P.M, Han,s pernah diajak ke pesta-pesta dari perusahaan minyak tersebut. Suatu kali, ada tamu di B.P.M, yaitu Tuan Pierre dari Prancis. Tak ada maksud tertentu, ia mengajak jalan-jalan ke Deli hingga merasa prihatin dengan keadaan buruh perkebunan di sana. Han,s menuliskan sebuah essai tentang keadaan di Deli. Ia sampai diberi teguran oleh Ibu Gurunya, Karel dan Direktur sekolahnya, Tuan Russel gara-gara essai ini. Gara-gara esainya ini, kota Medan menjadi goncang karena para gerilyawan menjadi begitu geram dengan perlakuan para mandor perkebunan di Deli.

Julico
Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s.

Han,s
Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu.

Tuan Pierre
Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini.

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s. Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya? Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya. Yuk segera baca saja novel ini…

Friday, 23 January 2015

Novel "Anak-anak Minyak", Cerita Murid H.B.S Mengenal Indonesia (Terbit Januari 2015)

Kini kupegang jari-jari tangannya. Kurasakan begitu halus dengan kuku yang begitu berwarna putih. Kami berdua mulai bercerita tentang Brandan lagi, tentang pasirnya yang putih dan debur halus ombak yang biru dengan buihnya. Dulu, Julico bertanya tentang siapa penemu minyak bumi pertama kali di Brandan kepadaku. Aku tak bisa menjawab. Jawabnya yaitu Tuan Aeliko Janszoon Zijlker. Orang yang tak pernah kukenal, tapi menjadi kuketahui gara-gara Julico. Entah, seperti apa rupanya. Indonesia adalah nama bangsaku, bukan Hindia.



Latar tempat cerita ini bernama Pangkalan Brandan. Sebuah nama daerah yang memang terdengar asing di telinga kita, tapi memiliki nilai sejarah yang harus diketahui banyak orang semasa Pemerintahan Kolonial Belanda karena penghasil minyak bumi atau emas hitam pertama di Hindia.

Han,s, kelahiran Gorontalo, memiliki sebuah pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya di Pangkalan Brandan dan kota Medan, Sumatera Utara. Latar belakang cerita ini adalah era jaman Hindia Belanda.

Papanya, seorang kerani perusahaan minyak Belanda, yaitu B.P.M. Karena itu, Han,s dapat merasakan pendidikan yang cukup, yaitu H.B.S di kota Medan.

Pengalamannya yang menarik terjadi dari Pangkalan Brandan hingga Medan. Ia begitu tertarik dengan alamnya. Ia mempunyai tiga kawan di H.B.S, yaitu Thamrin, Rustam, dan Yohan. Ia juga berkenalan dengan gadis cantik, yaitu Julico dan Lauren,s Kakaknya, seorang Belanda. Dengan tukang cukur, Pak Wursito dari Jawa, ia juga berkenalan. Pak Bilson, seorang pekerja B.P.M, memberikannya banyak info tentang Jong Bataks dan pergerakkan lainnya.

Karena latar belakangnya Papanya yang di B.P.M, Han,s pernah diajak ke pesta-pesta dari perusahaan minyak tersebut. Suatu kali, ada tamu di B.P.M, yaitu Tuan Pierre dari Prancis. Tak ada maksud tertentu, ia mengajak jalan-jalan ke Deli hingga merasa prihatin dengan keadaan buruh perkebunan di sana. Han,s menuliskan sebuah essai tentang keadaan di Deli. Ia sampai diberi teguran oleh Ibu Gurunya, Karel dan Direktur sekolahnya, Tuan Russel gara-gara essai ini.

Gara-gara esainya ini, kota Medan menjadi goncang karena para gerilyawan menjadi begitu geram dengan perlakuan para mandor perkebunan di Deli.

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s.

Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya?

Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya.

Yuk segera baca saja novel ini…




Julico, anak perempuan dari pejabat penting perusahaan minyak Belanda
Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s.

Han,s, murid H.B.S dan anak laki-laki dari seorang kerani perusahaan minyak Belanda
Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu.

Tuan Pierre, seorang insinyur dari Prancis yang bekerja di perusahaan minyak Belanda
Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini.

Penulis                 : ImperialJathee

Judul                    : Anak-anak Minyak

ISBN                    : 978-979-29-4698-7

Ukuran                 : 13 x 19

Jumlah Halaman : iv + 428

Penerbit               : Sheila, Penerbit Andi

Friday, 16 January 2015

Hanya Cinta Saja, Masak?

Cinta itu melayang-layang. Tak tertangkap tangan. Terbang di antara manusia. Mempunyai dunianya sendiri. Menentukan nasibnya sendiri. Terkadang hinggap di sebuah hati tanpa diduga tanpa disangka-sangka, lalu pergi dengan begitu saja. Cinta bisa membuat nelangsa seseorang. Cinta itu universal luas tanpa alasan dan tidak pernah bisa dijelaskan.

Hari ini, saya sedang berpikir ngawur. Entahlah, di kepala hanya muncul soal relatif. Semuanya itu relatif. Setiap cinta pasti mengisyaratkan hal-hal yang indah atau meneduhkan, tapi gara-gara cinta orang bisa berbuat tidak indah. Agama juga seperti itu. Setiap cinta pasti baik, tapi karena cinta, orang menjadi berbuat tidak baik. Terbaca klise ya, tapi memang begitulah kenyataannya.

Semua orang pasti mengenal cinta. Beberapa mengenalnya secara asal-asalan dan banyak lagi mengenalnya secara sepenuh hati. Di sekitar kita, cinta seringkali dipahami seperti mengiyakan ketika ditembak cinta oleh seseorang, menemaninya ke bioskop, mendengarkan keluhannya, memberi uang, memberi senyuman, menemaninya pergi ke mana pun, dll. Apakah sebatas itu? Tentu tidak. Biarkanlah semua orang menafsirkan cinta dengan caranya masing-masing. Barangkali karena definisinya menurut penilaian setiap orang, orang pun seringkali kecewa dengan apa yang dia tahu tentang cinta itu. Inilah yang terjadi, cinta seringkali tidak seperti yang kita harapan.

Artinya, semua yang baik belum tentu bisa diterima dengan kebaikannya, tapi justru menimbulkan keburukan. Inilah yang terjadi di sekitar kita, tak ada pasti. Semuanya serba relatif. Ada yang bilang punya hubungan cinta yang banyak menyenangkan, tapi beberapa justru dikejar-kejar perasaan khawatir jika ketahuan si ini dan si itu. Tentu semua ini masih bisa didebat, dibantah, atau didiskusikan karena ini hanya corat-coret saja. Tak perlu dipikirkan ya...

Link yang membuktikan, gara-gara cinta, orang berbuat nekat.

  1. http://www.tribunnews.com/regional/2014/04/25/samsuni-terjun-bebas-dari-kapal-feri-karena-cintanya-diputus-pacar
  2. http://metro.sindonews.com/read/889108/31/diputus-cinta-cecep-nekat-gantung-diri-1407415033
  3. http://buser.liputan6.com/read/36770/karena-cinta-waria-membunuh-lalu-mencincang-korban
  4. http://megapolitan.kompas.com/read/2014/04/06/1533302/Tak.Terima.Cinta.Ditolak.Mantan.Kekasih.Disekap


Tuesday, 6 January 2015

Menjadi Berbeda, Menjadi Lain dari yang Berbeda...

Berbeda akhir-akhir ini identik menjadi hal yang menakutkan atau membanggakan. Tidak hanya dalam Pemilu 2014 tahun lalu, bahkan di lingkungan terkecil kita, misal tempat kerja atau pertemanan. Berbeda menjadi barang haram atau tabu. Kita pasti akan mendapat perlawanan dari arus utama yang biasanya kuat dan menghanyutkan. Tidak menjadi dari kebanyakan tentu bukanlah hal yang mudah. Menjadi lain dari khalayak umum pasti akan menjadi sasaran pembicaraan, misal mendapat pujian atau malah menjadi bahan gosip, caci maki, atau cibiran. Berbeda bisa dalam banyak hal, yaitu berbeda pandangan, keyakinan, atau berbeda pilihan. Namun, seringkali, kita merasa berada di persimpangan belum memilih untuk menjadi berbeda. Pertanyaannya, apakah kita akan seperti itu terus? Bila melihat banyak sejarah orang-orang besar, konsekuensi dari menjadi berbeda ada dua, kita akan lebur atau terbang semakin tinggi.

Di tahun 2015 ini, harapannya tentu harus berbeda dengan tahun 2014. Terserah pilihan kita, ingin menjadi lebih baik, menuju ke arah positif, atau kita malah jatuh dalam pesimisme-pesimisme yang tidak perlu dipikirkan. Satu hal yang perlu diingat adalah waktu tidak bisa dikembalikan. Untuk itu, pergunakan waktu dengan baik yang tentunya akan menjadi kebanggan di masa depan ketika kita tua. Berbeda memang memiliki dua definisi yang pasti, yaitu penolakan atau penerimaan. Selamat mencoba menjadi berbeda, rasakanlah...

Masih banyak jalan lain untuk menjadi berbeda...



Saturday, 13 December 2014

Njoto, Otodidak yang Cerdas




Njoto dikenal sebagai politikus yang memiliki minat besar terhadap kesenian, sastra, dan musik. "Dalam hal seni dan budaya, Njoto sangat kental. Setiap terbit buku baru, dia pasti mencarinya. Dan, dia tidak pernah tidak membaca majalah kebudayaan yang baru terbit," kata Trikoyo, alumnus sekolah perwira angkatan darat Jepang yang turut membantu Njoto dan Dipa Nusantara Aidit menerbitkan Harian Rakjat dan Bintang Merah.

Trikoyo adalah putra Kiai Anom Dardiri Suromidjoyo, pemimpin Pondok Pesantren Naqsabandiyah di Kutoarjo, Jawa Tengah, yang dibuang pemerintah kolonial Belanda ke Boven Digul, Papua, pada 1926. Trikoyo, kini berusia 84 tahun, pernah 10 tahun mendekam di kamp tahanan Pulau Buru di masa Orde Baru.

Penulis cerita pendek ini sering mengobrol dengan Njoto, meski ia sudah tak ingat apa saja yang dibicarakannya. Ia cuma tak bisa melupakan minat sastra Njoto yang terbentang luas: dari buku karya pengarang Rusia seperti Nikolai Gogol dan Dostoevsky, hingga penulis yang ideologinya berseberangan. "Dia juga suka karya H.B. Jassin. Dia juga tidak meremehkan dan selalu memuji tulisan Hamka," katanya.

Njoto banyak membaca, rajin menulis. Kalau mendapat ide, kata Trikoyo, ia biasanya langsung menuangkannya lewat mesin ketik, dengan "jurus 11 jari" alias hanya dengan telunjuk  kiri dan kanan. Bila dalam perjalanan menulis itu muncul ide lain,  dia akan mencabut kertas itu dan menggantinya dengan yang baru. "Tulisan sebelumnya tidak dia buang, tapi nanti dia lanjutkan," katanya.

Njoto suka menggunakan nama pena Iramani dalam tulisannya. Iramani adalah adik bungsu Njoto. Sejumlah puisi karya Njoto muncul dengan nama Iramani di Harian Rakjat, media  resmi Partai Komunis Indonesia yang berkantor di Pintu Besar 93, Jakarta. Koran itu dipimpin Mula Naibaho, Njoto, dan Supeno. Itulah koran politik terbesar dengan oplah mencapai 23 ribu eksemplar pada 1950-1965.

September tahun lalu, sembilan puisi Njoto yang pernah muncul di harian itu diterbitkan kembali dalam sebuah buku.  Gugur Merah: Sehimpunan Puisi Lekra, Harian Rakyat 1950-1965, buku puisi yang disusun Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan itu, berisi puisi Njoto berjudul "Tahun Baru", "Catatan Peking", "Jangtoe", "Shanghai", "Merah Kesumba", "Variasi Haiku", "Variasi Cak", dan "Pertemuan di Paris". Lima dari puisi itu mengangkat soal Cina dan
ditulis dari negeri itu. Puisi "Jangtoe" di bawah ini, misalnya, ditulis di Cungking-Wunan pada 14 Oktober 1959:

Jangse mengalir
Kepalku menghilir
Dari Cangking ke Wuhan
Kujelajahi haridepan
Kujelajahi haridepan

Itulah jenis puisi yang, menurut Amarzan Ismail Hamid, redaktur Harian Rakjat Minggu saat itu, lahir dari kekaguman. Kala itu orang Indonesia sulit sekali pergi ke luar negeri, tapi orang-orang PKI agak gampang karena sering diundang pemerintah Cina atau Rusia. Harian Rakjat Minggu diasuh oleh Amarzan, Njoto, Banda Harahap, Basuki Resobowo, Zubir A.A., dan Bambang Sukawati Dewantara. Nama yang terakhir adalah putra bungsu Ki Hajar Dewantara. 42

Meski Njoto adalah pemimpin redaksi harian itu, dia tampaknya sangat sibuk mengurusi politik, sehingga jarang muncul di kantor redaksi. Salah seorang redaktur pernah berkata, selama dua tahun dia bekerja di sana, Njoto hanya muncul sepuluh kali. Meski begitu, menurut Svetlana dan Iramani, Njoto sering mengajak mereka ke kantor Harian Rakjat untuk melihat proses pencetakan medianya. "Kalau malam, pukul 9 sampai pukul 11 berada di kantor Harian Rakjat," kata Iramani.

Njoto suka berbicara tentang sastra tapi tak terlalu serius. "Misalnya ada cerita pendek Rusia yang baru terbit, dia ngomong sebentar, tidak sampai mendalam," kata Amarzan, yang baru berusia 22 tahun ketika bergabung di media itu pada Juni 1963.

Harian Rakjat edisi Minggu itu secara rutin memuat  sebuah cerita pendek dan beberapa puisi, hasil seleksi kiriman para pengarang kiri dan anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra. Dalam seminggu rata-rata ada lima pengirim cerita pendek dan 40 pengirim puisi. Setiap orang biasanya mengirim tiga puisi atau lebih, meski sesekali ada yang bahkan mengirim 20 puisi.

Pada masa itu puisi tumbuh subur di Jakarta. Penyair papan atas kala itu termasuk Banda Harahap, Sitor Situmorang, dan Agam Wispi dari kelompok kiri. Di luar itu ada pula Ramadhan K.H.,  Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, Rendra, Arifin C. Noer, Hartoyo Andangjaya, dan Budiman S. Hartoyo. Amarzan sendiri, dalam buku Keith Foulcher,  Social Commitment in Literature and the Arts, disebut sebagai penyair Lekra yang paling penting.

Para penyair kiri umumnya mengirim puisi ke Harian  Rakjat Minggu, meski bila dimuat mereka tak mendapat honor. Koran setebal empat halaman itu seakan menjadi standar dalam sastra. Puisi yang dimuat biasanya memenuhi dua aspek-istilah mereka, dua tinggi-yaitu tinggi ideologinya dan tinggi estetikanya. Di antara karya penyair Lekra, puisi Njoto tidak bisa dibilang bagus, meski bukan puisi yang buruk. Kualitasnya rata-rata.

Sebagian besar puisi karya penyair Lekra itu berupa propaganda, slogan, atau yang disebut sajak poster. Kebanyakan, aspek ideologi dalam sajak mereka, kata Amarzan, masih mentah, asal menyerang tuan tanah, kapitalis birokrat, atau Amerika. "Sajak-sajak Njoto itu tinggi ideologi, tapi tidak berkibar-kibar. Kalau dibuat pemeringkatan di Lekra, dia pasti tidak masuk peringkat satu. Saya kira paling  tinggi peringkat dua," katanya.

Namun puisi Njoto lebih baik daripada sajak Aidit.  "Sajak Aidit itu jelek benar, sajak-sajak maksa," kata sosok yang pernah membuat marah Aidit karena menolak memuat puisi karya pimpinan tertinggi PKI itu.

Asahan Aidit, adik bungsu D.N. Aidit, menilai Njoto benar-benar menguasai bidang yang digelutinya, termasuk sastra, terutama esai. "Hal itu bukan otomatis begitu saja, tapi Njoto adalah juga seorang otodidak besar yang punya banyak perhatian dan banyak studi, termasuk di bidang sastra. Dia menguasai karena dia juga banyak studi, banyak membaca, dan dia mempunyai otak yang cerdas serta apresiasi sastra yang tinggi," katanya melalui surat elektronik.
Aroma pamflet memang terasa dalam puisi seperti "Catatan Peking"
ini:      
                                                                       
Alangkah hebat
di hati alangkah dekat!
kaum tani mengolah besi
kaum buruh di sawah berpeluh
bajak dan baja tukar-bertukar
mahasiswa pada pekerja
kaum pekerja menjadi siswa
berjuta milisia angkut senjata
siapa berani serang Sosialisme?

Njoto adalah orang yang menyusun piagam Lekra dan memperkenalkan slogan "politik sebagai panglima". "Tanpa politik sebagai panglima, perkembangan kebudayaan pada umumnya dan sastra pada khususnya tidak bakal tahu tugas dan garis yang harus ditempuh, bisa terjadi demam kegiatan, tapi kenyataannya akan merupakan gerakan tanpa kemajuan," kata dia di hadapan peserta Kongres Nasional Lekra pada 1951.

Namun, seperti kata Asahan, estetika Njoto tidak berhenti pada estetika pamflet atau pernyataan. Dia telah melampaui batas-batas yang dikurung oleh Lekra sendiri. "Njoto adalah Lekra modern yang lebih universil di bidang kebudayaan, termasuk sastra. Sastra Njoto lebih demokratis dan lebih estetis serta lebih universil," katanya. Hal ini tampak dalam sikap Njoto dalam tuduhan plagiarisme terhadap Tenggelamnya Kapal Van der Wijk karya Hamka. Njoto adalah orang yang menyarankan agar Lekra tidak "menghancurkan" Hamka.

Sumber: Tempo/KPG

Thursday, 11 December 2014

Njoto Korban Prahara G30S



Bogor, 6 Oktober 1965. Hampir sepekan setelah peristiwa penculikan enam jenderal Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat menggegerkan Jakarta. Presiden Soekarno memanggil semua menteri Kabinet Dwikora dan menggelar rapat mendadak di Istana Bogor. Sekitar empat puluh menteri hadir ketika itu. Hampir semuanya berpakaian putih-putih, jenis seragam para pembantu Presiden kala itu. Pengamanan mereka amat ketat, sebagian datang dengan dikawal panser tentara. Menteri Panglima Angkatan Udara Laksamana Madya Udara Omar Dhani yang belakangan dipenjara karena dituduh terlibat Gerakan 30 September tampak hadir. Ada pun Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan Jenderal Abdul Haris Nasution tak ada. Dia salah satu target operasi Cakrabirawa yang lolos sepekan sebelumnya. Ketua Comite Central Partai Komunis Indonesia Dipa Nusantara Aidit juga tidak kelihatan di antara peserta rapat. Sedangkan, Panglima Kostrad Mayor Jenderal Soeharto justru muncul. Suasana tegang. Setiap orang tampak was-was dan curiga satu sama lain.

Soekarno lalu membuka sidang. Pada kesempatan pertama, dia meminta Menteri Negara dan Wakil Ketua II Comite Central PKI Njoto bicara. "Saudara Njoto, kamu punya statement untuk disampaikan? Silakan," kata Soekarno, seperti dikutip Menteri Transmigrasi Mochamad Achadi kepada Tempo pada 2003. Njoto adalah salah satu peserta rapat. Njoto mengeluarkan secarik kertas berisi tulisan tangan dan mulai bicara. "PKI tidak bertanggung jawab atas peristiwa G30S," katanya tegas.

"Kejadian itu adalah masalah internal Angkatan Darat." Pernyataannya singkat saja. Soekarno lalu bicara. Sang Bung Besar menegaskan bahwa peristiwa 30 September itu adalah hal biasa dalam perjalanan sejarah bangsa. "Selalu ada peruncingan-peruncingan kekuatan. Kalau Darul Islam merupakan peruncingan kanan, PRRI/Permesta peruncingan nasionalis, maka ini peruncingan kiri," kata Soekarno. Presiden juga menyebut bahwa peristiwa G30S hanyalah tonggak kecil dalam perjalanan revolusi Indonesia. "Een rimpeltje in de oceaan," katanya. Hanya sebuah riak di tengah samudera.

PAGI sebelum rapat, M.H. Lukman, Menteri Negara dan Wakil Ketua I Comite Central PKI, menjemput Njoto di rumahnya, Jalan Malang 22, Menteng, Jakarta Pusat. Njoto bergegas menyongsong  kameradnya, yang baru keluar dari mobil dinas menteri bermerek Dodge Dart, dan langsung bertanya, "Apa sebetulnya yang terjadi?" Lukman menggeleng, "Saya juga tak tahu." Pada saat insiden penculikan dan pembunuhan para jenderal terjadi enam hari sebelumnya, Njoto sedang berada di Medan, Sumatera Utara, ikut kunjungan kerja Wakil Perdana Menteri I Soebandrio. Hal pertama yang dia lakukan setibanya kembali ke Ibu Kota adalah mengungsikan keluarganya keluar dari rumah dinas di Menteng. Gerakan 30 September memang direncanakan tanpa sepengetahuan Njoto. John Roosa, sejarawan University of British Columbia, Kanada, dalam bukunya, Dalih Pembunuhan Massal, menulis bagaimana Pemimpin Redaksi Harian Rakjat itu sudah lama dijauhkan dari pengambilan keputusan penting di dalam Politbiro PKI. Dia mengutip catatan yang dibuat panitera Politbiro PKI, Iskandar Subekti. "Dalam semua diskusi, kawan Njoto dengan sadar tidak diikutsertakan oleh kawan Aidit, dengan pertimbangan ideologis," ia mencatat.

Aidit, menurut Subekti, menganggap Njoto lebih Soekarnois  ketimbang komunis. Catatan lain menyebutkan bahwa Njoto saat itu lebih condong pada poros komunis Uni Soviet, bertentangan dengan  Aidit yang merapat pada poros Peking.

Dalam sebuah wawancara dengan koran Jepang, Asahi Shimbun, pada 2 Desember 1965, Njoto mempertanyakan dasar logika Gerakan 30 September. "Apakah premis Letkol Untung tentang adanya Dewan Jenderal membenarkan adanya suatu coup d'etat?" katanya. Tidak hanya Njoto, umumnya anggota Comite Central PKI juga tidak tahu Gerakan 30 September. Dalam pleidoinya di Mahkamah Militer Luar Biasa yang dibacakan pada 1972, Iskandar Subekti menjelaskan bahwa rapat Politbiro PKI pada Agustus 1965 hanya memutuskan akan memberikan "dukungan politis" kepada sebuah aksi militer yang dirancang "sejumlah perwira progresif". Pada akhir Agustus, keputusan Politbiro itu disampaikan kepada Comite Central PKI. Aidit memimpin sendiri rapat itu. "Tidak ada diskusi," kata Subekti. Dalam pleidoinya, Subekti menjelaskan partai tidak pernah memberikan dukungan fisik atas Gerakan 30 September. Partai hanya akan membela perjuangan itu melalui pemberitaan pers dan sidang sidang pemerintah.

"Itu sikap politik yang wajar dan biasa, berhubungan dengan perkembangan situasi dan garis politik PKI saat itu," tulisnya. Garis politik itulah yang diikuti Harian Rakjat, edisi Sabtu, 2 Oktober 1965. Koran yang dipimpin Njoto itu terbit sehari setelah Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah melarang semua media terbit, kecuali harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha-dua koran yang berafiliasi dengan TNI AD. Judul kepala berita Harian Rakjat dicetak besar besar, "Letkol Untung, Komandan Bataljon Tjakrabirawa, Menjelamatkan Presiden dan RI dari Kup Dewan Djendral". Di bawahnya, ada subjudul: "Gerakan 30 September Semata mata Gerakan dalam AD". Meski mendukung, Tajuk Rencana Harian Rakjat hari itu justru mengambil jarak dengan Gerakan 30 September. "Kita rakyat memahami betul apa yang dikemukakan oleh Letkol Untung dalam melakukan gerakannya yang patriotik itu," tulis editorial harian itu. "Tapi bagaimanapun juga persoalan tersebut adalah persoalan intern AD."

Meski terkesan hati-hati, pernyataan itu terasa menantang karena dirilis pada saat tentara sudah melarang penerbitan semua media. Apalagi, saat itu pasukan TNI AD sudah mengepung Halim Perdanakusuma dan melumpuhkan pasukan pendukung Gerakan 30 September  yang tersisa. Njoto dan redaksi Harian Rakjat tampaknya tidak paham dan tidak menduga akan ada perkembangan politik yang amat drastis pada hari hari pertama setelah Gerakan 30 September. Ada satu hal lagi yang menguatkan dugaan Njoto tidak terlibat Gerakan 30 September. Dalam sebuah diskusi di Tempo, akhir Agustus lalu, kawan dekat Njoto, bekas Pemimpin Redaksi Harian Merdeka  Joesoef Isak, membeberkan fakta bahwa Njoto sejak 1964 sudah diberhentikan dari semua jabatan fungsional di partainya. "Dia diam saja, semua dia pikul, seakan akan dia ikut (Gerakan 30 September)," kata Joesoef.

***

Sebuah rapat Kabinet Dwikora diadakan di Istana Bogor, 6 Oktober 1965. Seusai sidang, semua menteri bergegas pulang. Jurnalis Harian Rakjat, Amarzan Ismail Hamid, yang hadir saat itu, mengaku melihat Presiden Soekarno berbincang sebentar dengan Njoto, sebelum masuk ke Istana. "Itulah terakhir kali saya melihat Bung Njoto," katanya pekan lalu. Di halaman Istana, seorang Menteri Negara, Kolonel Polisi Boegi Sumpeno, sempat mengajak Njoto pulang bersama ke Jakarta, dikawal panser. "Ikut rombongan saya saja," kata Boegi menawarkan. Njoto tersenyum dan menolak.

"Itu sikap politik yang wajar dan biasa, berhubungan dengan perkembangan situasi dan garis politik PKI saat itu," tulisnya. Garis politik itulah yang diikuti Harian Rakjat, edisi Sabtu, 2 Oktober 1965. Koran yang dipimpin Njoto itu terbit sehari setelah Panglima Komando Daerah Militer Jakarta, Mayor Jenderal Umar Wirahadikusumah melarang semua media terbit, kecuali harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha - dua koran yang berafiliasi dengan TNI AD. Judul kepala berita Harian Rakjat dicetak besar besar, "Letkol Untung, Komandan Bataljon Tjakrabirawa, Menjelamatkan Presiden dan RI dari Kup Dewan Djendral". Di bawahnya, ada subjudul: "Gerakan 30 September Semata-mata Gerakan dalam AD". Meski mendukung, Tajuk Rencana Harian Rakjat hari itu justru mengambil jarak dengan Gerakan 30 September. "Kita rakyat memahami betul apa yang dikemukakan oleh Letkol Untung dalam melakukan gerakannya yang patriotik itu," tulis editorial harian itu. "Tapi bagaimanapun juga persoalan tersebut adalah persoalan intern AD." Meski terkesan hati-hati, pernyataan itu terasa menantang karena dirilis pada saat tentara sudah melarang penerbitan semua media. Apalagi, saat itu pasukan TNI AD sudah mengepung Halim Perdanakusuma dan melumpuhkan pasukan pendukung Gerakan 30 September  yang tersisa. Njoto dan redaksi Harian Rakjat tampaknya tidak paham dan tidak menduga akan ada perkembangan politik yang amat drastis pada hari-hari pertama setelah Gerakan 30 September. Ada satu hal lagi yang menguatkan dugaan Njoto tidak terlibat Gerakan 30 September. Dalam sebuah diskusi di Tempo, akhir Agustus lalu, kawan dekat Njoto, bekas Pemimpin Redaksi Harian Merdeka, Joesoef Isak, membeberkan fakta bahwa Njoto sejak 1964 sudah diberhentikan dari semua jabatan fungsional di partainya. "Dia diam saja, semua dia pikul, seakan akan dia ikut (Gerakan 30 September)," kata Joesoef. (Sumber: Tempo)