Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

Monday, 27 November 2017

Kedasih, Sosok Wanita Jawa Rekaan yang Istimewa

Tokoh Kedasih dalam novel “Njai Kedasih” memiliki karakter tersendiri, misal ia bisa melihat mata lelaki yang hanya melihat kemolekan tubuhnya dan tidak tulus hatinya sehingga tak mudah takluk dengan rayuan laki-laki yang tertarik pada dirinya. Ia memang pernah memiliki suami beberapa kali, tapi raib dipisahkan maut hingga terusir dari kampungnya karena dianggap membawa kutukan.
Kedasih juga memiliki latar pendidikan yang lumayan, meski hanya sampai tingkat HIS (setara dengan SMP) sehingga ia bisa membuat heran kepada orang-orang Eropa yang ingin merendahkannya. Ia bukan wanita pada umumnya.



Kedasih juga wanita mandiri, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, meski hanya berjualan kain batik di Pasar Senen, Batavia. Kedasih hidup berdua dengan Mbok Min, orang yang dipercayai Ibunda Kedasih untuk menemaninya. Ibundanya memang tak tega melihat Kedasih pergi sendirian.

Kedasih juga tidak seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah. Ia tak menjual harga dirinya, seperti Nyai Dasima yang selingkuh dengan Baba Samioen, karangan G. Francis. Selain itu, Kedasih meski sudah janda tak suka main serong dengan laki-laki lain atau melayani godaan Raden Sewoyo yang sering nakal, seperti sosok Nyai Saipa yang serong dengan jongosnya si Tjonat, karangan F.D.J. Pangemanann. Hatinya lebih memilih menunggu seorang laki-laki yang akan resmi menjadi suaminya kelak. Kedasih, nyai yang setia.

Harapan Kedasih untuk menemukan laki-laki yang tepat terwujud ketika dirinya bertemu di trem dengan Tuan Heidel, Insinyur Kereta Api yang bermata biru. Hubungan keduanya pun berlanjut hingga Kedasih sering mampir ke Stasiun Beos. Mereka berdua memutuskan ke arah yang lebih serius. Apakah mereka menikah, baca novel Njai Kedasih ya.

Ketika Jepang datang, suaminya membantu KNIL mempertahankan Pulau Jawa. Selama perang berlangsung, mereka hanya berhubungan melalui surat. Hingga sampai suatu waktu tak ada lagi surat datang dari Heidel. Apakah Suaminya ini akan kembali? Dengan begitu sedih, Kedasih berjanji untuk terus menunggunya.


Novel “Njai Kedasih” pun pernah diteliti dalam sebuah skripsi. Dalam skripsinya untuk meraih Sarjana Pendidikan dari Universitas Jember, Yunita Nur Fadilah menyebut kajian poskolonial dipakainya untuk telaah mendalam tentang perlawanan terjajah terhadap kolonialisme. Pada novel Njai Kedasih karya Imperial Jathee, ada bentuk praktik kolonialisme Belanda yang di dalamnya mengandung dominasi kepemimpinan (hegemoni) yang dilakukan tanpa paksaan, tapi sebenarnya menyebabkan ketidakadilan bagi pribumi. Ketidakadilan yang diterima pribumi misalnya sebutan Nyai bagi wanita pribumi identik sebagai gundik atau istri simpanan dari Tuan Belanda.


Namun, Nyai Kedasih walaupun mendapat sebutan Nyai tidak menjadi gundik dari Tuan Belanda, Heidel. Sebagai wanita pribumi, ia juga mempertahankan budaya dengan mengenakan kebaya dalam kesehariannya dan juga memiliki keberanian untuk melawan dominasi yang berhubungan dengan kehidupan sosial pribumi. Ketidakadilan yang diterima Nyai Kedasih membuatnya melakukan peniruan (mimikri) bahasa. Melalui mimikri bahasa, Nyai Kedasih dapat menunjukkan eksistensinya sebagai pribumi dan dapat mengacaukan identitas Belanda. Nyai Kedasih yang mendapat pandangan rendah dari Nyonya Ruth (wanita Belanda) berani untuk membantah dan juga melakukan perlawanan (resistensi) fisik. Novel “Njai Kedasih” ini bisa didapatkan di andipublisher.com.


Saturday, 14 October 2017

Novel Sejarah “Impala-impala Hindia” Diapresiasi PKBSBI,USD


Pusat Kajian Bahasa, Sastra, dan Budaya Indonesia (PKBSBI) dan Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma (USD) sukses melaksanakan kegiatan dalam rangka kuliah umum bertajuk “Apresiasi Budaya terhadap Novel Impala-impala Hindia karya Imperial Jathee”, di ruang seminar auditorium Driyarkara, Kamis (12/10).

PKBSBI memang menjadi salah satu unit di USD dengan tugasnya mengembangkan penelitian bahasa, sastra, dan budaya Indonesia. Kegiatan apresiasi bahasa, sastra, dan budaya memang menjadi agenda rutin tahunannya untuk pengembangan dan penghargaan terhadap hasil budaya.

Dalam makalahnya, Dr Yoseph Yapi Taum meneliti novel Impala-impala Hindia dalam perspektif postkolonial Homi K BhaBha. Pembahasan dalam teori postkolonialnya mencakup: stereotipe, ambivalensi, mimikri, dan hibriditas. Untuk stereotipe, dalam masyarakat jajahan, ia menemukan kutub dikotomis seperti penjajah dan yang dijajah. Untuk ambivalensi, dalam masyarakat jajahan, tokoh Maon berdiri di dua kaki, satu sisi memperjuangkan hak asasi pribumi di sisi lain, bekerja untuk kepentingan Belanda. Untuk mimikri, dalam masyarakat jajahan, tokoh Prawiro Atmodjo pernah menirukan gaya bicara orang Belanda. Terakhir, untuk hibriditas, sebuah peniruan kebudayaan Belanda, tokoh Maon diceritakan memakai pakaian jas sebagai pakaian khas model Eropa.

Untuk makalah Septina Krismawati, SS, MA, ia menemukan adanya kebudayaan Jawa dalam novel Impala-impala Hindia. Dibuktikan penelitiannya di makalah dengan menyebut adanya filosofi Jawa seperti Cokro Manggilingan dan Gusti Kang Murbeng Dumadi. Selain itu, ditemukan bentuk-bentuk sapaan khas orang Jawa seperti pakde, paklik, mbok, le, dll. Yang paling dominan adalah banyaknya nama orang Jawa dalam novel yang ditelitinya.

Penulis novel Impala-impala Hindia yang hadir dalam apresiasi budaya itu pun menjelaskan alasan menulis novelnya karena ingin memiliki tokoh-tokoh monumental, misalnya seperti tokoh Srintil dalam Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari, tokoh Lantip dalam Para Priyayi karya Umar Kayam, tokoh Minke dalam Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer dan tokoh Teto dalam Burung-burung Manyar karya RomoMangun Wijaya. Keinginan itulah yang menjadi dasar untuk menulis novelnya setebal 818 halaman.

Sesi tanya jawab pun begitu meriah karena antusiasnya para mahasiswa Sastra Indonesia yang begitu tertarik dengan acara rutin PKBSBI USD ini. Di akhir acara, penghargaan dan door prize diberikan kepada peserta dan para pengisi acara Apresiasi Budaya dari PKBSBI ini.

Thursday, 31 August 2017

Menariknya Profesi Etnograf di Novel "Etnogika", Dimuat di Harian Bernas,Kamis 31 Agustus 2017

Ketika membaca novel Etnogika terbitan Kakilangit Kencana, kita akan belajar tentang profesi etnograf. Etnograf adalah praktisi ilmu etnografi, tentunya. Berasal dari antropologi, etnografi adalah metode riset yang menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berusaha meneliti sehingga mengetahui kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu. Berikut ini, pendapat tokoh Meswari sebagai etnograf di novel Etnogika:

Bagiku, masyarakat Gunungkidul adalah masyarakat yang pintar. Di mataku, setelah pengamatan beberapa hari ini, orang Gunungkidul digambarkan sebagai orang yang rajin dan ulet, tidak ketagihan untuk makan dan minum enak, dan daya semangat perjuangan yang abadi. Kepintarannya adalah mampu melihat kesempatan dalam mengolah tanah yang tadinya tandus menjadi produktif, yaitu menghasilkan ketela dan Srikaya. Inilah bukti keunggulan manusia Gunungkidul yang kreatif dan tergembleng alam benar-benar. Maka benar kata banyak orang, sesungguhnya orang yang hidupnya selalu terhimpit oleh alam yang tidak menguntungkan akan bisa menghasilkan manusia-manusia cerdas.


Etnografi tak melulu berkutat meneliti sebuah budaya lho. Saat ini Etnografi juga mulai meluas jangkauannya dalam dunia bisnis. Etnografi menjadi sebuah alat untuk melihat ke dalam perkembangan budaya yang sedang in saat ini, atau faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berinteraksi dengan produk-produk seperti bir, pasta gigi, asuransi, rumah, atau benda elektronik.

Misalnya, para etnograf akan tertarik bila melihat seseorang yang mengatakan suka minuman sehat, tapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah, misalnya. Seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska, “Ethnography is a way to get up close and personal with consumers”.

Dalam novel Etnogika, tokoh yang bernama Meswari ini diceritakan pernah dikirim oleh perusahaan komputer kelas dunia untuk mengunjungi desa-desa di India selama dua tahun. Melalui penelitian dan pengamatannya ini, Meswari menemukan bahwa banyak warnet-warnet yang didirikan di desa-desa di India. Ia juga menemukan bahwa di desa-desa itu listrik sering padam (kadang sampai berhari-hari). Selain itu, jalan-jalan desa di sana itu masih banyak yang belum diaspal alias jalan tanah. Berbekal penelitiannya, perusahaan komputer raksasa tempatnya bekerja meluncurkan sebuah komputer PC dengan inovasi khususnya, yaitu hemat listrik dan antidebu. Inovasi teknologi itu ternyata bisa dihasilkan karena penelitian seorang etnograf.


Sepulang dari india, tiba-tiba Meswari harus dihadapkan dengan persoalan besar, yaitu tentang penolakan sekelompok masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di pesisir. Dampak penambangan itu mengusik beberapa petani yang telah menikmati pedasnya cabe dan manisnya melon. Gara-gara persoalan ini, ia juga menemukan seseorang yang bisa sangat berarti dalam alur kehidupannya, yaitu Guruh. Apakah Meswari seorang etnograf bisa menyelesaikan masalah pelik itu? Baca kisahnya di novel Etnogika ya...

Data Buku

Judul: Etnogika
Pengarang: Imperial Jathee
Halaman : 234   Cetakan : I, 2017
Ukuran : 12.5 X 19 cm
ISBN : 9786028556750
Penerbit: Kaki Langit
Harga :Rp. 50.000

Bisa dipesan di http://www.prenadamedia.com atau klik

Friday, 26 May 2017

(Terbit Mei 2017) Novel Etnogika, Membuka Sisi Menarik dari Profesi Ahli Etnografi atau Etnografer


Pengantar
Apa itu etnografer? Etnografer adalah praktisi ilmu etnografi, tentunya. Lalu pertanyaan beriktunya, apa itu etnografi? Berasal dari antropologi, etnografi adalah metode riset yang menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berusaha meneliti sehingga mengetahui kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu. Karena alasan itu, metode etnografi kini mulai dilirik dunia bisnis untuk mencoba mengungkapkan keinginan konsumen yang paling dalam, yang tidak bisa diperoleh dari metode riset konsumen seperti pada umumnya, misal survey.

Etnografi memberi dunia bisnis, sebuah alat untuk melihat ke dalam perkembangan budaya yang sedang in saat ini, atau faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berinteraksi dengan produk-produk seperti bir, pasta gigi, asuransi, rumah, atau benda elektronik. 

Para etnografer ini akan tertarik bila melihat seseorang yang mengatakan suka minuman sehat, tapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah, misalnya. Seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska, “Ethnography is a way to get up close and personal with consumers”.

Di dunia teknologi, perusahaan komputer raksasa Intel menjadi salah satu perusahaan yang telah lama memanfaatkan etnografi untuk menciptakan inovasi baru, misal mengirim etnografer untuk meneliti sebuah daerah tertentu untuk menetukan jenis komputer apa yang tepat untuk kawasan itu.

Dalam novel Etnogika, tokoh yang bernama Meswari pun dikirim sebuah perusahaan komputer raksasa untuk mengunjungi desa-desa di India selama dua tahun. Melalui penelitiannya ini, Meswari menemukan bahwa banyak warnet-warnet yang didirikan di desa-desa di India. Ia pun menemukan bahwa di desa-desa itu listrik sering padam (kadang sampai berhari-hari). Selain itu, jalan-jalan desa masih banyak yang belum diaspal. Berbekal pengetahuan tersebut, perusahaan computer raksasa itu meluncurkan sebuah komputer dengan inovasi khusus. Untuk cerita lebih komplitnya, silakan baca novel Etnogika.

Sinopsis Novel Etnogika
Namaku Meswari, putri satu-satunya dari seorang Papa bernama Francho. Kini Aku menekuni studi atau kuliah di jurusan Antropologi, khususnya Etnologi. Entah kenapa, aku merasa bahwa dari masa kuliah ini pengalaman atau kisah hidupku yang menarik saling bermunculan. Kuarungi masa-masa kuliah dengan seorang teman, yaitu bernama Monita. Dengan karibku ini, kujalani waktu demi waktu sebagai seorang mahasiswa.

Seiring waktu, tanpa kurencana, aku bisa menginjakkan kedua kaki di India. Di negara Hindu ini, aku menggunakan keahlian sesuai bidang ilmuku untuk penelitian. Keherananku adalah aku ditugaskan oleh salah satu sebuah perusahaan PC terbesar di dunia untuk meneliti bentuk komputer sepeprti apakah yang cocok bila dipasarkan di salah satu daerah di India. Di India ini, aku mengenal dengan Miss Mahessh, seorang wanita India, utusan dari cabang perusahaanku di India untuk menemaniku. Dia bercerita banyak tentang kemajuan negaranya.

Sepulang dari india, tiba-tiba aku dihadapkan dengan persoalan besar, yaitu tentang penolakan sekelompok masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di pesisir. Dampak penambangan itu mengusik beberapa petani yang telah menikmati pedasnya cabe dan manisnya melon. Gara-gara persoalan ini, aku juga menemukan seseorang yang bisa sangat berarti dalam alur kehidupanku, yaitu Guruh. Situasi dari kami yang masing-masing bertentangan dan berbeda terkadang membuat kami tak begitu kompak. Inilah kisah-kasihku yang kadang begitu tawarnya, begitu manis, sangat membahagiakan, bahkan terkadang beberapa kejadian terasa membanggakan.

Data Buku

Judul: Etnogika 
Pengarang: Imperial Jathee 
Halaman : 234 Cetakan : I, 2017
Ukuran : 12.5 X 19 cm
ISBN : 9786028556750
Penerbit: Kaki Langit Kencana/PrenadaMedia
Harga :Rp. 50.000 

Bisa dipesan di http://www.prenadamedia.com atau klik http://www.prenadamedia.com/produk.html?id=Etnogika



Tuesday, 25 October 2016

Novel "Impala-impala Hindia" Terbit Okt 2016 (Pergerakan,Perlawanan, Romansa)

Dulu, novel tebal ini sebetulnya pernah dinyatakan "DITERIMA" akan diterbitkan oleh salah satu penerbit Jogja sekitar tahun 2010-an, tapi hasilnya di-PHP. Kenapa saya menjadi korban PHP karena saya waktu itu bukanlah tipe orang yang suka ribet, riwil, dan mau repot untuk terus mengejar tentang kapan terbitnya dan menuntut ini itu karena pada dasarnya, saya sudah sangat percaya waktu itu. Penerbitnya saat ini masih ada dan eksis lho. Pernah ditanyakan beberapa kali tentang kapan terbitnya, tapi responnya nihil. Ketika itu, saya sudah begitu senang mendengarnya karena sebetulnya naskah novel ini, dalam perjalanan dunia menulis saya, menjadi yang pertama diterima oleh penerbit. Naskah ini dinyatakan diterima melalui sebuah email. Fatalnya, emailnya konfirmasi diterima itu saya sudah hapus sehingga tidak bisa saya jadikan bukti, bahkan dulu itu pernah ditelepon orang dari penerbit itu, apakah mau jual putus. Saya katakan tidak! Seriring waktu, saya terus menunggu hingga tahun 2016 ini, tapi tidak ada kabar sama sekali dan follow up dari sana. Surat Perjanjian Penerbitan pun tak kunjung datang.


Naskah novel ini sebetulnya mendahului ada sebelum naskah dua novel yang sudah diterbitkan tahun 2012 dan 2015, tapi malah mendapat giliran terbit di tahun 2016 ini. Kalau boleh cerita, dulu ketika menulis naskah novel "Impala-impala Hindia" ini, saya mencicilnya setiap hari, minimal 5-10 halaman. Saya fokus ke komitmen untuk menyelesaikan cerita ini. Saya selalu tulis cerita setelah habis pulang kerja, bahkan hari Minggu, saya tulis kalau ada waktu. Ditulis hampir setahun lebih dari tahun 2009-2010 hingga saya tawarkan ke sebuah penerbit dan hasilnya di-PHP hingga saya terbitkan sendiri secara indie. Beberapa buku referensi dan blusukan di internet tentunya mengawali/mengantar saya untuk menulis novel tebal ini.

Kenapa, saya memilih diterbitkan secara indie karena tidak mungkin di-PHP. Tentunya, bisa terbit cepat dengan kualitas cetakan yang tak kalah bagus, bahkan lebih hasilnya. Banyak penulis mungkin ingin diterbitkan secara mayor/massal, tapi dalam perjalanan perziarahan saya dalam menulis, itu bukan sebuah pilihan mutlak. Masih banyak jalan. Dengan indie, saya bisa menuangkan ambisi saya yang idealis untuk sebuah novel. Demikian, celoteh saya.

Sinopsis:

Akulah Maon, anak seorang pekerja rendahan di jawatan kereta api Modjokerto. Ayahku bernama Prawiro Atmodjo. Beliaulah yang selalu mengharapkan agar aku, anak laki-laki satu-satunya bisa mengenyam bangku sekolah. Bapakkulah yang setiap siang dan malam selalu bekerja keras demi membiayai keperluan sekolahku. 

Kehidupan semasa kecilku meski terasa sedikit, tapi cukup karena pada tahun 1907, aku bisa diterima menjadi salah satu murid di Tweede Klas (sekolah bumiputera atau pribumi kelas dua) lalu menyelesaikannya meski di belakang itu semua ada peran seseorang Tuan Belanda yang aku ketahui sangat menaruh perhatian pada Bapakku. Selain itu, aku adalah pribumi kecil yang sungguh bukan priyayi, tetapi bisa mendapatkan sertifikat Klein Abtenaar sehingga bisa menjadi juru tulis di Stasiun Surabaya. 

Lika-liku hidupku sangat dipengaruhi oleh dua orang besar yang akan terus kukagumi hingga akhir hayatku. Dua orang itu bernama Tuan Tjokro dan Tuan Sneev. Tuan-tuan inilah yang berjasa membuka pikiranku sehingga bisa melihat permasalahan-permasalahan pelik atas bangsaku. 

Di Surabaya yang gerah, aku juga mengenal sesosok perempuan yang sangat meneduhkan saat berada di dekatnya. Dialah Rianne, sang Sabana Hatiku, seorang perempuan totok Belanda bermata jeli. 

Namun, takdir telah berkata lain kepadaku. Kekuatan besar di depanku begitu sulit ditaklukan… 

“Pantang mencari kenikmatan dan kesenangan hidup dari membonceng pada sebuah kekuasaan” 
-Maon-

Identitas Buku
Kategori: Novel (fiksi)
ISBN:978-602-3092-09-3
Judul: impala-impala Hindia
Penulis: Imperial Jathee
Ukuran/Hlm:16x23/818
Edisi: I/1st Published
Tahun Terbit:2016
Harga:200k

Novel sejarah ini bisa kamu order di www.bukuindie.com/ WA: 081215169225
Klik https://www.bukuindie.com/p/impala-impala-hindia/


Tuesday, 1 March 2016

Cergam: Seri Hachi: Hachi Si Semut dan Balon Udara #BukuAnak


Sinopsis:
Hachi memang semut yang suka menuruti kehendaknya sendiri dan keras kepala. Ketika Bron, si Kura-kura bersusah payah membangun sebuah balon udara, Hachi malah usil menerbangkannya hingga membawanya ke tempat antah-berantah. Dengan balon udara ini, Hachi menemui beberapa peristiwa yang unik dan menyadarkan tentang sifatnya yang sering membuat orang lain kecewa. Bagaimana Hachi nanti kembali ke koloni semutnya, penasarankan? Siapakah yang membantu Hachi untuk pulang? Yuk simak ceritanya dalam buku ini.

Monday, 1 June 2015

Hachi, si Semut dan Misteri Perusak Ladang #Cergam #BukuAnak

Hachi kini sudah hidup mandiri. Ia memiliki rumah sendiri di koloni semut. Ladang yang digarapnya begitu berhasil apalagi ladang kolnya begitu gemuk-gemuk. Hachi sudah tak sabar untuk memanennya. Hachi merasa bangga saat memandangi ladangnya ini.

Namun, suatu ketika ada yang merusak ladangnya. Hachi begitu kesal dan penasaran dengan kejadian ini. Siapakah pelakunya? Yuk ikuti kisah Hachi menemukan siapa yang merusak ladangnya!


Tuesday, 21 April 2015

Seri Hachi : Hachi Si Semut Yang Tersesat Di Kota #Cergam #2015


Hachi memang semut yang suka menuruti kehendaknya sendiri dan keras kepala. Suatu hari ia memanjat dinding bus piknik karena kekagumannya pada benda yang sangat besar ini. Tanpa ia sadari, bus tiba-tiba berjalan mengarah ke arah kota. Ketika sampai di kota, Hachi mulai berpikir bahwa hidup di kota itu enak, banyak makanan. Tak disangka di kota penuh persaingan. Ia mulai berpikir tentang koloninya.

Bagaimana Hachi nanti kembali ke koloni semutnya, penasarankan? Siapakah yang membantu Hachi untuk pulang? Yuk simak ceritanya dalam buku ini.


Monday, 16 February 2015

"Cerita-cerita yang Tidak Pernah Pulang" karangan ImperialJathee


Banyak cerita yang menarik di dalamnya baik cerita pendek maupun cerita mininya, misal May yang harus merasakan lika-liku kehidupan cintanya di dunia maya dalam “Bintang Timur di dalam Blogku & Stuttgart”, Laki-laki yang harus menerima kekalahan karena tidak mendapatkan cintanya dalam “Laki-laki Kalah”, hingga kisah tentang suami yang memiliki banyak nilai merah dalam “Suami dengan Raport Merah”.

Dunia memang punya banyak cerita. Dari yang cerita penuh cinta, cinta tanpa syarat, perselingkuhan, penantian, rasa nasionalisme, bahkan korupsi melengkapi buku kumpulan “Cerita-cerita yang Tak pernah Pulang”. Terus, bagaimana dengan perjalanan kisahmu? Mungkin ada dari sekian kisah di dalam buku ini yang mirip atau bahkan benar-benar terjadi seperti yang kamu alami seperti dalam buku kumpulan cerita ini? 

Ayo segera baca cerita pendek dan cerita mini yang menarik dalam buku kumpulan cerita ini!


Salah cerita mini di buku kumpulan cerita "Cerita-cerita yang Tidak Pernah Pulang" :

Kalau Aku...Kalau Aku
“Sebenarnya apa yang kamu rasakan saat bersamaku Jeng?”

“Apa ya Mas?” katanya malu-malu.

“Kalau aku sedang malang, apa yang kamu rasakan?”

“Bahagia Mas.”

“Kalau aku sedang untung?”

“Bahagia Mas.”

“Kok sama jawabannya.”

“Ya, mau apa lagi Mas.”

“Kalau aku sakit, apa kau bahagia juga?”

“Bahagia Mas.”

“Maksudmu?” matanya melotot sedikit.

“Bahagia bisa merawatmu Mas. Gitu.”

“Syukurlah, hehehehe,”komentar suaminya lega, mengelus dada.

“Kalau aku banyak utang, masih bahagia?”

“Bahagia juga Mas.”

“Loh, kenapa?” suaminya heran.

“Bahagia bisa hidup susah dengan Mas,”balasnya.

“Kau memang istri yang baik Jeng,”pujinya.

“Lalu, kalau aku punya istri lagi?”tanyanya masih menguji.

“Bahagia Mas,”jawabnya.

“Haaa, betul itu, “ucapnya ragu.

“Kalau Mas bahagia, aku juga ikut bahagia Mas,”jelasnya dengan senyum.

“Kalau aku,”dipotong cepat oleh istrinya.

“Pokoknya bahagia Mas, jangan khawatir,”jelas istrinya menggoda.

“Baiklah, aku takkan bertanya lagi.”

***

Identitas Buku

Judul : CERITA-CERITA YANG TAK PERNAH PULANG

Penulis : Imperial Jathee

Penerbit : Penerbit Din's

ISBN : 978-602-336-037-6

Tebal : vi + 220 halaman

Bisa pesan di inbox di FB Penerbit Din,s klik https://www.facebook.com/penerbit.dins?fref=nf








Monday, 9 February 2015

Poster Promosi Buatan Sendiri untuk Novel "Anak-anak Minyak"

Latar tempat cerita ini bernama Pangkalan Brandan. Sebuah nama daerah yang memang terdengar asing di telinga kita, tapi memiliki nilai sejarah yang harus diketahui banyak orang semasa Pemerintahan Kolonial Belanda karena penghasil minyak bumi atau emas hitam pertama di Hindia. Han,s, kelahiran Gorontalo, memiliki sebuah pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya di Pangkalan Brandan dan kota Medan, Sumatera Utara. Latar belakang cerita ini adalah era jaman Hindia Belanda.


**


Julico

Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s. 

Han,s 

Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu. 

Tuan Pierre 

Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini. 

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s. Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya? Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya. Yuk segera baca saja novel ini…






















Wednesday, 4 February 2015

Buku "13 Poin Menulis Cerita Pendek", Pasti Bisa Menulis Cerpen



"Kalau nulis dari dalam hati, yang namanya ide tulisan akan jalan terus," Fira Basuki.

Ya dari hati, menulis memang harus didasari oleh keinginan hati. Kekuatan hati yang kuat dan tekad yang membaja akan membuat tulisanmu memiliki taji. Jika menulis hanya untuk coba-coba, tulisanmu tentu tak akan maksimal. Untuk itu, yakinkan hatimu saat akan menulis, cieeh!

Menulis kini memang begitu dekat dengan ranah gaya hidup anak muda. Buktinya, maraknya bakat menulis dengan spontanitas yang menarik, lalu ter-upload melalui tulisan-tulisan pendek yang bertebaran di blog, jejaring sosial, dan lain sebagainya. Teknologi seolah memfasilitasi manusia untuk menulis. Sebagian besar pun menyukai menulis fiksi.

Menulis fiksi itu memang gampang lho. Tak percaya. Kalau kamu sedang bercerita atau berkhayal dengan temanmu, lalu merasa itu sungguh-sungguh nyata terjadi, artinya kamu punya bakat sebagai pencerita. Fiksi adalah cerita rekaan, yang di dalamnya kamu boleh memasukkan segala kemungkinan. Tentunya, kemungkinan-kemungkinan itu harus disertai dengan bekal pengetahuan yang cukup agar ceritamu benar-benar nyata. Banyak membaca tentu menjadi solusinya.

Saya menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadi selama dua tahun lebih menjadi editor akuisi. Harapan saya, semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini, setidaknya dapat memberikan referensi yang berarti bagi para calon penulis cerita pendek di Republik Indonesia ini.




Cari di toko buku terdekat atau bisa dipesan di http://andipublisher.com/

Monday, 26 January 2015

Novel "Anak-anak Minyak", Cerita Murid H.B.S Menemukan Cinta dan Menolak Ketidakadilan di Hindia




Kutipan dari novel "Anak-anak Minyak" tentang kekaguman Han,s terhadap Julico:

Kini kupegang jari-jari tangannya. Kurasakan begitu halus dengan kuku yang begitu berwarna putih. Kami berdua mulai bercerita tentang Brandan lagi, tentang pasirnya yang putih dan debur halus ombak yang biru dengan buihnya. Dulu, Julico bertanya tentang siapa penemu minyak bumi pertama kali di Brandan kepadaku. Aku tak bisa menjawab. Jawabnya yaitu Tuan Aeliko Janszoon Zijlker. Orang yang tak pernah kukenal, tapi menjadi kuketahui gara-gara Julico. Entah, seperti apa rupanya.
**
Karena latar belakangnya Papanya yang di B.P.M, Han,s pernah diajak ke pesta-pesta dari perusahaan minyak tersebut. Suatu kali, ada tamu di B.P.M, yaitu Tuan Pierre dari Prancis. Tak ada maksud tertentu, ia mengajak jalan-jalan ke Deli hingga merasa prihatin dengan keadaan buruh perkebunan di sana. Han,s menuliskan sebuah essai tentang keadaan di Deli. Ia sampai diberi teguran oleh Ibu Gurunya, Karel dan Direktur sekolahnya, Tuan Russel gara-gara essai ini. Gara-gara esainya ini, kota Medan menjadi goncang karena para gerilyawan menjadi begitu geram dengan perlakuan para mandor perkebunan di Deli.

Julico
Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s.

Han,s
Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu.

Tuan Pierre
Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini.

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s. Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya? Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya. Yuk segera baca saja novel ini…

Friday, 23 January 2015

Novel "Anak-anak Minyak", Cerita Murid H.B.S Mengenal Indonesia (Terbit Januari 2015)

Kini kupegang jari-jari tangannya. Kurasakan begitu halus dengan kuku yang begitu berwarna putih. Kami berdua mulai bercerita tentang Brandan lagi, tentang pasirnya yang putih dan debur halus ombak yang biru dengan buihnya. Dulu, Julico bertanya tentang siapa penemu minyak bumi pertama kali di Brandan kepadaku. Aku tak bisa menjawab. Jawabnya yaitu Tuan Aeliko Janszoon Zijlker. Orang yang tak pernah kukenal, tapi menjadi kuketahui gara-gara Julico. Entah, seperti apa rupanya. Indonesia adalah nama bangsaku, bukan Hindia.



Latar tempat cerita ini bernama Pangkalan Brandan. Sebuah nama daerah yang memang terdengar asing di telinga kita, tapi memiliki nilai sejarah yang harus diketahui banyak orang semasa Pemerintahan Kolonial Belanda karena penghasil minyak bumi atau emas hitam pertama di Hindia.

Han,s, kelahiran Gorontalo, memiliki sebuah pengalaman yang tak terlupakan seumur hidupnya di Pangkalan Brandan dan kota Medan, Sumatera Utara. Latar belakang cerita ini adalah era jaman Hindia Belanda.

Papanya, seorang kerani perusahaan minyak Belanda, yaitu B.P.M. Karena itu, Han,s dapat merasakan pendidikan yang cukup, yaitu H.B.S di kota Medan.

Pengalamannya yang menarik terjadi dari Pangkalan Brandan hingga Medan. Ia begitu tertarik dengan alamnya. Ia mempunyai tiga kawan di H.B.S, yaitu Thamrin, Rustam, dan Yohan. Ia juga berkenalan dengan gadis cantik, yaitu Julico dan Lauren,s Kakaknya, seorang Belanda. Dengan tukang cukur, Pak Wursito dari Jawa, ia juga berkenalan. Pak Bilson, seorang pekerja B.P.M, memberikannya banyak info tentang Jong Bataks dan pergerakkan lainnya.

Karena latar belakangnya Papanya yang di B.P.M, Han,s pernah diajak ke pesta-pesta dari perusahaan minyak tersebut. Suatu kali, ada tamu di B.P.M, yaitu Tuan Pierre dari Prancis. Tak ada maksud tertentu, ia mengajak jalan-jalan ke Deli hingga merasa prihatin dengan keadaan buruh perkebunan di sana. Han,s menuliskan sebuah essai tentang keadaan di Deli. Ia sampai diberi teguran oleh Ibu Gurunya, Karel dan Direktur sekolahnya, Tuan Russel gara-gara essai ini.

Gara-gara esainya ini, kota Medan menjadi goncang karena para gerilyawan menjadi begitu geram dengan perlakuan para mandor perkebunan di Deli.

Julico, Medan, dan Pangkalan Brandan. Tiga hal yang berarti dalam hidup Han,s.

Bagaimana, ketika Han,s harus meninggalkan ketiganya?

Tidak hanya hatinya yang terluka, tapi juga perasaannya.

Yuk segera baca saja novel ini…




Julico, anak perempuan dari pejabat penting perusahaan minyak Belanda
Seandainya kamu di sini Han,s. Aku akan bahagia sekali menghabiskan waktu meski di luar begitu berbahaya. Aku bersyukur pernah dipertemukan denganmu Han,s. Kamu memang bagian terbaik dalam hidupku Han,s hingga waktuku kini tak terasa kosong lagi. Kau Han,s, kaulah yang mengisinya. Aku hanya takut bila kita tak pernah bersama dan berjumpa lagi Han,s.

Han,s, murid H.B.S dan anak laki-laki dari seorang kerani perusahaan minyak Belanda
Ketika itu, kau bilang ini bukan urusan kita, tapi kurasa kau telah salah karena mereka juga manusia, sama seperti kita, punya mata dan pikiran. Kata hatiku tak bisa menerima kenyataan itu.

Tuan Pierre, seorang insinyur dari Prancis yang bekerja di perusahaan minyak Belanda
Kalau kau selalu merasa membela satu nyawa manusia itu masih ada harganya, meskipun kau telah kalah untuk menyelamatkan nyawa itu, artinya kau sudah menang melawan ketidakdilan itu, ingat-ingat perkataanku ini.

Penulis                 : ImperialJathee

Judul                    : Anak-anak Minyak

ISBN                    : 978-979-29-4698-7

Ukuran                 : 13 x 19

Jumlah Halaman : iv + 428

Penerbit               : Sheila, Penerbit Andi

Thursday, 6 November 2014

Buku "13 Mantra Menulis Fiksi" di #TokoGramedia

Dalam buku 13 Mantra Menulis Fiksi ini, kamu akan belajar tentang tips memilih tema, meramu bab awal yang bagus, membangun karakter tokoh, mengatur porsi dialog dan narasi yang seimbang, menjalin konflik, menata alur, mereka-reka setting, membaca trend update, memutuskan ending cerita, trik untuk re-write, mengatasi writer’s block, dll. So, segera baca buku ini dan tulis ceritamu…

Di dalam buku ini, sarana-sarana pembangun cerita itu akan dikupas dengan contoh yang diambilkan dari novel-novel yang pernah diterbitkan. Harapannya, semoga buku ini tidak menggurui, tapi bisa membuka sekat pikiran yang selama ini gelap mengenai menulis fiksi...








Klik http://andipublisher.com/produk-0714005288-13-mantra-menulis-fiksi.html



Monday, 27 October 2014

Judul dan Cover yang di-Veto #DibuangSayang

Sekedar dokumentasi daripada hilang dimakan waktu karena judul dan cover diganti. Inilah yang disebut tinggal kenangan... hehehe... 








Tuesday, 15 July 2014

13 Mantra Menulis Fiksi ^^


"Kalau nulis dari dalam hati, yang namanya ide tulisan akan jalan terus," Fira Basuki.
     Ya dari hati, menulis memang harus didasari oleh keinginan hati. Kekuatan hati yang kuat dan tekad yang membaja akan membuat tulisanmu memiliki taji. Jika menulis hanya untuk coba-coba, tulisanmu tentu tak akan maksimal. Untuk itu, yakinkan hatimu saat akan menulis, cieeh!
     Menulis kini memang begitu dekat dengan ranah gaya hidup anak muda. Buktinya, maraknya bakat menulis dengan spontanitas yang menarik, lalu ter-upload melalui tulisan-tulisan pendek yang bertebaran di blog, jejaring sosial, dan lain sebagainya. Teknologi seolah memfasilitasi manusia untuk menulis. Sebagian besar pun menyukai menulis fiksi.
      Menulis fiksi itu memang gampang lho. Tak percaya. Kalau kamu sedang bercerita atau berkhayal dengan temanmu, lalu merasa itu sungguh-sungguh nyata terjadi, artinya kamu punya bakat sebagai pencerita. Fiksi adalah cerita rekaan, yang di dalamnya kamu boleh memasukkan segala kemungkinan. Tentunya, kemungkinan-kemungkinan itu harus disertai dengan bekal pengetahuan yang cukup agar ceritamu benar-benar nyata. Banyak membaca tentu menjadi solusinya.  
     Berikut ini adalah tip dan trik bagi kamu yang tertarik untuk mencoba menjadi penulis dari Putu Wijaya, sastrawan kenamaan di negeri ini. Dikutip dari Intisari-Online.com.
  1. Bingung mau menulis apa? Apapun bisa ditulis.
    Sebagai penulis pemula, sering kali kita bingung saat berada di depan komputer dan hendak mulai menulis. Menurut Putu, apa pun bisa dijadikan topik tulisan, tinggal bagaimana kita mau menuliskannya saja. Jika ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak menulis karena tidak tahu apa yang mau ditulis, berarti orang itu belum betul-betul ingin menulis.
  2. Jangan berhenti menulis saat menemui jalan buntu.
    Saat menulis, jangan berhenti di saat Anda bingung apa yang hendak ditulis. Berhentilah menulis justru ketika Anda sedang berapi-api. Jika Anda berhenti menulis saat menemui jalan buntu, 99% Anda tidak akan mau meneruskan menulis.  
  3. Jangan dipikirkan tulisan kita bagus atau tidak.
    Saat menulis, jangan terlalu banyak berpikir tulisan yang Anda buat akan bagus atau tidak. Tulis saja. Kalau kita terlalu banyak berpikir, kita tak akan mulai menulis.
  4. Gunakan kata-kata sederhana dan mudah dicerna.
    Daripada menggunakan kata-kata yang rumit hanya agar tulisan terlihat keren, lebih baik gunakan kata-kata sederhana. Yang terpenting, ide yang ingin kita sampaikan bisa diterima dan dicerna dengan mudah oleh pembaca.
  5. Temukan sudut pandang yang unik.
    Jika kita bisa menemukan sudut pandang tulisan yang segar dan berbeda dari yang telah ada maka tulisan kita menjadi unik dan hidup. Suatu hal yang sederhana pun jika dilihat dari sudut pandang lain yang belum pernah dilakukan orang lain akan menjadi unik. 
       Saya menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadi selama satu setengah tahun lebih menjadi editor akuisi hingga hari ini. Harapan saya, semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini, setidaknya dapat memberikan referensi yang berarti bagi para penulis atau calon penulis di Republik Indonesia ini.





Saturday, 9 November 2013

Bincang-bincang Novel "Mata Kedua" di Jogja Book Fair ^_^

Berbincang-bincang dengan seorang guru yang hebat, penulis buku, dan kreatif, yaitu Bapak J.Sumardianto.