Thursday, 31 August 2017

Menariknya Profesi Etnograf di Novel "Etnogika", Dimuat di Harian Bernas,Kamis 31 Agustus 2017

Ketika membaca novel Etnogika terbitan Kakilangit Kencana, kita akan belajar tentang profesi etnograf. Etnograf adalah praktisi ilmu etnografi, tentunya. Berasal dari antropologi, etnografi adalah metode riset yang menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berusaha meneliti sehingga mengetahui kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu. Berikut ini, pendapat tokoh Meswari sebagai etnograf di novel Etnogika:

Bagiku, masyarakat Gunungkidul adalah masyarakat yang pintar. Di mataku, setelah pengamatan beberapa hari ini, orang Gunungkidul digambarkan sebagai orang yang rajin dan ulet, tidak ketagihan untuk makan dan minum enak, dan daya semangat perjuangan yang abadi. Kepintarannya adalah mampu melihat kesempatan dalam mengolah tanah yang tadinya tandus menjadi produktif, yaitu menghasilkan ketela dan Srikaya. Inilah bukti keunggulan manusia Gunungkidul yang kreatif dan tergembleng alam benar-benar. Maka benar kata banyak orang, sesungguhnya orang yang hidupnya selalu terhimpit oleh alam yang tidak menguntungkan akan bisa menghasilkan manusia-manusia cerdas.


Etnografi tak melulu berkutat meneliti sebuah budaya lho. Saat ini Etnografi juga mulai meluas jangkauannya dalam dunia bisnis. Etnografi menjadi sebuah alat untuk melihat ke dalam perkembangan budaya yang sedang in saat ini, atau faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berinteraksi dengan produk-produk seperti bir, pasta gigi, asuransi, rumah, atau benda elektronik.

Misalnya, para etnograf akan tertarik bila melihat seseorang yang mengatakan suka minuman sehat, tapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah, misalnya. Seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska, “Ethnography is a way to get up close and personal with consumers”.

Dalam novel Etnogika, tokoh yang bernama Meswari ini diceritakan pernah dikirim oleh perusahaan komputer kelas dunia untuk mengunjungi desa-desa di India selama dua tahun. Melalui penelitian dan pengamatannya ini, Meswari menemukan bahwa banyak warnet-warnet yang didirikan di desa-desa di India. Ia juga menemukan bahwa di desa-desa itu listrik sering padam (kadang sampai berhari-hari). Selain itu, jalan-jalan desa di sana itu masih banyak yang belum diaspal alias jalan tanah. Berbekal penelitiannya, perusahaan komputer raksasa tempatnya bekerja meluncurkan sebuah komputer PC dengan inovasi khususnya, yaitu hemat listrik dan antidebu. Inovasi teknologi itu ternyata bisa dihasilkan karena penelitian seorang etnograf.


Sepulang dari india, tiba-tiba Meswari harus dihadapkan dengan persoalan besar, yaitu tentang penolakan sekelompok masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di pesisir. Dampak penambangan itu mengusik beberapa petani yang telah menikmati pedasnya cabe dan manisnya melon. Gara-gara persoalan ini, ia juga menemukan seseorang yang bisa sangat berarti dalam alur kehidupannya, yaitu Guruh. Apakah Meswari seorang etnograf bisa menyelesaikan masalah pelik itu? Baca kisahnya di novel Etnogika ya...

Data Buku

Judul: Etnogika
Pengarang: Imperial Jathee
Halaman : 234   Cetakan : I, 2017
Ukuran : 12.5 X 19 cm
ISBN : 9786028556750
Penerbit: Kaki Langit
Harga :Rp. 50.000

Bisa dipesan di http://www.prenadamedia.com atau klik

Friday, 26 May 2017

(Terbit Mei 2017) Novel Etnogika, Membuka Sisi Menarik dari Profesi Ahli Etnografi atau Etnografer


Pengantar
Apa itu etnografer? Etnografer adalah praktisi ilmu etnografi, tentunya. Lalu pertanyaan beriktunya, apa itu etnografi? Berasal dari antropologi, etnografi adalah metode riset yang menggunakan observasi langsung terhadap kegiatan manusia dalam konteks sosial dan budaya sehari-hari. Etnografi berusaha meneliti sehingga mengetahui kekuatan-kekuatan apa saja yang membuat manusia melakukan sesuatu. Karena alasan itu, metode etnografi kini mulai dilirik dunia bisnis untuk mencoba mengungkapkan keinginan konsumen yang paling dalam, yang tidak bisa diperoleh dari metode riset konsumen seperti pada umumnya, misal survey.

Etnografi memberi dunia bisnis, sebuah alat untuk melihat ke dalam perkembangan budaya yang sedang in saat ini, atau faktor-faktor gaya hidup yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam berinteraksi dengan produk-produk seperti bir, pasta gigi, asuransi, rumah, atau benda elektronik. 

Para etnografer ini akan tertarik bila melihat seseorang yang mengatakan suka minuman sehat, tapi memesan secangkir ice blended coffee dengan cream berlimpah, misalnya. Seperti pernyataan Eric Arnould, profesor Marketing dari University of Nebraska, “Ethnography is a way to get up close and personal with consumers”.

Di dunia teknologi, perusahaan komputer raksasa Intel menjadi salah satu perusahaan yang telah lama memanfaatkan etnografi untuk menciptakan inovasi baru, misal mengirim etnografer untuk meneliti sebuah daerah tertentu untuk menetukan jenis komputer apa yang tepat untuk kawasan itu.

Dalam novel Etnogika, tokoh yang bernama Meswari pun dikirim sebuah perusahaan komputer raksasa untuk mengunjungi desa-desa di India selama dua tahun. Melalui penelitiannya ini, Meswari menemukan bahwa banyak warnet-warnet yang didirikan di desa-desa di India. Ia pun menemukan bahwa di desa-desa itu listrik sering padam (kadang sampai berhari-hari). Selain itu, jalan-jalan desa masih banyak yang belum diaspal. Berbekal pengetahuan tersebut, perusahaan computer raksasa itu meluncurkan sebuah komputer dengan inovasi khusus. Untuk cerita lebih komplitnya, silakan baca novel Etnogika.

Sinopsis Novel Etnogika
Namaku Meswari, putri satu-satunya dari seorang Papa bernama Francho. Kini Aku menekuni studi atau kuliah di jurusan Antropologi, khususnya Etnologi. Entah kenapa, aku merasa bahwa dari masa kuliah ini pengalaman atau kisah hidupku yang menarik saling bermunculan. Kuarungi masa-masa kuliah dengan seorang teman, yaitu bernama Monita. Dengan karibku ini, kujalani waktu demi waktu sebagai seorang mahasiswa.

Seiring waktu, tanpa kurencana, aku bisa menginjakkan kedua kaki di India. Di negara Hindu ini, aku menggunakan keahlian sesuai bidang ilmuku untuk penelitian. Keherananku adalah aku ditugaskan oleh salah satu sebuah perusahaan PC terbesar di dunia untuk meneliti bentuk komputer sepeprti apakah yang cocok bila dipasarkan di salah satu daerah di India. Di India ini, aku mengenal dengan Miss Mahessh, seorang wanita India, utusan dari cabang perusahaanku di India untuk menemaniku. Dia bercerita banyak tentang kemajuan negaranya.

Sepulang dari india, tiba-tiba aku dihadapkan dengan persoalan besar, yaitu tentang penolakan sekelompok masyarakat terhadap rencana penambangan pasir besi di pesisir. Dampak penambangan itu mengusik beberapa petani yang telah menikmati pedasnya cabe dan manisnya melon. Gara-gara persoalan ini, aku juga menemukan seseorang yang bisa sangat berarti dalam alur kehidupanku, yaitu Guruh. Situasi dari kami yang masing-masing bertentangan dan berbeda terkadang membuat kami tak begitu kompak. Inilah kisah-kasihku yang kadang begitu tawarnya, begitu manis, sangat membahagiakan, bahkan terkadang beberapa kejadian terasa membanggakan.

Data Buku

Judul: Etnogika 
Pengarang: Imperial Jathee 
Halaman : 234 Cetakan : I, 2017
Ukuran : 12.5 X 19 cm
ISBN : 9786028556750
Penerbit: Kaki Langit Kencana/PrenadaMedia
Harga :Rp. 50.000 

Bisa dipesan di http://www.prenadamedia.com atau klik http://www.prenadamedia.com/produk.html?id=Etnogika



Tuesday, 25 October 2016

Novel "Impala-impala Hindia" Terbit Okt 2016 (Pergerakan,Perlawanan, Romansa)

Dulu, novel tebal ini sebetulnya pernah dinyatakan "DITERIMA" akan diterbitkan oleh salah satu penerbit Jogja sekitar tahun 2010-an, tapi hasilnya di-PHP. Kenapa saya menjadi korban PHP karena saya waktu itu bukanlah tipe orang yang suka ribet, riwil, dan mau repot untuk terus mengejar tentang kapan terbitnya dan menuntut ini itu karena pada dasarnya, saya sudah sangat percaya waktu itu. Penerbitnya saat ini masih ada dan eksis lho. Pernah ditanyakan beberapa kali tentang kapan terbitnya, tapi responnya nihil. Ketika itu, saya sudah begitu senang mendengarnya karena sebetulnya naskah novel ini, dalam perjalanan dunia menulis saya, menjadi yang pertama diterima oleh penerbit. Naskah ini dinyatakan diterima melalui sebuah email. Fatalnya, emailnya konfirmasi diterima itu saya sudah hapus sehingga tidak bisa saya jadikan bukti, bahkan dulu itu pernah ditelepon orang dari penerbit itu, apakah mau jual putus. Saya katakan tidak! Seriring waktu, saya terus menunggu hingga tahun 2016 ini, tapi tidak ada kabar sama sekali dan follow up dari sana. Surat Perjanjian Penerbitan pun tak kunjung datang.


Naskah novel ini sebetulnya mendahului ada sebelum naskah dua novel yang sudah diterbitkan tahun 2012 dan 2015, tapi malah mendapat giliran terbit di tahun 2016 ini. Kalau boleh cerita, dulu ketika menulis naskah novel "Impala-impala Hindia" ini, saya mencicilnya setiap hari, minimal 5-10 halaman. Saya fokus ke komitmen untuk menyelesaikan cerita ini. Saya selalu tulis cerita setelah habis pulang kerja, bahkan hari Minggu, saya tulis kalau ada waktu. Ditulis hampir setahun lebih dari tahun 2009-2010 hingga saya tawarkan ke sebuah penerbit dan hasilnya di-PHP hingga saya terbitkan sendiri secara indie. Beberapa buku referensi dan blusukan di internet tentunya mengawali/mengantar saya untuk menulis novel tebal ini.

Kenapa, saya memilih diterbitkan secara indie karena tidak mungkin di-PHP. Tentunya, bisa terbit cepat dengan kualitas cetakan yang tak kalah bagus, bahkan lebih hasilnya. Banyak penulis mungkin ingin diterbitkan secara mayor/massal, tapi dalam perjalanan perziarahan saya dalam menulis, itu bukan sebuah pilihan mutlak. Masih banyak jalan. Dengan indie, saya bisa menuangkan ambisi saya yang idealis untuk sebuah novel. Demikian, celoteh saya.

Sinopsis:

Akulah Maon, anak seorang pekerja rendahan di jawatan kereta api Modjokerto. Ayahku bernama Prawiro Atmodjo. Beliaulah yang selalu mengharapkan agar aku, anak laki-laki satu-satunya bisa mengenyam bangku sekolah. Bapakkulah yang setiap siang dan malam selalu bekerja keras demi membiayai keperluan sekolahku. 

Kehidupan semasa kecilku meski terasa sedikit, tapi cukup karena pada tahun 1907, aku bisa diterima menjadi salah satu murid di Tweede Klas (sekolah bumiputera atau pribumi kelas dua) lalu menyelesaikannya meski di belakang itu semua ada peran seseorang Tuan Belanda yang aku ketahui sangat menaruh perhatian pada Bapakku. Selain itu, aku adalah pribumi kecil yang sungguh bukan priyayi, tetapi bisa mendapatkan sertifikat Klein Abtenaar sehingga bisa menjadi juru tulis di Stasiun Surabaya. 

Lika-liku hidupku sangat dipengaruhi oleh dua orang besar yang akan terus kukagumi hingga akhir hayatku. Dua orang itu bernama Tuan Tjokro dan Tuan Sneev. Tuan-tuan inilah yang berjasa membuka pikiranku sehingga bisa melihat permasalahan-permasalahan pelik atas bangsaku. 

Di Surabaya yang gerah, aku juga mengenal sesosok perempuan yang sangat meneduhkan saat berada di dekatnya. Dialah Rianne, sang Sabana Hatiku, seorang perempuan totok Belanda bermata jeli. 

Namun, takdir telah berkata lain kepadaku. Kekuatan besar di depanku begitu sulit ditaklukan… 

“Pantang mencari kenikmatan dan kesenangan hidup dari membonceng pada sebuah kekuasaan” 
-Maon-

Identitas Buku
Kategori: Novel (fiksi)
ISBN:978-602-3092-09-3
Judul: impala-impala Hindia
Penulis: Imperial Jathee
Ukuran/Hlm:16x23/818
Edisi: I/1st Published
Tahun Terbit:2016
Harga:200k

Novel sejarah ini bisa kamu order di www.bukuindie.com/ WA: 081215169225
Klik https://www.bukuindie.com/p/impala-impala-hindia/