Monday, 17 December 2012

Penampakan Novel "Nyai Kedasih" di Toko Buku

16/12/2012

Iseng-iseng jalan-jalan sore ke toko buku. Eh, ternyata si Nyai Kedasih sudah nongol di toko buku. Ayo bagi yang berminat, segera kunjungi toko-toko buku terdekat di kotamu.











Wednesday, 12 December 2012

"Njai Kedasih" Novel Terbaru di Akhir Tahun 2012


     Nyai Kedasih merasakan hidup di dua jaman, yaitu masa kolonial Belanda dan masa penjajahan Jepang. Ia begitu terkagum dengan trem di kota Batavia. Dari benda yang dianggapnya ajaib ini, ia berjumpa dengan laki-laki Belanda yang bermata biru, yang juga seorang insinyur mesin kereta api. Baginya, Tuan Heidel ini tak seperti laki-laki lain yang hanya melihat dirinya dengan mata yang nakal. Mata birunya begitu tulus, penuh dengan perhatian. Hatinya tersentuh dan ia menikah dengan lelaki Eropa itu. Ia lupakan kutukan yang kata banyak orang disebabkan oleh namanya. Ia berharap pernikahannya kali ini berbeda, tak merenggut nyawa suaminya seperti yang telah berulang kali terjadi sebelumnya.

     Ketika Jepang datang, suaminya membantu KNIL mempertahankan Pulau Jawa. Selama perang berlangsung, mereka hanya berhubungan lewat surat. Hingga sampai suatu waktu tak ada lagi surat datang dari Heidel. Apakah Suaminya ini akan kembali? Dengan begitu sedih, Kedasih berjanji untuk terus menunggunya.


*
Sedikit cuplikan dari novel "Nyai Kedasih":

      “Bangku ini kosong, Nyai?” tanya seorang Belanda yang terdengar begitu ramah. Aku mengangguk. Tuan itu lalu duduk si sebelahku. Kulirik dipangkunya bertumpuk-tumpuk berkas. Dugaanku, ia seorang pengusaha atau pegawai pemerintah kota ini. Ia bukan Belanda biasa.

     “Suka naik trem, Nyai?” Ia bertanya, tapi aku hanya tersenyum.

     “Suka sekali Tuan, benda ini sungguh ajaib,” komentarku. Tuan itu mengangguk. Barangkali menurutnya, aku terkesan kampungan.

     “Menurut Nyai benda ini ajaib? Kenapa?” Ia bertanya lagi saat trem menurunkan seseorang.

     “Tak ditarik kuda atau kerbau, tapi bisa berjalan, Tuan,”

     “Listrik yang menggerakkannya, Nyai.” Balasnya bangga. Aku hanya mengangguk-angguk.

     “Sepertinya, aku harus belajar banyak tentang listrik dengan Tuan,“ ucapku iseng. Tuan itu menatapku. Dari sinar matanya, Tuan itu sepertinya orang baik. Tak seperti mata para lelaki yang selama ini memandangiku.

*** 


Wednesday, 14 November 2012

Sosok Njai Kedasih, Wanita Penuh Idealisme...

Fenomena sosial era Kolonial Belanda

Menurut pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, Ibnu Wahyudi, panggilan "Nyai" memiliki konotasi mulia, yakni seorang perempuan terhormat karena berarti seorang perempuan terhormat (lady, dalam bahasa Inggrisnya). Sebutan nyai itu bagus, misalnya untuk memanggil istri kyai di Jawa. Di Sunda juga berarti sama seperti itu.

Menurut Ibnu Wahyudi, pada masa penjajahan, kekuatan tentara penjajah yang datang saat itu tanpa disertai kaum perempuan. Akibatnya, mereka kemudian mencari istri pengganti di wilayah yang ditaklukkannya. Di saat itulah makna "nyai" mengalami pergeseran makna dan arti ke arah yang negatif di kalangan umum.

Selain itu, pos dana bagi pegawai VOC untuk membiayai pernikahan dengan perempuan asli Eropa juga tak murah, terutama karena besarnya tunjangan dan mas kawin yang harus mereka berikan. Alhasil, pilihan untuk memelihara gundik dirasakan mereka lebih menguntungkan. Mereka menganggap pilihan perkawinan ini tepat karena biaya untuk menikahi perempuan Asia lebih murah daripada ketika menikahi perempuan Eropa.

Menurut Reggie Baay (seorang indo dan penulis buku Nyai & Pergundikan di Hindia Belanda, terbitan Komunitas Bambu), para pendukung pergundikan di era itu menyebutkan, pergundikan menjamin keadaan yang tidak mengikat diri dan dirasa menyenangkan bagi para lelaki Eropa. Selain itu, pergundikan juga mampu menahan mereka dari minuman keras, menjauhkan diri dari pelacur, dan menjaga pola pengeluaran uang agar tetap dalam batasnya. Di samping itu, para nyai mampu menjadi jembatan budaya bagi para kawula yang dijajahnya.

Apalagi, di kalangan para pegawai itu juga muncul dugaan bahwa perempuan Eropa yang mau di datangkan ke Hindia Belanda sebenarnya hanya berniat memperkaya diri. Mereka juga malah di tuding sebagai biang "onar" karena banyak yang berulah mengompori para suaminya untuk melakukan berbagai tindakan penggelapan uang atau korupsi. Dampaknya, sejak itulah praktik pergundikan semakin meluas dan nyaris tak tertahankan.

Mereka itu (para nyai) menjadi seperti para budak perempuan yang tinggal di rumah tangga orang Eropa. Fungsinya pun "all in". Selain mengurusi kebutuhan rumah tangga, para perempuan itu juga mengurusi kebutuhan nafsu ranjang para tuannya. Mereka ini memang bukan pelacur yang memungut atas jasa yang telah diberikannya, tapi mereka juga bukan istri yang sebenarnya karena tak pernah menikah "secara resmi". Sosok gundik yang kemudian dikenal oleh kalangan Belanda dengan sebutan nyai itu memang rumit. Di satu sisi, ada persoalan sosial, tapi di sisi yang lain ada juga persoalan agama. Bagi orang Belanda selaku penganut Kristen yang taat saat itu memang tabu bila hidup dengan perempuan tanpa melalui perkawinan sah.

Lalu, mengapa sejarah melupakannya? Ibnu Wahyudi menjawab karena selama ini sejarah memang hanya terpaku pada narasi besar. Nasib kaum papa, seperti para nyai ini tak menjadi perhatian serius. Sejarah terpaku di sekitar kehidupan para tokoh belaka. “Baru belakangan ini saja sejarah mulai berubah. Sebelumnya, ya terpaku menyoroti sisi kehidupan para elitenya saja,” katanya menegaskan. (sumber: http://www.komunitasbambu.com/regular/berita.php?br=80)

Njai Kedasih, Penuh Idealime...

Tokoh Kedasih dalam novel Njai Kedasih memiliki karakter tersendiri, misal ia bisa melihat mata lelaki yang hanya melihat kemolekan tubuhnya dan tidak tulus hatinya sehingga tak mudah takluk dengan rayuan laki-laki yang tertarik pada dirinya. Ia memang pernah memiliki suami beberapa kali, tapi raib dipisahkan maut hingga terusir dari kampungnya karena dianggap membawa kutukan.

Kedasih juga memiliki latar pendidikan yang lumayan, meski hanya sampai tingkat H.I.S (setara dengan SMP) sehingga ia bisa membuat heran kepada orang-orang Eropa yang ingin merendahkannya. Ia bukan wanita pada umumnya.

Kedasih juga wanita mandiri, bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri, meski hanya berjualan kain batik di Pasar Senen, Batavia. Kedasih hidup berdua dengan Mbok Min, orang yang dipercayai Ibunda Kedasih untuk menemaninya. Ibundanya memang tak tega melihat Kedasih pergi sendirian.

Kedasih juga tidak seperti yang diceritakan dalam buku-buku sejarah. Ia tak menjual harga dirinya, seperti Nyai Dasima yang selingkuh dengan Baba Samioen, karangan G. Francis. Selain itu, Kedasih meski sudah janda tak suka main serong dengan laki-laki lain atau melayani godaan Raden Sewoyo yang sering nakal, seperti sosok Nyai Saipa yang serong dengan jongosnya si Tjonat, karangan F.D.J. Pangemanann. Hatinya lebih memilih menunggu seorang laki-laki yang akan resmi menjadi suaminya kelak. Kedasih, nyai yang setia.

Harapan Kedasih untuk menemukan laki-laki yang tepat terwujud ketika dirinya bertemu di trem dengan Tuan Heidel, Insinyur Kereta Api yang bermata biru. Hubungan keduanya pun berlanjut hingga Kedasih sering mampir ke Stasiun Beos. Mereka berdua memutuskan ke arah yang lebih serius. Apakah mereka menikah, baca novel Njai Kedasih ya.

Ketika Jepang datang, suaminya membantu KNIL mempertahankan Pulau Jawa. Selama perang berlangsung, mereka hanya berhubungan melalui surat. Hingga sampai suatu waktu tak ada lagi surat datang dari Heidel. Apakah Suaminya ini akan kembali? Dengan begitu sedih, Kedasih berjanji untuk terus menunggunya.

*
Kutipan dari novel Njai Kedasih, yaitu:

“Ah, wangi sekali Istriku ini,” komentarnya ketika sibuk melepas jas, lalu dasi, dan meloloskan beberapa kancing baju lengan panjangnya di sisi pojok ruangan, menghadap cantelan baju. Ia menghampiriku dari belakang. Dari permukaan kaca, Suamiku terlihat tersenyum. Aku diam.

“Kau kenapa, Istriku, tak seperti biasanya,” ucapnya karena menangkap perubahanku hari ini. Aku lebih banyak diam.

“Ada persoalan apa?” Katanya lagi lalu menciumi leherku. Aku masih diam.

“Ini apa?” setelah tak tahan lagi, kuletakkan pistol kecil di atas meja riasku.

“Astaga. Jangan salah sangka dulu Istriku?” Ia berjongkok di sisiku, tepat di samping bangku tempatku duduk. Ia menyandarkan kepalanya. Arah matanya menatap pistol kecil yang tergeletak, mengilat pada ujung dan beberapa sisinya.
***

Winston Churchill, “Sejarah hanya ditulis oleh para pemenang.”


Tuesday, 2 October 2012

Sastra Cyber: Sastra Masa Kini

Mengapa Muncul Sastra Cyber?


Menurut Saut Situmorang, sastra cyber muncul karena adanya kejenuhan pada hegemoni kekuasaan media massa cetak koran yang kebetulan hanya dianggap sisipan pada halaman sastra edisi Minggu (Situmorang, 2004: 75). Kran untuk menulis di sastra cyber memang terbuka begitu lebar, tanpa ditakuti dengan penolakan seorang polisi sastra bernama editor atau redaktur. Sesuatu yang baru itu muncul, biasanya terjadi karena adanya kejemuan yang selalu melulu begitu kaku dan sulit dikompromi.

Di tengah derasnya arus revolusi komunikasi, ternyata juga berdampak pada dunia kepenulisan. Kelahiran satrawan cyber pun tak lepas dari pengaruh ini. Revolusi komunikasi yang diciptakan teknologi internet, telah menciptakan ruang-ruang alternatif baru di luar dunia media massa cetak yang ada (Situmorang, 2004: 76). Untuk itu, tak heran bila sastra cyber berkembang begitu cepat karena tanpa prosedur yang bertele-tele dan penilaian yang lama. Sifat demokratis sastra cyber juga menghancurkan tembok “estetika modern” yang fasis, yang hanya mengenal dua kategori saja, yatu seni dan nonseni, estetika dan tidak estetika, memiliki dan tidak memiliki “anutan puitik”, highculture atau low culture (Situmorang, 2004:79).

Selain itu, ada sebuah pernyataan yang bagus dari Medy Loekita, Ketua Yayasan Multimedia Sastra, bahwa sastra cyber bukanlah dosa penyimpangan karya sastra, melainkan salah satu bentuk produk modernisasi dengan karakter umum, yakni cepat, mudah, dan nyaman (Situmorang, 2004: 77-78).



Masa depan Sastra Cyber?

Dengan maraknya perkembangan teknologi (laptop, tablet, dan handphone alias gadget canggih), dunia kepenulisan akan mengalami revolusi besar-besaran dari tahun 2012 hingga tahun-tahun ke depan. Dunia kepenulisan akan menjadi raksasa industri di tahun-tahun ke depan. Banyaknya fasilitas hotspot (wifi gratis) atau paket internet yang murah juga akan ikut mendukung revolusi kepenulisan. Belum lagi ada kampanye go green atau stop global warming dengan pembatasan penebangan pohon-pohon untuk dijadikan kertas.

Artinya, masa depan sastra cyber akan begitu cerah, gilang-gemilang, meski kemunculannya sering dicibir karena dianggap sebagai karya pelarian, karya yang ditolak editor dan redaktur, atau karya sampah yang dimasukkan tong sampah. Sastra cyber malah pernah dicap sebagau “tong sampah” belaka bagi karya-karya yang ditolak oleh media cetak koran. Dari pernyataan ini tampak jelas adanya asumsi yang kuat bahwa redaktur sastra koran adalah otomatis “kritikus” sastra dan karya-karya yang mereka terbitkan di kolom budaya mereka itu “memang” sudah merupakan karya seni sastra! Redaktur sastra koran dianggap mempunyai kualifikasi dan kredensial untuk menjadi “kritikus” sastra hanya karena pekerjaannya yang jadi redaktur “sastra” di sebuah harian. Saya ketawa keras-keras menanggapi omong kosong ini (Situmorang, 2004: 296).

Di samping itu, sastra cyber dianggap sebagai metamorfosa tingkat lanjut dari sastra lisan (Situmorang, 2004:60). Kalau dulu, orang menulis syair, pantun, balada tanpa melalui seorang editor atau redaktur maka jaman itu telah kembali lagi dengan tampilan versi digital yang lebih bagus. Kini, semua orang bisa menjadi penulis puisi, novel, drama, tanpa takut ditolak editor atau redaktur. Kalau dulu orang menulis epos atau puisi di daun lontar atau kertas, kini orang menulis puisi di dunia maya atau versi digital. Inilah yang dimaksud dengan mengikuti perkembangan jaman, yaitu menggunakan media yang memang sedang dipakai saat itu juga. Tindakan ini tentu tidak salah.

Bagi para penulis sastra cyber tidak usah mencemaskan, apakah karyanya akan dianggap karya sastra atau bukan karena yang menjadikan karya disebut karya sastra adalah pembaca. Lalu, siapa yang membuat seorang penulis menjadi sastrawan? Jawabannya adalah pembaca. Selama karya seorang penulis masih dinikmati,dibaca, didiskusikan dari waktu ke waktu maka karya itu telah menjadi karya sastra dan penulisnya menjadi sastrawan (Situmorang, 2004:63-64).

Sebenarnya, lolosnya sebuah karya dari tangan editor tidak menjamin bahwa sebuah karya memang berkualitas dan sukses. Dan sebaliknya, tidak lolosnya sebuah karya bukan berarti karya itu tidak berkualitas (Situmorang, 2004:62).

Contoh penulis yang sudah memulai langkah sebelum Indonesia ribut tentang sastra cyber adalah Stephen King yang biasanya menulis novel dalam ratusan halaman menerbitkan Riding the Bullet yang hanya dalam 67 halaman (cyber), dengan file 0,3 Mb, yang dijual seharga $ 2.50.

Satu web yang sudah menerima pandangan tentang masa depan sastra cyber akan begitu cemerlang ke depan adalah nulisbuku.com dan Fiksiana, Kompasiana. Kedua web inilah yang terasa begitu konsisten untuk terus-menerus melayani para penulis pemula sastra cyber.

Di web kepenulisan nulisbuku.com ini, setiap penulis akan difasilitasi dengan berbagai layanan, misal pembuatan cover gratis, layout naskah gratis. Pembagian royaltinya pun dilakukan secara transparan. Di web inilah kita akan menemukan ratusan penulis sastra cyber dari Indonesia, baik itu kumpulan puisi, novel, cerita pendek, maupun drama.

Sedangkan, di Fiksiana, Kompasiana, setiap penulis akan diberikan forum Puisi, Cerita Mini, Cerita Pendek, Drama, dan Dongeng. Penulis dengan mudah akan menemukan forum yang tepat sesuai dengan minatnya.

Untuk penutup, kelebihan sastra cyber adalah ruang apresiasi yang online. Kita bisa saling langsung berargumen, berdiskusi, adu pendapat dengan para komentator karya kita. Lain dengan polemik atau bila ingin berkomentar di koran atau majalah, membutuhkan waktu yang lama karena biasanya kolom sastra hadir mingguan, bahkan bulanan atau triwulanan untuk majalah. Kita akan jenuh untuk menunggu balasan itu, bahkan bisa jadi terkesan basi saat dibaca ketika itu. Kecepatan tertinggi adalah tipikal khas jaman modern. Siapa yang tidak cepat, akan tertinggal.
***
Sumber: 
Sitomurang, Saut. 2004. CyberGrafiti: PolemikSastraCybe.Yogyakarta: Jendela.

Friday, 28 September 2012



HENDRIK MARSMAN
           Pelayaran

Kapal sepi dan hitam
Berlayar di malam larut
Lintas gelap, hebat dan geram,
Menyongsong maut, maut.

aku jauh dilambung-mengerang,
kelu dan ngeri dan sepi,
dan kutangisi daratan cerah,
yang tenggelam di kaki langit,
dan kutangisi daratan gelap,
yang timbul di kaki langit.

Yang terkena oleh cinta
dan jatuh berlumur darah,
hidupnya : bara dalam sekam ;
adapun hanya di depan maut
sang hati terpaksa menyerah.

O! pelayaran ke negeri baka
lintas gelap, hebat dan suram,
dengan selalu ditusuk ngeri :
maut bukan akhir cerita.


~ Sajak tulisan Hendrik Marsman ( 1899-1940 ), penyair Belanda








Hsu Chih Mo


DATANG DARA, HILANG DARA


“Dara, dara yang sendiri
Berani mengembara
Mencari di pantai senja,
Dara, ayo pulang saja, dara!”

“Tidak, aku tidak mau!
Biar angin malam menderu
Menyapu pasir, menyapu gelombang
Dan sejenak pula halus menyisir rambutku
Aku mengembara sampai menemu.”

“Dara, rambutku lepas terurai
Apa yang kaucari.
Di laut dingin di asing pantai
Dara, Pulang! Pulang!”

“Tidak, aku tidak mau!
Biar aku berlagu, laut dingin juga berlagu
Padaku sampai ke kalbu
Turut serta bintang-bintang, turut serta bayu,
Bernyanyi dara dengan kebebasan lugu.”

“Dara, dara, anak berani
Awan hitam mendung mau datang menutup
Nanti semua gelap, kau hilang jalan
Ayo pulang, pulang, pulang.”

“Heeyaa! Lihat aku menari di muka laut
Aku jadi elang sekarang, membelah-belah gelombang
Ketika senja pasang, ketika pantai hilang
Aku melenggang, ke kiri ke kanan
Ke kiri, ke kanan, aku melenggang.”

“Dengarkanlah, laut mau mengamuk
Ayo pulang! Pulang dara,
Lihat, gelombang membuas berkejaran
Ayo pulang! Ayo pulang.”

“Gelombang tak mau menelan aku
Aku sendiri getaran yang jadikan gelombang,
Kedahsyatan air pasang, ketenangan air tenang
Atap kepalaku hilang di bawah busah & lumut.”

“Dara, di mana kau, dara
Mana, mana lagumu?
Mana, mana kekaburan ramping tubuhmu?
Mana, mana daraku berani?

Malam kelam mencat hitam bintang-bintang
Tidak ada sinar, laut tidak ada cahaya
Di pantai, di senja tidak ada dara
Tidak ada dara, tidak ada, tidak –

-Diterjemahkan oleh Cahiril Anwar-



NB: mirip atau segaris dengan puisinya siapa? Adakah yang tahu?

Friday, 14 September 2012

Tentang Genre Fiksi yang Perlu Dipahami Penulis Fiksi

Pengantar

Genre menjadi cara mudah bagi penerbit, pembaca, penulis untuk membagi karya seni berdasarkan kategori tertentu yang telah disepakati.

Penerbit buku membutuhkan genre agar mereka mudah menentukan pangsa pasar, serta bagaimana memasarkan sebuah buku.

Setiap genre mempunyai kategori masing-masing, serta formulanya yang berbeda satu sama. Romance, misteri, crime, thriller, suspense, inspiratif, kontemporer merupakan sebagian dari kategori genre yang cukup populer.

Genre Romance

Novel romance adalah novel yang menceritakan pencarian kebahagiaan dua orang manusia melalui hubungan percintaan. Sederhananya, novel yang menggambarkan proses dari naksir sampai jadian. Lengkap dengan bumbu galau, cemburu dan airmata. Dalam romance yang menjadi sorotan adalah proses pencariannya. Bukan pada hasil akhir.

Ciri khas romance lainnya adalah ending yang optimistik atau happy/ ending. Happy ending sudah jelas maksudnya, yaitu para karakter utama akhirnya menemukan pelabuhan hati, cintanya diterima. Lah, kalau optimistik ending apa? Ending yang satu ini bercerita, walau tokoh utamanya tidak jadian, tapi ia tetap bahagia. Optimistik ending menyediakan akhir manis bahwa semua sudah baik-baik saja, walau awalnya menyakitkan.

Varian dari genre Romance:
  • Romance Comedy berkisah tentang perjalanan cinta dua anak manusia yang diwarnai tawa, misal When Harry Meet Sally.
  • Romance Fantasy memiliki setting di dunia fantasi, misal Twillight, Eclipse, dan Newmoon karya Stephenie Meyers.
  • Romance Klasik menonjolkan setting masa lalu. Classic Romance identik dengan kehidupan cinta konvensional ber-setting masa lalu. Biasanya novel ini memiliki unsur budaya dan tradisi yang cukup kental, misal From Batavia with Love karya Karla M Nashar, Snow White, atau Titanic.
  • Romance Remaja (teen romance) memiliki tokoh yang rata-rata usianya masih SMP dan SMA dan memiliki karakteristik bahasa dan penyelesaian konflik yang berbeda pula, misal Dealova, Me Versus Higheels dll. Teenlit adalah kategori yang cocok untuk menyebut romance remaja ini. Teenlit, chicklit, momlit adalah kategori berdasarkan usia pembaca. Bukan isinya.  
  • Romance Keluarga mengangkat kisah cinta dalam keluarga, tapi biasanya mengangkat kehidupan pasangan muda yang baru menikah, misal Mira W dan NH Dini dengan berbagai novelnya.
  • Romance Inspirasi: kisah cinta yang membawa pesan-pesan kehidupan, ditulis dengan gaya bahasa sehari-hari dan tidak menggurui, misal Laskar Pelangi, Negeri 5 Menara, dan Ayat-ayat Cinta.
  • Mainstream Romance merupakan kategori novel romance yang tokoh utama wanitanya sudah di-set sejak awal untuk berjodoh dengan tokoh utama laki-lakinya. Seperti rollercoaster, novel-novel Mainstream Romance membawa emosi pembaca naik-turun. Pokoknya, semuanya tentang cinta, cinta, dan cinta, misal Gurun Bercerita Cinta karya Diyah Ratna, Orange karya Windry Ramadhina, atau Baby Proposal karya Dahlian dan Gielda Lafita.
Genre Horor

Genre Horor memiliki cerita yang menyeramkan, menegangkan, dan pastinya membuat pembaca berdebar-debar hatinya. Bercerita tentang dunia mistis atau gaib, misal 40 Hari Bangkitnya Pocong dan Kereta Manggarai.

Genre Komedi 

Genre Komedi memiliki cerita yang mengandung unsur kelucuan atau humor yang akan membuat pembaca tertawa atau benar-benar terhibur, misal Manusia Setengah Salmon dan Kambing Jantan dari Raditya Dika atau Anak Kos Dodol Lagi Dewi karya Reika. 

Genre Sejarah 

Genre Sejarah (historical fiction) selalu berakar pada fakta dan membuat sindiran terhadap peristiwa-peristiwa aktual di masa lalu. Hal ini penting bagi seorang novelis fiksi sejarah untuk mengerti sejarah dengan baik, misal Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. 

Genre Fantasi 

Genre Fantasi berhubungan dengan tempat-tempat yang jauh, tanah mistis, dan makhluk khayalan. Novel fantasi yang paling mengandung unsur magis dan biasanya difokuskan pada jaman abad pertengahan, misal Harry Potter – J.K Rowling. 

Genre Fiksi Ilmiah

Genre fiksi ilmiah berbeda dengan cerita fantasi karena didasarkan pada fakta ilmiah bukan mitologi. Sebuah kisah fiksi-ilmiah tidak harus sepenuhnya benar, tetapi penulis harus memiliki beberapa pemahaman ilmu pengetahuan, fisika, dan hukum-hukum alam semesta, misal film Iron Man, StarTrek, Spiderman, dll. 

Genre Suspense/Thriller

Genre Suspense/Thriller seringkali berurusan dengan kejahatan atau kejadian supranatural, tapi dasar plot berakar pada perjuangan karakter untuk bisa bertahan hidup. Selalu ada masalah hidup atau mati dalam sebuah novel thriller dan suspense, misal Davinci Code karya Dan Brown

Monday, 27 August 2012

Foto-foto Unik Era Kemerdekaan

Megawati Masih Muda

Soekarno Diarak Rakyat

Pejuang 45

Keluarga yang Menarik

Sjahrir, Soekarno, dan Hatta

Pidato yang Menggoncang Dunia

Hatta, Sosok yang Cerdas

Thursday, 23 August 2012

Soto Sami Remen, Oleh-oleh Lebaran di Daerah Bantul

    Warung soto "Sami Remen" ini cukup unik. Meskipun tampilan warungnya tampak lawas, menu sotonya cukup lezat apalagi minumnya Saparilla, sejenis limun yang telah diproduksi cukup lama alias jadul. Letaknya di daerah Gose, Jalan Bantul arah ke Ganjuran (sebelah kiri jika sedang melaju ke selatan).
     Citarasa pertama kali di lidah adalah aroma dan rasa bawang goreng yang dominan, serta rasa yang manis, bercampur gurih dari rempah-rempah alami/ bumbu pawon. Soto "Sami Remen" adalah salah satu jenis dari soto Jawa. Warna kuahnya tidak berwarna kuning seperti soto-soto pada umumnya.
Plang Nama Soto "Sami Remen"

Limun Saparrila

Friday, 3 August 2012

Salute Untuk SGA






Jakarta Freedom Institute kembali akan menganugerahkan Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) kepada sejumlah tokoh. Salah satu tokoh yang terpilih menerima penghargaan PAB 2012 ini adalah sastrawan Seno Gumira Ajidarma. Namun, Seno menolak menerima penghargaan ini.

Penolakan Seno atas penghargaan yang sering disebut Bakrie Award ini disampaikan melalui rilis tertanggal 23 Juli 2012 dan diupload di blog pribadinya: duniasukab.com. Berikut rilis lengkap Seno tentang penolakan Bakrie Award:

Bersama ini saya sampaikan, bahwa saya telah menerima surat bertanggal 12 Juni 2012 dari Freedom Institute yang ditandatangani Sdr. Rizal Mallarangeng. Surat tersebut memberitahukan bahwa saya terpilih sebagai penerima Penghargaan Achmad Bakrie (PAB) 2012 bidang Kesusastraan. Sehubungan dengan kemungkinan diumumkannya para penerima PAB 2012 pada tanggal yang belum saya ketahui, saya menyatakan bahwa saya telah mengirim surat bertanggal 18 Juni 2012 kepada pihak Freedom Institute, yang menyampaikan bahwa penghargaan tersebut sebaiknya diberikan kepada orang lain yang dianggap layak, karena saya tidak dapat menerimanya.

Demikianlah pernyataan ini saya sampaikan, demi kelengkapan berita ketika diumumkan.

Jakarta, 23 Juli 2012

Tertanda

Seno Gumira Ajidarma


Seno Gumira merupakan sastrawan,fotografer dan juga seorang kritikus film Indonesia. Karya-karya sastranya meliputi kumpulan cerpen, drama, novel dan komik.

Cerpen-cerpen sastrawan kelahiran Boston tanggal 19 Juni 1958 itu muncul di banyak media nasional. Selain menulis, ia juga mengajar di IKJ pada mata kuliah Penulisan Kreatif dan Kritik Film.

Sudah banyak buku Seno yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama. Antara lain Sebuah Pertanyaan tentang Cinta, Atas Nama Malam, Kematian Donny Osmond, dan Sepotong Senja untuk Pacarku.

Karya-karya sastra Seno juga dipublikasikan di blog pribadinya.


http://news.detik.com/read/2012/08/03/141829/1982511/10/sastrawan-seno-gumira-ajidarma-tolak-bakrie-award

Friday, 27 July 2012

KTM-ku yang Jadul!!



Kemarin sore, mendapatkan benda yang terselip di antara koleksi buku-bukuku. Begitu geli saat melihatnya. Aku tak percaya, rupanya tubuhku pernah kurus. Sampai saat ini, aku masih tertawa ketika melihatnya. Wkwkwkwkwk!


Friday, 22 June 2012

Anton Herman Gerard Fokker, Arek Blitar

TEMPO.COJakarta - Pesawat Fokker dirancang oleh Anthony Fokker, seorang warga negara Belanda. Bernama lengkap Anton Herman Gerard Fokker, ia lahir pada 6 April 1890. Tanah kelahirannya adalah Blitar, Jawa Timur. Waktu itu Blitar masih masuk dalam wilayah Karesidenan Kediri.

Anthony Fokker adalah anak kedua dari pasangan pemilik kebun kopi, Herman Fokker dan Johanna Hugonia Wouterina Wilhelmina Diemont. Waktu umurnya menginjak 4 tahun, keluarga Fokker pindah ke Belanda dan tinggal di Haarlem. 




Fokker mulai tertarik pada pesawat ketika menonton pameran penerbangan Wilbur Wright di Prancis pada1908. Di usia 20 tahun, 1910, Herman Fokker mengirim anaknya ke Jerman untuk mengambil pendidikan mesin mobil di Sekolah Teknik Bingen. Karena Fokker muda lebih tertarik dengan kapal terbang, dia pun pindah sekolah ke Erste deutsche Automobil-Fachschule di Mainz, Jerman. Pada Desember 1910, dia membangun pesawat pertamanya yang bernama de Spin atau the Spider atau si Laba-laba.

Tapi si Laba-laba tak berumur panjang. Di akhir Desember 1910, pesawat itu hancur waktu diterbangkan rekan bisnisnya yang menabrak pohon. Kala membangun pesawat kedua, Fokker mendapat izin pilot. Dengan begitu dia bisa mengendarai pesawatnya sendiri. Tapi Spin II juga hancur karena jatuh pada Mei 1911.

Fokker kemudian menjadi terkenal. Di negaranya, Belanda, Anthony Fokker menjadi pesohor setelah terbang mengelilingi menara Sint-Bavokerk di Haarlem, 31 Agustus 1911. Waktu itu dia memiloti Spin versi ketiganya. Bahkan Spin III ini dibeli Jerman pada 1913.

Lelaki ini semakin terkenal kala ia menerbangkan pesawatnya di perayaan ulang tahun Ratu Wilhelmina. Pada 1912, Fokker pindah ke Johannisthal, dekat Berlin, dan mendirikan perusahaannya sendiri: Fokker Aeroplanbau. Sejak itu dia menciptakan pelbagai jenis pesawat.

Sepanjang Perang Dunia I, Pemerintah Jerman mengambil alih pabrik Fokker. Sejak itu, Anthony Fokker mulai merancang kapal perang untuk Angkatan Udara Jerman. Hasilnya ada 700 pesawat yang dibuat khusus untuk Perang Dunia I. Selain membuat pesawat, Fokker juga ahli menerbangkan pesawat. Karena itu dia kerap melakukan demonstrasi terbang.

Usai Perang Dunia I, Anthony Fokker pulang kampung. Di Belanda, dia mulai membangun perusahaan penerbangannya: Dutch Aircraft Factory, pendahulu Fokker Aircraft Company. Saat itu Jerman-Belanda tengah melakukan pelucutan senjata besar-besaran. Tapi Fokker tidak pulang ke rumah dengan tangan kosong. Dia berhasil memboyong suku cadang pesawat militer D.VII dan C.I. Hasilnya dia bisa membangun pesawat baru untuk masyarakat sipil.

Pada 25 Maret 1919, Fokker menikah dengan Sophie Marie Elisabeth von Morgen di Haarlem. Tapi perkawinan itu cuma bertahan empat tahun saja. Di 1922, Fokker memutuskan hijrah ke Amerika Serikat dan mendirikan Fokker Aircraft Corporation. Dia juga mengubah kewarganegaraan menjadi penduduk Amerika dan menikahi Violet Austman pada 1927. Tinggal di Amerika selama sembilan tahun, Fokker meninggal di usia 49 tahun. Dia tewas akibat penyakit pneumococcal meningitis pada 1939.

CORNILA DESYANA | BERBAGAI SUMBER

http://www.tempo.co/read/news/2012/06/21/093412119/Pencipta-Fokker-Lahir-di-Blitar

Tuesday, 15 May 2012

Pamflet Kontroversial di Jogja


Sepulang dari urusan di Kelurahan, mata saya agak terganggu dengan sebuah pamflet propaganda yang tertempel di sebuah tembok Jalan Affandi. Saya pikir pamflet sebuah iklan, tapi ternyata memiliki pesan lain. Kata-katanya sungguh tidak enak dibaca, terutama dua kata di atas sendiri, yaitu Warga Jogja.
Pertanyaannya, apakah betul semua warga Jogja menolaknya. 






Sunday, 6 May 2012

Soekarno, Nasionalisme, dan Marxisme

Konsep Marxisme ternyata mempengaruh Soekarno dalam nasionalismenya. Hal ini tampak dalam partainya, yaitu PNI (Partai Nasional Indonesia). PNI menyusun strategi perjuanganya, yaitu bersifat non-kooperatif, massa aksi, dan ‘machtsvorming’ pembentukan kekuatan revolusioner. Bentuk-bentuk tersebut merupakan konsepsi perlawanan kaum proletar dalam marxisme. (Soekarno: Pemikiran Politik dan Kenyataan Praktek, hlm 46). Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara Marxisme murni Marx dan konsep marxis yang digunakan PNI, dalam hal perlawanan kaum tertindas. Marx menyebut kaum buruh adalah proletariat sedangkan dalam PNI, Soekarno menyebut kaum Marhaen. Perlawanan Marx adalah para kaum borjouis pemilik modal, sedangkan Soekarno melawan imperialisme dan kolonialisme.

Soekarno

Hal inilah yang membenarkan penulis untuk menyebut Soekarno adalah marxis aktif yang tidak menerima ajaran Marx begitu saja. Inilah salah satu keunikan dari Soekarno yang mempunyai ketiga jiwa yang sungguh mempengaruhinya, yaitu Nasionalisme, Marxisme, dan Islamisme.

Revolusi yang dianut PNI bukanlah revolusi yang radikal, yaitu mengadakan pemberontakan atau melanggar hukum. Tetapi, menurut Soekarno adalah radikalisme semangat, radikalisme pikiran, radikalisme sepak-terjang, dan radikalisme dalam segala sikap lahir dan bathin. "Revolusioner dalam makna kami, sama sekali tidak berarti mau membikin pemberontakan. Kata revolusioner dalam makna kami adalah berarti “radikal” mau mengadakan perubahan secepatnya. Revolusi menurutnya akan dibuat oleh ‘machtsvorming’ akan dibentuk oleh kekuatan ‘Marhaen’, yaitu rakyat jelata," inilah yang disesuaikan leh bung Karno dalam penggunaan kaum Marhaen dalam konsepsinya melalui ajaran Marx. Hal itu tercetus karena pada waktu itu, zaman kita bukan zaman indrustri melainkan kolonialisasi Belanda. Hal inilah yang membedakan konsepsi Soekarno dalam memahami ajaran Marx dengan mengambil jiwa atau rohnya saja.

Soekarno hanya ingin memberi warna konsep nasionalismenya sebagai suatu konsep yang merangkum semua aliran yang mewarnai masyarakat Indonesia. Hal itu terjadi karena berkembangnya aliran-aliran pemikiran yang berhaluan marxisme, agama, dan nasionalisme maka cita-cita Soekarno adalah menyatukan ketiga aliran tersebut. Berikut cuplikan pendapatnya:

“Marxisme, Islamisme, dan Nasionalisme: Adapun teori Marxisme telah berubah pula. Marx dan Engels bukanlah nabi-nabi yang bisa mengadakan aturan-aturan untuk segala zaman. Perubahan taktik dan perubahan teori itulah yang menjadi sebab, kaum Marxist yang 'muda', 'baik', 'sabar', ataupun yang 'keras', terutama di Asia, mau menyokong pergerakan nasional yang sungguh-sungguh. Itulah sebabnya, maka pergerakan marxisme di Indonesia ini harus pula menyokong pergerakan-pergerakan kita yang nasionalistis dan Islamistis yang mengambil otonomi itu sebagai maksudnya pula.” (Soekarno: Pemikiran politik dan Kenyataan Praktek, hlm 49-50).

Bagi Soekarno, Marxisme hanya merupakan salah satu unsur saja dari marhaenisme. Di sekitarnya dihimpun unsur-unsur lain, yaitu nasionalisme, kepercayaan pada Allah, dan perjuangan menuju persatuan total (Bernhard Dahm, Soekarno dan Perjuangan, Hlm 189). Pendapatnya ini memperlihtakan apa yang dicita-citakan Soekarno dalam menyatukan ketiga aliran itu. Soekarno berusaha mencari titik-titik yang bisa mempertemukannya. Kenyataan itu merupakan kenyataan yang berkembang dalam masyarakat pada masa itu. Kelak ketiganya, akan diwadahi oleh Bung Karno dalam Nasakom yang akan menjadi tiang Demokrasi Terpimpin-nya. Bagi penulis ini, bukti-bukti itu membenarkan bahwa jiwa atau roh Marxisme tidak pernah lepas dari Soekarno dalam menentukan pikiran-pikirannya.

Demokrasi Terpimpin Soekarno pada tahun 1958 dengan ideologinya Manipol (Manifesto Politik) dibangkitkan lagi dengan semangat revolusi, keadilan sosial, dan retooling lembaga-lembaga dan organisasi demi revolusi yang berkesinambungan (Bicklef, 1998). Manifesto politik tersebut ditambahi dengan kata Usdek yang merupakan singkatan dari UUD 45, Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, Kepribadian Indonesia, kemudian disingkat menjadi "Manipol Usdek" yang direalisasikannya.

Demokrasi Terpimpin dengan Manipol Usdek-nya bisa memperlihtakan adanya unsur dari Marxisme, yaitu mengenai Sosialisme ala Indonesiannya. Dapat disimpulkan bahwa Soekarno adalah seorang Marxis, tetapi mengubahnya menjadi Marxis ala Indonesia. Hal ini berarti Soekarno tidak menerima secara utuh Marxisme,  melainkan disesuaikannya dengan pribadi bangsa Indonesia. Lagi-lagi, Soekarno adalah Marxis aktif (menerima ajaran Marxist, tetapi juga mencari alternatif lain yang cocok untuk bangsa Indonesia).

Thursday, 3 May 2012

Sedikit Tentang Mural

"Mural dan Graffiti itu seperti anjing pipis." - Hilarius Taryanto, Dosen Antrhopologi UI.
Barangkali, maksud dari ungkapan itu adalah sebuah mural hanya akan muncul sekali dengan meninggalkan pesan berbentuk tanda berupa lukisan. Begitu saja, tanpa harus dirawat, dilindungi, atau diabadikan untuk terus tergambar di dinding atau tembok karena seiring waktu, cuaca akan menghapusnya. Mural adalah seni kontemporer untuk melepas daya kreatif agar  menjadi sebuah karya seni.
Ketika melihat  mural, mata kita akan diajak berdialog tentang apa makna dari goresan yang terkadang membentuk sebuah objek itu. Barangkali, penggiat mural akan lebih puas bila mengomunikasikan melalui sebuah mural. Inilah keanekaragaman seni rupa masa kini, banyak media yang bisa digunakan.

Mural adalah sejenis komunikasi visual yang begitu banyak ditemui akhir tahun 2000-an ini. .Selain menyiratkan karya seni  yang apik, mural  kini telah menjadi trend di berbagai kota untuk mengisi kekosongan ruang di dinding kota atau beton-beton jalan layang yang kosong. Warna-warnanya yang menyolok mata, begitu menggoda mata untuk meliriknya, bahkan mengamatinya berlama-lama. Awal mulanya, mural adalah seni pemberontakan dan protes sosial.  Kita bisa melihat ketika perang kemerdekaan tahun 1945, misal para pejuang menggambar bendera Merah Putih di tembok-tembok kota atau gerbong. Tujuannya, yaitu untuk membuktikan bahwa perjuangan masih akan terus ada.


Seiring zaman, grafiti dan mural diadopsi untuk pesan komersial ataupun kampanye lingkungan. Lukisan mural ini sering diselingi kampanye lingkungan, kritik sosial, dan pesan sosial dengan warna yang hidup. Kini, mural pun banyak dipakai provider untuk mengiklankan  produknya. Coba lihat saja pemandangan di sekitar kita. 



Kita pasti sepakat bila  Jogja adalah kota mural. Hampir di setiap sisi jalan atau sudut kota, pengguna jalan akan menemui berbagai macam mural dengan berbagai tema dan konsep, misal pada penyangga jembatan fly over di seluruh Jogja. Motif goresannya pun bermacam-macam, misal motif batik, objek-objek tertentu,  hanya ornamen garis-garis, dll.



 C



oba Kinidiselingi kampanye lingkungan dan pesan sosial dengan warna mencolok.